logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 02 Juli 2005 WACANA
Line

tajuk rencana

Pelajaran Penting dari "Gloriagate"

- Permintaan maaf tidak serta merta menyurutkan niat oposisi untuk meng-impeach Presiden Filipina Gloria Macapagal Arroyo. Seperti diberitakan, Arroyo akhirnya mengaku salah dan meminta maaf kepada rakyat atas kecurangannya pada pemilu lalu, saat terpilih sebagai presiden untuk masa bakti kedua. Dia terlilit masalah lain yang tak kalah pelik: suaminya, Jose Miguel Arroyo, tersangkut dalam bisnis judi ilegal yang membuat keluarga presiden menjadi soroton tajam dalam beberapa bulan terakhir. Untuk meredakan kecaman serta sorotan, Miguel memutuskan untuk pergi ke Amerika Serikat dan tinggal di negara tersebut sampai isu judi mereda. Tinggallah kini Gloria dan orang-orang dekatnya, bersiap-siap menerima buntut dari skandal tersebut.

- Terlepas dari dampak terhadap posisinya sebagai presiden, kesediaan Arroyo mengakui kesalahan dan meminta maaf, rasanya patut diacungi jempol. Tidak banyak pemimpin, khususnya di kawasan Asia, yang berdada lapang dan besar hati seperti itu. Di banyak negara, pemimpinnya selalu mati-matian membela diri meskipun telah berbuat kesalahan. Sebagai negara Asia Tenggara yang kali pertama menerapkan demokrasi seutuhnya, Filipina menjadi tolok ukur di kawasan ini. Arroyo telah memberikan contoh bagaimana seharusnya seorang pemimpin demokratis berperilaku. Sekarang tinggal terserah kepada parlemen Filipina, langkah apa yang akan diambil selanjutnya. Akankah impeach dilancarkan, ataukah Presiden Arroyo dimaafkan.

- Barangkali perlu dibentuk tim investigasi untuk mengetahui, sejauh mana percakapan telepon antara Arroyo dan seorang pejabat tinggi Komisi Pemilu, menjelang pemilu lalu telah memberi pengaruh. Dengan kata lain, apakah kontak telepon itu - yang disadap dan kemudian dibeberkan kepada umum - membuatnya terpilih kembali sebagai orang nomor satu Filipina. Jika ya, pihak oposisi sah-sah saja mengajukan impeachment dan Arroyo menanggung segala risikonya. Mulai sekarang, presiden seyogianya mulai menimbang-nimbang sebesar apa kesalahan yang telah dia buat. Jika menilai dirinya patut dipersalahkan, dia lebih baik memilih jalan yang telah diambil Richard Nixon dalam skandal Watergate: memilih mundur daripada dipecat.

- Posisi Arroyo dalam Gloriagate, demikian pers Filipina menyebutnya, semakin kritis gara-gara isu judi gelap yang dituduhkan kepada Jose Miguel Arroyo, sang "Bapak Negara". Isu tersebut jelas akan dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh para oposan. Keputusan Miguel pergi ke AS, oleh sebagian orang bisa dipandang sebagai pengasingan diri atau kabur dari kemungkinan penyidikan dan tuntutan hukum. Arroyo berkilah, suaminya memutuskan hidup di AS demi menjaga kredibilitas dirinya sebagai presiden. Tetapi, mana mungkin kredibilitas dapat dijaga jika suatu keburukan - kalau bisnis judi ilegal dianggap hal buruk - telah terjadi. Dalam istilah kedokteran, tindakan kuratif (bukan lagi preventif) sudah harus diambil, karena penyakit telah tersebar.

- Perkembangan terakhir, Menteri Pertanian Arthue Yap mengundurkan diri. Melihat kecenderungannya, tekanan terhadap Arroyo tampaknya makin tinggi. Kubu oposisi kini menemukan sosok "pemersatu", janda mendiang Fernando Poe Jr, Susan Roces. Aksi kekuatan rakyat memang belum tampak lagi, setelah dua kali muncul. Tetapi potensinya besar, apalagi jika oposisi terus mengompori. Mengingat kejadian-kejadian masa lalu, yang menunjukkan setiap pergantian kepemimpinan di Filipina selalu diiringi oleh aksi kekuatan rakyat, kali ini pun aksi serupa tampaknya bakal dihadapi Arroyo. Jadi arifkah seandainya presiden meniru jalan yang telah diambil Nixon: turun takhta dengan harkat dan harga diri tetap terjaga, sekaligus memberi contoh positif bagi para pemimpin lain Asia?

- Ada dua pelajaran yang dapat ditarik. Pertama, jangan pernah lupa demokrasi berarti juga keterbukaan. Tidak ada yang dapat ditutup-turupi dari proses demokrasi. Bagi para politikus yang menjadi kandidat dalam suatu pemilihan, janganlah melakukan fraud! Bukan saja tindakan tersebut akan ketahuan, tetapi juga bisa berbuntut dengan dianulirnya kemenangan yang telah dicapai. Demokrasi, karenanya, juga harus berarti kejujuran. Kedua, jangalah Ibu Negara atau Bapak Negara, juga istri atau suami seorang pejabat negara, melakukan binis tidak layak yang memanfaatkan kedudukan sang istri atau suami. Kita bangga pada presiden kita, yang dengan tegas menyatakan Ibu Negara Kristiani SBY hanya akan berkiprah dalam bidang pendidikan dan sosial.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA