| Sabtu, 02 Juli 2005 | WACANA |
tajuk rencanaJumlah Siswa Tak Lulus Meningkat- Jumlah siswa SMA/MA dan SMK Jateng yang tidak lulus dalam ujian nasional (UN) 2005 periode I mencapai 25,59 persen, atau 71.153 siswa dari 278.048 siswa. Meskipun nuansanya berbeda, tetapi tahun ini memperlihatkan keadaan yang tidak lebih baik dari sebelumnya. Nilai UN saat ini benar-benar asli, dan tidak dikenal istilah konversi. Aslinya kelihatan, bahwa memang seperti itulah kemampuan seluruh siswa yang mengikuti UN tahun ini. Keadaan seperti ini tentu menimbulkan keprihatinan sekaligus juga kecemasan bahwa keadaan belum berkembang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Setidaknya ada tiga mata pelajaran yang hasilnya jelek yakni matematika, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. - Apa artinya lebih jauh dari menurunnya derajat kelulusan siswa pada tahun ini ? Kenyataan pendidikan di sini memang belum menjadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Banyak aspek yang menyebabkan keadaan menjadi memburuk seperti sekarang ini. Kita merasakan benar, bagaimana sistem pendidikan yang semakin kacau, di mana untuk ukuran perguruan tinggi saja bisa diberlangsungkan di ruko-ruko, dilangsungkan di akhir pekan dengan jam pemadatan yang tidak tanggung-tanggung, sampai bagi-bagi ijazah dan gelar. Gelar diobral, sehingga setiap orang bisa memasang gelar sampai lebih panjang dari namanya sendiri. Keadaan ini mengesankan, pemerintah tidak begitu bertanggung jawab terhadap dunia pendidikan. - Kurikulum telah berkembang seperti bus kota. Semua masuk, sehingga berjalan terseok-seok. Beberapa saat lalu diberlakukan sekolah sampai sore, kemudian diubah lagi kembali seperti semula. Buku pelajaran bergantian materi, tetapi siswa tidak berkembang menjadi lebih pintar dan cerdas. Mereka berjalan di tempat, dan manakala ada siswa yang super jenius menjadi berkembang setelah diasuh oleh para profesor untuk kemudian menjadi juara olimpiade matematika dan juga fisika. Pemahaman materi kurikulum di setiap guru bahkan tidak merata. Seperti juga muridnya, banyak guru yang tidak memiliki standar dalam memberikan materi pelajaran. Akibatnya, guru saja tidak menguasai materi secara memadai dan mampu menyampaikan dengan baik, apalagi siswanya. - Kelas yang padat dan pengap, areal bermain yang sempit, guru yang kurang memiliki disiplin, siswa yang sekadar hadir sekolah, orangtua yang tidak lagi bisa secara intensif memperhatikan pendidikan anaknya di sekolah, adalah sekian banyak hal yang mempengaruhi performa. Internal sekolah seperti itu, dibarengi lagi dengan sistem pendidikan nasional yang memiliki kepekaan dalam menyikapi keunggulan dan kelemahan peserta didik. Sejak dulu, matematika selalu menjadi momok peserta didik, tetapi tidak ada jalan keluar yang brilian untuk mengatasi keadaan ini. Setiap masuk kelas, seluruh siswa siapa pun dia dan latar belakangnya bagaimana harus mendapatkan dan bisa matematika. Jika ternyata pemahaman siswa lemah, tak ada jalan keluarnya. Padahal, nilai ini menentukan kenaikan maupun kelulusan. - Maka, jika kemudian matematika tetap menjadi momok dalam ujian nasional kali ini menunjukkan keadaan yang tidak berubah dalam sistem pendidikan nasional. Repotnya, guru pengampu banyak yang justru bangga ketika mata pelajarannya menjadi momok. Bukan sebaliknya menjadi prihatin, sehingga mereka mengubah sistem penyampaian agar menjadi lebih familiar, mudah diterima dan menyenangkan. Mengubah matematika dari pelajaran momok menjadi menyenangkan, harusnya merupakan tantangan yang ditaklukkan. Pelajaran ini menjadi semakin sulit lagi, ketika berhadapan dengan rata-rata peserta didik ataupun guru yang struktur logikanya lemah. Penyampaian materi ajar matematika sungguh membutuhkan apresiasi yang tinggi agar mata pelajaran ini menjadi disukai, bukan dibenci. - Jika siswa yang tidak lulus ujian meningkat di tahun ini, sungguh memperlihatkan bahwa fakta itu hanyalah akibat dari semua faktor yang diuraikan di atas. Kenapa Bahasa Indonesia menjadi asing di mata siswa, justru ketika mereka sendiri dalam keseharian menggunakannya. Memang masih ada satu kesempatan lagi menempuh ujian tahap II terhadap mereka yang tidak lulus. Maka, inilah kesempatan kedua untuk membuktikan kemampuan diri dari para siswa. Sejenak, lupakan semua hura-hura, nonton tayangan TV yang tidak terlalu perlu, hindarkan begadang. Konsentrasilah untuk menuju pembuktian kemampuan kali kedua. Jika ini pun gagal, ambil hikmahnya. Jika berhasil, syukurilah dan asah terus kemampuan untuk menuju jenjang pendidikan berikutnya. |