logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 02 Juli 2005 NASIONAL
Line

Perang Mulut Warnai Rapat Gabungan DPR

JAKARTA - Perang mulut kembali terulang dalam rapat gabungan antara enam menteri dengan komisi-komisi di DPR, saat Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR Burzah Zarnubi menganggap Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Nanggroe Aceh Darussalam (BRN) yang dipimpin oleh Kuntoro Mangkusubroto melakukan contempt of parliament (menghina dewan-Red).

Rapat gabungan itu sendiri membahas tentang pelaksanaan rekonstruksi dan rehabilitasi di Aceh. Awal dari perang mulut itu dimulai saat Kuntoro menyampaikan paparannya, yang agak 'menyentil' anggota DPR. Kuntoro mengatakan tentang adanya beberapa orang anggota DPR yang ingin bertemu dengan BRN di luar tempat dan waktu yang resmi.

Spontan, sentilan Kuntoro ini mendapat reaksi yang keras dari anggota DPR. Bahkan, Burzah Zarnubi menganggap Kuntoro menghina DPR.

"Ketua BRN tidak pernah mengindahkan permintaan kami untuk melaporkan kegiatannya selama ini di Aceh. Kami meminta kepada pimpinan untuk menetapkan Ketua BRN melakukan contempt of parliament. Satu kata saja, pimpinan, contempt of parliament," teriak Burzah.

Menanggapi hal itu Kuntoro mengakui memang melarang para deputi untuk bertemu setengah kamar. "Saya memang melarang para deputi saya untuk bertemu dengan anggota DPR setengah kamar, atau satu kamar atau di tempat lain. Kami ingin pertemuan terbuka, dan tidak ingin (pertemuan) tertutup," katanya tegas.

Namun, jawaban itu justru memancing emosi salah seorang anggota DPR. "Demi Allah, demi Rasulullah, saya tidak pernah meminta bertemu dengan BRN dalam kapasitas pribadi, apalagi mau meminta uang atau mengambil keuntungan," kata salah seorang anggota dengan nada tinggi menanggapi jawaban Kuntoro tersebut.

Memprotes

Anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar Yorrys T Raweyai juga memprotes jawaban Kuntoro. "Jika memang ada anggota DPR yang ingin bertemu dengan Anda (Kuntoro), sebutkan namanya sekarang juga secara terbuka, di sini, di forum yang terhormat ini," tantang Yorrys.

Kuntoro balas menjawab, hal itu akan disampaikannya kepada pimpinan DPR secara tertutup dan tidak akan dipublikasikan. Ruang sidang menjadi riuh dan dipenuhi oleh interupsi. Muhaimin Iskandar dan AS Hikam yang memimpin sidang berusaha menenangkan anggota DPR yang emosinya meninggi.

Ketegangan mencair ketika pimpinan sidang Muhaimin Iskandar menyekors sidang untuk bersiap menunaikan shalat Jumat.

Usai sidang, kepada pers, Kuntoro menyatakan integritasnya tidak hanya diberlakukan kepada orang luar, melainkan juga kepada orang dalam.

"Baik kepada deputi atau siapapun juga, saya katakan kalau gaji yang kami terima itu cukup. Kami tidak boleh lagi dapat (menerima) uang, seperti honor. Kami hidup dari gaji yang kami terima. Kami tidak bermaksud untuk menghina DPR, tapi memang ada sinyalemen tentang adanya rapat di luar yang resmi," jelasnya. (sas-49d)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA