| Sabtu, 02 Juli 2005 | NASIONAL |
KRL Jakarta-Bogor Kembali NormalJAKARTA- Tabrakan antara kereta rel listrik (KRL) Ekonomi 583 dan KRL 585 tidak menyurutkan animo masyarakat untuk menggunakan jasa transportasi tersebut. Perjalanan KRL Jakarta-Bogor maupun sebaliknya, sejak pukul 05.00 pagi kemarin berjalan normal, setelah petugas PT KAI membersihkan lokasi tabrakan dua KRL ekonomi itu. "Pada pukul 03.00 dini hari jalur sudah bersih, bangkai gerbong pun sudah dievakuasi ke Manggarai. Karena itu, pukul 05.00 WIB jalur dua arah tersebut kembali lancar," kata Sujadi. Meski demikian, Sujadi meminta agar peminat dan calon penumpang KRL di jalur itu lebih bersabar karena lalu lintas perjalanan KRL berkurang dari biasanya. Setidaknya, 12 gerbong harus istirahat karena rusak dan sisanya dicek ulang sebelum dioperasikan kembali. "Jadi, perjalanan KRL Jakarta-Bogor berkurang sekitar 20-30% karena tak ada gerbong cadangan," katanya. Pascatabrakan, Sujadi tidak melihat adanya tanda-tanda penurunan jumlah penumpang di jalur itu. Berdasarkan laporan di beberapa stasiun, penumpang tetap membeludak. "Kami tetap dibanjiri penumpang KRL Jakarta-Bogor. Jumlahnya berdasar tiket yang dijual per hari 500.000 orang, belum termasuk 30% yang tidak membeli tiket (free rider)," katanya. Biaya Penguburan Sujadi juga menyatakan telah mengirim utusan kepada keluarga korban meninggal untuk menyampaikan bantuan biaya penguburan Rp 4 juta untuk dua korban meninggal. "Bantuan biaya penguburan ini lebih besar dari biasanya yang hanya Rp 1 juta," katanya. Dia memastikan, berdasarkan data petugas PT KA yang dikirim RS Pasar Rebo, RS Siaga dan RS Fatmawati, korban luka hingga Jumat dini hari tercatat 96 orang. "Satu orang korban luka berat yang kakinya terpaksa diamputasi, Bunga, saat ini dirawat di RS Cipto Mangunkusumo," katanya. Tentang santunan dari pihak Asuransi Jasa Rahardja, Sujadi berjanji akan mengupayakan turun lebih cepat, dengan syarat administrasi para ahli waris juga lengkap. "Kita dan Jasa Raharja ada komitmen untuk mempercepat santunan. Untuk korban meninggal, biasanya penumpang mendapat Rp 10 juta, sedang masinis Rp 36 juta." Rombak Total Berkaitan dengan berbagai kondisi yang menimpa KAI, Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar menegaskan, jajaran perkeretaapian harus dirombak total dan mernyeluruh. Hal ini terkait dengan sangat buruknya pelayanan KAI terhadap masyarakat," katanya. Menurut Ketua DPP PKB itu, dia sudah menerima laporan sementara dari Panitia Kerja Komisi V DPR yang membidangi masalah perhubungan, dalam hal ini perkeretaapian. "Dari hasil temuan Komisi V itu, ternyata kondisi KAI sangat kacau-balau. Hingga saat ini, Komisi V masih menelusurinya. Hal itu kan bukti kesemrawutan total KAI," tambahnya. Secara terpisah, anggota Panja Kereta Api Komisi V DPR Taufik Kurniawan mengatakan, kecelakaan kereta api untuk yang kesekian kalinya itu membuktikan manajemen KAI betul-betul parah. "Kinerja KAI yang begitu parah sudah pasti berpengaruh pada keselamatan penumpang," katanya. Wakil rakyat dari Jawa Tengah itu juga mengingatkan, bukan tidak mungkin kecelakaan yang lebih besar bisa terjadi jika masalah kereta api ini tidak segera dibenahi secara menyeluruh. Dia juga menyatakan kecelakaan yang menimpa jenis angkutan penumpang kelas ekonomi ini sekaligus membuktikan bahwa subsidi untuk kelas ekonomi tidak bisa dikelola dengan baik. Menurutnya, berbagai kecelakaan kereta api berikut persoalan yang melilit masalah KAI telah menjadi perhatian Panja Kereta Api yang saat ini hampir menyelesaikan tugasnya. "Waktu terjadi kecelakaan kemarin, rapat Panja Kereta Api sedang membahas rekomendasi yang akan dikeluarkan." Di tempat terpisah, berdasarkan pantauan Suara Merdeka langsung di Rumah Sakit Siaga, seluruh korban kecelakaan yang sebagian besar menderita patah tulang, sudah berada di ruang perawatan di lantai III. Jumlah korban luka-luka di rumah sakit itu 11 orang, namun yang masih dirawat tinggal 4 orang, yakni Ida Nurhayati, Retno Kartika Dewi (bayi Ibu Ida), Steven dan Dian Santi Prihantini. Ida Nurhayati yang melahirkan di Rumah Sakit Siaga Kamis (30/06) atau pascakecelakaan kereta api, masih tergolek lemas. Suaminya, Slamet kepada Suara Merdeka, menyatakan bersyukur dia sekeluarga selamat. "Saya ngeri Mas melihat situasi kecelakaan Kamis kemarin. Saya lihat ada seorang perempuan dengan usus terburai dan kaki terpotong," katanya. Saat kejadian berlangsung, dia hanya menanyakan anaknya: "Adit mana Ma?". Dia pun kini trauma naik KRL. "Namanya musibah mas, tidak bisa diduga," katanya sambil mengatakan, istrinya sedang tidur pulas sehabis bertemu dengan anaknya untuk kali pertama semenjak dilahirkan Kamis kemarin. Korban lain yang masih belum sadarkan diri adalah Steven dan Dian Santi Prihantini. Berbagai selang infus masih terpasang di tubuh Steven. Kondisi wajahnya sudah mulai membaik setelah malam hari sebelumnya, bibir remaja malang yang hancur itu dioperasi. (bu,aih, sas-48m) |