| Sabtu, 02 Juli 2005 | NASIONAL |
Kecelakaan KRLEnam Saksi DiperiksaJAKARTA - Kapolda Metro Jaya Irjen Polisi Firman Ghani menyatakan kepolisian sudah melakukan pemeriksaan terhadap enam orang saksi, terkait dengan peristiwa serudukan kereta rel listrik (KRL) Ekonomi 583 dan KRL 585. Hal itu dikatakan Firman Ghani saat merayakan HUT Ke-59 Bhayangkara di Cikeas Bogor, Jumat (1/7). "Masih belum ada tersangkanya," tandasnya. Keenam orang saksi itu, menurut Firman, adalah dua orang masinis, pengatur lalu lintas dan beberapa petugas kereta api lainnya. "Jika ada indikasi keterlibatan, akan segera ditangkap." Dia juga mengimbau semua pihak untuk sabar dalam menunggu proses penyidikan. "Kami akan segera umumkan apabila ada perkembangan terbaru," tandasnya. Sementara itu, hasil temuan sementara Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyebutkan, telah terjadi pelanggaran sinyal sebelum kecelakaan KRL Jabotabek, Kamis (30/6). "Kenapa terjadi pelanggaran, sampai saat ini masih kami teliti," kata Ketua KNKT Setiyo Rahardjo, di kantornya, Jumat (1/7). Menurut penilaiannya, ada beberapa hal yang bisa menyebabkan pelanggaran, di antaranya kelalaian masinis KRL 583 atau kesalahan pengendali perjalanan. Namun berdasar informasi yang terkumpul, di daerah itu memang sering terjadi gangguan sinyal. "Seperti sinyal menyala merah tetapi ternyata kondisi aman," katanya. Komite juga sudah membentuk tim khusus untuk melakukan investigasi terhadap kecelakaan yang menewaskan sedikitnya dua orang itu. Atas permintan Menteri Perhubungan Hatta Radjasa, komite menyanggupi menyelesaikan investigasi tersebut paling lambat satu pekan. KRL Pakuan Sementara itu, untuk mengetahui penyebab peristiwa kecelakaan KRL No 585 dengan KRL No 583 di daerah antara Stasiun Tanjung Barat dan Stasiun Pasar Minggu, PT Kereta Api (Persero) juga membentuk tim peneliti khusus. Sebelumnya, Kahumas PT KA Daop I Jakarta A Sujadi menduga KRL Ekspres Pakuan yang mengalami mogok di Stasiun Pasar Minggu itu sebagai pemicu terjadinya tabrakan. "KRL ekonomi yang menyeruduk KRL sejenis yang ada di depannya adalah KRL 583. Kereta ini berangkat dari Stasiun Depok pukul 15.41 WIB, sedang yang ditabrak KRL ekonomi 585, berangkat dari Depok pukul 15.29 WIB," kata Sujadi. Dia menduga, cuaca buruk menyebabkan masinis 583 tidak mampu melihat sinyal yang dipastikan merah karena KRL 585 berhenti di depannya. KRL 585 itu sendiri berhenti karena sinyal di dekat Stasiun Pasar Minggu merah. Sinyal itu menunjukkan merah karena KA Ekpress Pakuan mogok berhenti di Blok 201. Masinis Menyesal Dari RS Pasar Rebo, masinis KRL 583 Acep Darman (45) menyatakan menyesal atas musibah kecelakan yang menyebabkan dua korban meninggal dan puluhan lainnya luka-luka itu. "Saya sudah berusaha keras menginjak pedal rem karena melihat ada kereta lain yang berhenti di depan kereta saya. KRL tidak dapat berhenti secara mendadak, meski sudah saya rem dari jauh. Akibatnya, tabrakan itu tidak terelakkan," kata Acep yang masih dirawat di RS Pasar Rebo, Jakarta Timur, Jumat (1/7). Acep dibawa ke rumah sakit itu dalam keadaan tidak sadar, Kamis lalu. Kedua kaki masinis itu patah, tangan kiri luka sobek, dan dada di sebelah kiri sakit. Sementara itu, dari 59 korban luka-luka yang dirawat di RS Pasar Rebo, 29 di antaranya sudah diizinkan pulang. Hingga Jumat, masih tercatat 28 korban luka-luka yang dirawat di rumah sakit itu, terdiri atas 19 laki-laki dan sembilan perempuan. Dari yang masih dirawat, empat korban di antaranya akan menjalani operasi pada Jumat, yakni Mahmudin, Suhandi, Harjono, dan Nur Friani. Satu korban luka-luka, Bunga Citra Lestari (16) telah dirujuk ke RSCM karena RS Pasar Rebo tidak mampu melakukan amputasi bagian bawah korban. Mengenai korban meninggal, keduanya telah teridentifikasi yakni Jami Astuti (55) dan Muchtar. Pada Kamis malam, keluarga korban sudah membawa jenazah Jami Astuti ke kediamannya di Bojonggede. Jenazah Muchtar pun telah dibawa keluarganya.(bu,aih, sas-48m) |