logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 02 Juli 2005 SEMARANG
Line

Pengusaha Angkutan Keluhkan Rob

SEMARANG- Para pengusaha angkutan barang di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang mengeluhkan rob yang sering menggenangi wilayah itu.

Masuknya air laut ke darat membuat usia kendaraan lebih pendek. Sebab, komponennya gampang rusak akibat sering terkena air laut.

Sekretaris DPC Organda Pelabuhan Tanjung Emas Semarang H MA Sugiyanto, Kamis (30/6) mengatakan hal itu, seusai donor darah dalam rangka ulang tahun ke-43 organisasi tersebut. Aksi sosial itu juga diikuti para pengurus Organda Kota Semarang dan para pengelola perusahaan angkutan di Kota Semarang.

Sugiyanto menuturkan, kendaraan yang masuk ke kawasan pelabuhan kebanyakan jenis truk dan angkutan peti kemas. Kendaraan angkutan barang nonkontainer berjumlah sekitar 1.200 unit dan angkutan kontainer sekitar 950 unit. Sementara kawasan pelabuhan pada saat permukaan air laut pasang sering terendam rob. Genangan air asin juga terdapat di jalan-jalan sekitarnya, termasuk Jl Ronggowarsito dan Jl Mpu Tantular.

''Akibat terkena air rob, komponen kendaraan rusak lebih cepat,'' kata dia.

Dia memberikan contoh, komponen kendaraan yang sering mengalami kerusakan adalah kampas rem. Harga komponen tersebut saat ini sekitar Rp 300.000/set.

Sementara roda-roda di bagian kepala trailer membutuhkan paling sedikit enam set kampas rem dan di roda-roda bagian belakang membutuhkan delapan set.

Permodalan

Seandainya kendaraan-kendaraan itu tidak terkena rob, setiap kendaraan bisa ganti kampas rem setahun sekali. Karena sering terkena air rob, usia komponen itu hanya enam bulanan.

Padahal selain rem, masih ada komponen lain yang harus sering diperbaiki. Seperti chasis, gardan, dan komponen-komponen lain yang berada di bagian bawah kendaraan.

Gardan kendaraan yang tidak pernah kena rob, berusia bisa sampai 30 tahun. Sementara kendaraan yang sering menerjang rob, paling hanya 20 tahun.

''Masalah rob ini serius dan mestinya jadi pekerjaan rumah bagi wali kota terpilih,'' ujar dia.

Sementara itu, Ketua Organda Kota Semarang Soeharto mengatakan, pengusaha angkutan saat ini juga banyak yang mendapat persoalan permodalan. Terutama pada saat mereka harus melakukan peremajaan atau pemassalan.

Kesulitan tersebut karena sebagian besar pengusaha angkutan di Kota Semarang merupakan usaha kecil. Dia menyebutkan, jumlah angkutan umum di Kota Semarang sekitar 1.000 unit. Dari jumlah itu, sekitar 70% adalah pengusaha kecil atau memiliki kendaraan kurang dari lima unit.

Pemkot diminta membantu mereka, walaupun berbentuk bukan berupa dana. ''Bantuan pemerintah itu bisa diwujudkan lewat upaya mencarikan kredit lunak,'' kata dia. (G6-60s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA