logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 02 Juli 2005 EKONOMI
Line

Kenaikan Suku Bunga Fed Tidak Pengaruhi IHSG

JAKARTA-Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Jumat (1/7) naik 16,612 poin pada level 1.138,988. Kenaikan indeks seiring memudarnya dampak pengumuman Federal Reserve yang dinilai tidak mengejutkan pasar.

Indeks LQ 45 naik 4,622 poin pada level 251,192, JII naik 4,463 poin pada level 192,347, MBX naik 5,179 poin pada level 306,254 dan DBX naik 0,667 poin pada level 251,512.

Perdagangan di pasar reguler mencatat transaksi sebanyak 10.576 kali pada volume 1.425.099 lot saham senilai Rp 714,584 miliar. Sebanyak 62 saham naik, 58 saham turun dan 243 saham stagnan.

Saham-saham yang naik harganya di top gainer antara lain International Nickel (INCO) naik Rp 450 menjadi Rp 14.600, Astra International (ASII) naik Rp 300 menjadi Rp 13.000, Telkom (TLKM) naik Rp 250 menjadi Rp 5.250, Indosat (ISAT) naik Rp 150 menjadi Rp 5.650, PGN (PGAS) naik Rp 125 menjadi Rp 3.000, BCA (BBCA) naik Rp 50 menjadi Rp 3.650 dan Bank Mandiri (BMRI) naik Rp 40 menjadi Rp 1.540.

Sedangkan saham-saham turun harganya di top loser antara lain Astra Agro Lestari (AALI) turun Rp 50 menjadi Rp 3.925, Pabrik Kertas Tjiwi Kimia (TKIM) turun Rp 50 menjadi Rp 2.750, PP London Sumatra (LSIT) turun Rp 50 menjadi Rp 2.125, Lippo Karawaci (LPKR) turun Rp 10 menjadi Rp 1.640, Lautan Luas (LTLS) turun Rp 10 menjadi Rp 590.

Sebelumnya, Bank Sentral AS, Federal Reserve, kembali menaikkan tingkat suku bunga AS sebesar 25 basis poin menjadi 3,25 persen. Namun keputusan Fed itu tidak mengejutkan pasar karena sudah diduga sebelumnya. Wall Street bahkan langsung rontok setelah pengumuman itu.

Kenaikan ini merupakan rangkaian kenaikan sebesar 25 basis poin untuk kesembilan kalinya. Fed terus menaikkan suku bunganya secara bertahap semenjak tingkat suku bunganya mencapai level terendah dalam 45 tahun terakhir sebesar 1 persen.

Keputusan ini diambil dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang berlangsung Kamis, 30 Juni 2005 waktu setempat, seperti dilansir AFP, Jumat (1/7)

Federal Reserve menilai, perekonomian AS masih cukup kuat untuk menahan hantaman tingginya harga minyak setelah adanya kenaikan suku bunga ini.

Dalam pertemuan ini, FOMC tetap memberi pesan terkait kebijakan moneter yang akan diambil pada pertemuan selanjutnya.

Fed menegaskan akan tetap mempertahankan kebijakan moneter yang "akomodatif" dalam rangka menyokong aktivitas ekonomi.

"Meski harga minyak telah meningkat akhir-akhir ini, ekspansi masih tetap kuat dan kondisi pasar perburuhan tetap meningkat secara bertahap," demikian pernyataan Fed.

"Tekanan terhadap inflasi masih meningkat, namun ekspektasi inflasi jangka panjang masih tetap terkendali," ujar Fed.

Wall Street Anjlok

Saham-saham di bursa Wall Street malah langsung anjlok setelah keputusan Fed tersebut. Dow Jones Industrial Average anjlok 99,51 poin (0,96 persen) ke level 10.274,97.

Nasdaq juga anjlok 11,93 poin (0,58 persen) ke level 2.056,96. Indeks Standard and Poor's 500 turun 8,2 poin (0,71 persen) ke level 1.191,33.

Pasar saham Wall Street saat pembukaan perdagangan pada Kamis, 30 Juni 2005, berjalan flat. Namun setelah pengumuman, saham-saham langsung anjlok.

Michael Metz selaku chief investment strategist Oppenheimer and Co mengatakan, pernyataan FOMC tersebut mengindikasikan bahwa Fed belum tuntas menaikkan suku bunganya.

"Ini sulit untuk dipercaya bahwa mereka (Fed) akan berhenti sebelum mereka memperoleh 3,75 persen, atau bahkan 4 persen. Kami harus mengambil pernyataan soal inflasi dengan sangat serius," kata Anthony Karydakis, chief US economist JP Morgan Asset Managemen. (dtc-59)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA