logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 01 Juli 2005 WACANA
Line

Surat Pembaca

Layanan RS St Elisabeth

Saya pasien thalasemia sejak usia 8 bulan sampai saat ini usia 26 tahun. Dalam kurun waktu tersebut saya ditangani Prof Dr dr AG Soemantri SpAK, dokter spesialis anak pada RS St Elisabeth Semarang. Beberapa waktu lalu saya operasi pengangkatan limpa dan penyelamatan kandungan berusia 4 bulan.

Operasi ditangani tim dokter ahli dan berjalan lancar. Limpa berhasil diangkat dan kehamilan saya diselamatkan. Saat ini usia kehamilan sudah 5 bulan. Saya terima kasih kepada tim dokter Prof Dr dr AG Soemantri SpAK, Prof Dr Noorpramana MSc SpOG KFER, Prof Dr dr Ig Riwanto SpBD, Prof Sunaryo, dan Dr dr C Suharti.

Juga RS St Elisabeth Semarang atas fasilitas dan pelayanan khususnya kepala Ruang Theresia Lt 3 suster Anisseta dan suster lainnya, ayahku Bp Sumedi, Bp/Ibu Wiryo, suamiku Anton Wahyudi, kakakku Agustin Lunawati serta semua orang yang mencintai dan mendoakan aku.

Feria Lusikawati St Arch
Jl Gajah 98 Juwana, Pati

***

Tanggapan Mal Ciputra

Menanggapi Surat Pembaca 25 Juni 2005 yang ditulis Sdri Rinayu Garini, siswa SMA Negeri 1 Semarang, kami Manajemen Mal Ciputra Semarang menyesalkan atas kejadian dan ketidaknyamanan tersebut. Kami telah berusaha untuk menghubungi Sdri namun hingga saat ini belum berhasil. Untuk itu bila ada hal yang ingin disampaikan langsung, bisa hubungi manajemen di telp (024) 8413608.

Selanjutnya hal tersebut akan menjadi perhatian dan masukan bagi kami untuk lebih meningkatkan pelayanan dan kenyamanan pengunjung.

PR Mal Ciputra Semarang
Dody Eko Susilo

***

Terima kasih Ustad Jefri Al Buchori

Tanggal 26 Mei 2005 anakku ditabrak KA di perlintasan Jl Raya Semarang - Demak KM 17,2 Ds Kuripan yang tidak berpalang pintu. Dia meninggal seketika dengan temannya yang turut dalam mobil. Anakku berumur 29 tahun, meninggalkan seorang istri dan seorang anak 3 tahun.

Aku sangat menyesali kepergiannya, aku hampir gila. Setiap hari hanya menangis dan menangis, bahkan untuk bekerja pun aku rasanya tidak mampu lagi. Padahal aku pemimpin perusahaan yang sedang berkembang bersama almarhum dan juga seorang pengajar/penceramah.

Sebagai muslim yang sudah berhaji, harusnya aku bisa mengontrol diri, tapi aku malah sempat berburuk sangka kepada Allah. Anakku adalah anak yang baik, bersosial tinggi, tidak sombong dan selalu rendah hati walau dia hidup di lingkungan yang serba cukup.

Ternyata Allah memberikan kasih sayangnya kepadaku. Ustad Jefri Al Buchori banyak menasihati mengenai kehidupan ini. Dia memang masih muda, tapi nasihatnya bisa menggetarkan hati. Aku merasakan betapa banyak dosa yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah rambutku.

Memang PT K A merupakan perusahaan yang punya dispensasi istimewa. Setiap menabrak orang tidak mendapat sanksi, bahkan anakku yang sudah almarhum menjadi tersangka. Apakah setiap lintasan kereta api yang tidak berpalang pintu buatan Pemkot.

Kata pegawai PT KA, lintasan yang tidak berpalang pintu merupakan tanggung jawab Pemkot dan jalan tersebut termasuk jalur liar. Siapa yang bersalah, orang yang lewat, penduduk liar di sepanjang rel atau Pemkot. Lantas hukum macam apa yang dianut Indonesia.

Yang ingin saya tanyakan, jika ada keluarga pejabat PT KA ditabrak KA akankah diperlakukan sama seperti nasibku, atau mungkin mendapat ganti rugi. Semoga Allah memberi kekuatan menerima musibah ini, doakan aku pembaca, semoga dapat menerima kenyataan hidup ini.

Hj Sandra Ningtyas NCH SH
JI Kauman Raya 61 Majapahit, Semarang

***

Memaknai Hari Stroke Dunia

Tanggal 24 Juni 2005 tetanggaku dibawa ke rumah sakit karena susah ngomong, susah menggerakkan tangan dan kaki sebelah kanan. Setelah diperiksa dia dinyatakan menderita stroke karena pendarahan di pembuluh darah otak.

Kongres di Vancouver tahun 2004 menetapkan tanggal 24 Juni sebagai hari stroke dunia. Dewasa ini serangan stroke bisa terjadi pada semua lapisan masyarakat tanpa membedakan strata sosial. Data di lapangan menunjukkan, petani, PNS, penarik becak, wiraswastawan/pengusaha semua mungkin bisa terserang stroke.

Memaknai hari stroke, mari kendalikan faktor-faktor yang bisa mencetuskan terjadinya stroke pada diri, keluarga dan kerabat kita. Faktor tersebut antara lain tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes mellitus, penyakit jantung dan kegemukan.

Kita budayakan hidup sehat dengan cukup gerak, cukup mapan, cukup istirahat, banyak senyum dan tidak cepat marah. Untuk yang sudah menderita stroke tentu punya pengalaman dan akan lebih berhati-hati menjaga diri jangan sampai terjadi serangan ulang. Salam sehat.

Hardi
Purworejo Rt 2/Rw 2, Banjarnegara

***

Hak Suara Kami

Kalau warga Jayenggaten Semarang memilih menjadi golput dalam pilkada tanggal 26 Juni 2005 karena merasa kecewa terhadap Pemkot, kami sekeluarga terdiri dari 6 orang yang ingin menyalurkan hak justru dipaksa menjadi golput karena tidak mendapat undangan.

Yang menyakitkan dan membuat kami merasa diperlakukan tidak adil adalah seluruh warga se-RT termasuk (ini yang lucu) yang sudah meninggal diberi undangan, kecuali kami sekeluarga. Hal ini sudah dua kali kami alami sejak pilpres putaran kedua.

Namun saat itu kami dapat menggunakan hak pilih setelah gigih berjuang dan dipingpong kian ke mari hanya untuk memperoleh undangan mencoblos. Untuk pilkada kali ini, kami sengaja tidak berusaha mendapatkan undangan yang seharusnya kami terima.

Kami penasaran dan bertanya-tanya apa latar belakang kasus yang harus kami alami untuk kedua kalinya ini. Harapan, semoga pihak yang berkompeten menjelaskan mengapa hal ini bisa terjadi.

AM Tony Kristianto Utomo
Jl Muara Mas Timur 69, Semarang

***

Pelepasan Siswa

Tanggal 21 Juni 2005, hari yang berkesan bagi siswa-siswi kelas 3 Dominico Savio Semarang yang mengadakan pelepasan siswa. Ada yang saling tukar kenang-kenangan, alamat dan berharap nanti bisa saling kontak. Sebelumnya persiapan terus dilakukan. Undangan yang bagus untuk orang tua sudah dibagikan.

Tempat pelaksanaan di hotel berbintang dan tentu acaranya juga tidak sembarangan. Grup band dari ibu kota akan menghiburnya. Panitia bekerja keras untuk menutup anggaran, yang jumlahnya sekitar Rp 170 juta. Bukan main. Lebih besar dari anggaran tahun lalu.

Saya ucapkan selamat untuk panitia, yang bisa mencari dana sebanyak itu hanya untuk pelepasan siswa SMP. Lalu berapa anggaran yang dibutuhkan untuk tahun depan.Saya sebagai salah satu orang tua murid merasa prihatin. Mulanya saya bangga, anak saya dididik dan lulus.

Tapi pada hari-hari terakhirnya justru diberi contoh gaya hidup yang tidak sesuai dengan anak seusianya. Pelepasan di hotel berbintang dengan mengeluarkan dana besar. Padahal saya berharap acara dilakukan sederhana, mungkin dananya tidak lebih Rp 50 jutaan. Bisa di gedung pertemuan.

Sebagai sekolah favorit tentunya memberi contoh kesederhanaan. Tidak menunjukkan gaya hidup yang tidak sesuai dengan siswa setingkat SMP. Tidak menimbulkan kecemburuan sosial terutama bagi sekolah lain. Membuka mata hati bagi saudara kita yang tidak sekolah, karena tidak bisa membayar SPP.

Apakah kita tidak mengelus dada, bila melihat dan mendengar anak-anak SD/SMP bunuh diri gara-gara belum bisa bayar SPP. Masih banyak kondisi anak-anak seusia sekolah yang membuat prihatin. Sedang kita dengan mudahnya menghabiskan dana itu hanya untuk pelepasan siswa SMP.

Akan lebih mulia bila sebagian dana untuk tali asih bagi mereka yang membutuhkan. Tuhan akan selalu memberkati dan mengabulkan apa yang kita buat bagi orang-orang kekurangan, lemah, miskin dan tertindas. Keterlibatan pihak sekolah dalam kepanitiaan sangat membantu dalam arah dan tujuan.

Agus Suminto
Jl Pusponjolo Tengah 100, Semarang


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA