logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 30 Juni 2005 SALA
Line

Banyak Materi Pelajaran Sejarah yang Salah

KOTA - Pelajaran sejarah yang menyatakan nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunan atau Hindia Belakang, dinilai pakar di bidang arkeologi, Prof Dr Sangkot Marzuki dari Eijkman Institute, salah besar.

Namun, di lapangan teori itu terus diajarkan kepada siswa, meskipun sudah banyak teori lain yang lebih mutakhir dibanding dugaan yang muncul pada zaman kolonial Belanda itu.

"Pelajaran sejarah di Indonesia itu masih memakai teori Belanda, yang menyatakan nenek moyang bangsa Indonesia dari Hindia Belakang (Yunan). Padahal, sudah lama para arkeolog membantah teori itu. Saya tidak mengerti, mengapa siswa-siswa itu masih diajari dengan teori tersebut," ujar Sangkot dalam simposium internasional bertema "The Dispersal of the Austronesians and the Ethnogeneses in Indoensian Archipelago" yang digelar Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Kusuma Sahid Hotel Solo, kemarin.

Menurut Sangkot, teori lama tersebut muncul sejak zaman Belanda, yang pada waktu itu belum ada ilmu genetik maupun linguistik yang tajam.

Teori itu dibuat dengan melihat manusia Indonesia secara fisik, dan disimpulkan berasal dari Hindia Belakang atau kira-kira daerah Burma, karena ada kedekatan ciri fisik.

Teori itu, beberapa kali diperbarui, di antaranya dengan teori dari ilmuwan Taiwan yang menyatakan manusia Austronsia berasal dari daerah di Taiwan. Teori itu didasarkan kepada adanya kemiripan linguistik atau bahasa.

Sangkot sendiri mempunyai dugaan, manusia Austronesia berasal dari daratan Sundaland atau wilayah gabungan kepulauan Jawa yang masih menyatu dengan Sumatera. Hipotesa itu muncul dari adanya bukti arkeologi, seperti hasil fosil yang ditelusur dengan DNA.

"Dari beberapa teori itu, para arkeolog masih memperdebatkan mana yang jauh lebih benar. Namun yang jelas, teori kalau ada yang menyatakan nenek moyang Indonesia datang dari Yunan, itu salah besar," katanya.

Pakar arkeolog itu juga membantah teori lain yang juga diajarkan di sekolah, misalnya asal muasal manusia yang selama ini dinyatakan berasal dari pitecantrophus erectus.

Menurutnya, homo erectus, pitecantrophus erectus, dan lainnya, tidak ada lanjutannya pada manusia sekarang. Mereka telah punah bersama bencana dasyat zaman dulu.

Mereka telah digantikan oleh spesies baru yang diperkirakan datang dari Afrika, yang selanjutnya dikenal sebagai homo sapiens sapiens (manusia yang punya kemampuan berpikir atau cerdas-Red).

Beberapa waktu lalu, bersama beberapa peneliti dari China, mereka mencari bukti yang paling konkret mengenai teori itu. Sebab, dengan pemeriksaan terhadap 12.000 kromosom Y, telah diketahui semua kromosom itu bisa dilacak kembali ke Afrika.

"Dengan hasil itu, kami menduga tidak ada kaitan manusia yang hidup zaman sekarang ini dengan homo erectus ataupun pithecantropus erectus karena mereka telah punah," katanya. (G18-42a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA