logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 28 Juni 2005 NASIONAL
Line

Tiga Pejabat Lama Kalah

  • Pilkada Serentak di Tujuh Kab/Kota

SEMARANG -Siapa bilang juara bertahan sulit ditumbangkan? Dalam pilkada langsung yang hampir serentak dilaksanakan di Jawa Tengah, tidak selamanya pejabat lama yang diistilahkan sebagai juara bertahan, mampu bertahan.

Memang banyak di antara pejabat lama yang mencalonkan lagi memenangi pemilihan, seperti Kota Semarang, Kebumen, dan Kendal. Tetapi pejabat lama di Solo, Boyolali dan Rembang, berdasarkan hasil penghitungan sementara hingga semalam (pukul 21.00 WIB), ternyata kalah. Mereka dikalahkan oleh calon lain yang biasa disebut sebagai calon penantang.

Secara serentak, Senin kemarin, giliran tujuh daerah di Jateng melaksanakan pilkada. Yakni Kota Solo, Kota Magelang, Purbalingga, Sukoharjo, Boyolali, Rembang, dan Blora. Jadi, selain Solo, Boyolali dan Rembang, semua pilkada di empat daerah lainnya ini dimenangkan oleh pejabat lama yang mencalonkan diri lagi.

Kota Solo agaknya memang masih menjadi basis PDI-P. Jago partai banteng mencereng ini, Joko Widodo-FX Hadi Rudyatmo, untuk sementara memenangi pilkada Kota Solo, dan kemungkinan besar berhak atas tampuk kursi AD-1-A untuk periode 2005-2010. Perolehan suara sampai pukul 21.00 semalam, tinggal beberapa TPS saja yang belum selesai dihitung di tingkat kecamatan, yakni di Kecamatan Banjarsari dan Pasarkliwon. Hasil penghitungan itu pun tidak akan banyak memengaruhi hasil akhir itu.

Pasangan tersebut merebut 35,5 persen suara (101.122 suara), pasangan Achmad Purnomo - Istar Yuliadi 27,8 persen (79.153 suara), disusul pasangan Hardono - GPH Dipokusumo yang didukung Golkar 27,7 persen (78.911). Terakhir Slamet Suryanto - Hengky Narto Sabdo 5,1 persen (14.561 suara).

Di Sukoharjo, pasangan jago PKS Bambang Margono - Parjoko (BM-Pj) yang unggul di awal perhitungan suara, ternyata di akhir penghitungan diungguli pasangan Bambang Riyanto (pejabat lama)-Moh Thoha (BR-MT). Pasangan BR-MT memperoleh suara 35,94 persen (146.249 suara). BM-Pj sebanyak 35,68 persen (145.187 suara), disusul Jowo Semito-Joko Timbul yang dijagokan Golkar dengan perolehan 14,61 persen (59.469 suara). Terakhir pasangan Sugeng Purwoko - Cipto Subadi dengan 13,74 persen (55.930 suara).

Untuk hasil pilkada Solo, angka perolehan suara itu tidak terlalu jauh dibandingkan dengan hasil penghitungan cepat yang dilakukan BEM UNS, yang juga dimenangkan oleh pasangan Joko Widodo-FX Hadi Rudyatmo. Dalam penghitungan cepat, keduanya memperoleh suara mencapai 336,75 persen, disusul pasangan Hardono - GPH Dipokusumo28,63 persen, dan pasangan Achmad Purnomo - Istar Yuliadi 28,75 persen. Posisi buncit ditempati Slamet Suryanto - Hengky Narto Sabdo 5,87 persen.

Mantan Wali Kota Solo Slamet Suryanto yang diprediksi masih memiliki pengaruh dan dukungan yang cukup kuat, ternyata nggembos. Dia hanya didukung tak sampai 6 persen dari jumlah pemilih.

Justru yang di luar dugaan adalah jumlah golput ternyata sangat tinggi. Diprediksi hanya sekitar 10-15 persen, ternyata jumlahnya mencapai 25-30 persen. Terutama di Kecamatan Jebres yang menduduki posisi kedua, melebihi perolehan suara cawali.

Pengamat politik MT Arifin berpendapat, adanya persyaratan KK memang akhirnya menjadi penyeleksi siapa yang benar-benar menjadi warga Solo atau warga yang selama ini boro atau kos di kota ini.

''Saat pilpres memang tidak menjadi persoalan, karena pemilu nasional, sehingga yang bukan warga Solo asli bisa nyoblos sesuai dengan haknya, dan sudah masuk DPT (daftar pemilih tetap). Tapi begitu pilkada, mau tidak mau hanya yang warga Solo dan terdaftar dalam KK Solo yang memiliki hak memilih,'' kata dia.

Joko Widodo mengaku siap menjalankan amanat rakyat yang sudah diberikan oleh warga Solo. ''Saya akan berusaha menjalankan tugas yang diembankan kepada saya dengan sepenuh hati,'' jelas dia.

Kemenangan ini disambut dengan kegembiraan oleh segenap pendukungnya. Para tim sukses dan kalangan dekat pasangan itu langsung melakukan aksi gundul bersama, sebagai ungkapan kegembiraan.

Di Magelang

Sejak awal sudah diprediksi pasangan calon yang menang atau kalah pada pilkada Kota Magelang hanya selisih suara tipis. Ternyata hasilnya memang seperti itu. Pasangan calon H Fahriyanto (pejabat lama)-Drs Noor Muhammad yang diusung PDI-P menang 347 suara dari lawannya, pasangan H Bambang Pradjuritno SH-Drs H Soetjipto yang diajukan Partai Golkar.

Total perolehan suara dari dua kecamatan di wilayah Kota Magelang, Fahriyanto-Noor Muhammad meraih suara 31.918 suara, sedangkan Bambang-Sutjipto 31.571 suara. Dari tujuh kelurahan di wilayah Kecamatan Magelang Utara, Fahriyanto-Noor Muhammad hanya menang di satu kelurahan, yaitu Kelurahan Panjang. Enam kelurahan lainnya, yakni Kedungsari, Kramat, Potrobangsan, Wates, Gelangan, dan Kelurahan Magelang dimenangkan Bambang-Soetjipto.

Di Kecamatan Magelang Selatan yang juga terdiri atas tujuh kelurahan, Fahriyanto-Noor unggul di lima kelurahan. Yaitu Kelurahan Magersari, Rejowinangun Utara, Rejowinangun Selatan, Tidar, dan Kelurahan Kemirirejo. Dua kelurahan sisanya, Kelurahan Jurangombo dan Kelurahan Cacaban, diraih Bambang-Soetjipto.

Data yang diperoleh dari Desk Pilkada Kota Magelang, perolehan suara kedua pasangan calon hampir sama dengan data KPUD. Pasangan H Fahriyanto-Drs Noor Muhammad di Kecamatan Magelang Utara meraih 13.031 dan Kecamatan Magelang Utara 18.891, sehingga jumlahnya 31.922 (50,27 %). Sedangkan H Bambang Pradjuritno SH-Drs H Soetjipto SH di Kecamatan Magelang Utara meraih 15.940 dan Kecamatan Magelang Selatan 15.634, jumlah 31.574 (49,73).

Ketua Divisi Pencalonan KPUD Kota Magelang Ir Bagus Triwiyono menerangkan, perolehan suara ini sifatnya masih sementara yang didapat dari 14 PPS. ''Besok pagi (28/6) 14 PPS akan mengadakan rapat pleno penetapan penghitungan suara. Rabu lusa (29/6) PPK menyelenggarakan kegiatan serupa. Dua hari kemudian baru KPUD menggelar rapat pleno. Setelah diplenokan baru ditetapkan perolehan suara yang pasti dari kedua pasangan calon,'' ujarnya, dengan menambahkan, dari jumlah pemilih 86.553 orang, suara sahnya mencapai 63.489 atau 73,35 persen.

H Fahriyanto yang juga Wali Kota Magelang 2000-2005 ketika dimintai tanggapannya mengatakan, ''Saya belum bisa bicara kemenangan karena perolehan suara masih sementara, dan terpautnya hanya sedikit. Meski begitu saya bersyukur pilkada bisa berjalan aman dan lancar.''

Dia mengaku, baru bisa menyatakan menang setelah KPUD menetapkan penghitungan suara.

Di Boyolali

Pasangan calon Sri Moeljanto-Seno Samodro hampir dipastikan memenangi pilkada. Pasangan yang dicalonkan Partai Golkar itu sampai pukul 18.45 memperoleh 43.765 (42,94 %) dari 567 TPS. Urutan kedua, pasangan Djaka Srijanta (pejabat lama)-Adha Nurmujtahid dicalonkan PAN memperoleh 24.821 suara (24,35 %). Ketiga, pasangan Alhisyam-Sururi yang diusung PDI-P mengantongi 19.846 suara (19,47 %).

Keempat, Suhadi-Muhadjir dicalonkan PKS dan Partai Demokrat mendapat 10.091 suara (9,90%). Pasangan KH Habib Masturi- P Sarijo yang dicalonkan PKB, PPP, dan PKPB memperoleh 3.401 suara (3,34 %).

''Setiap jam sekali kami mendapat data yang terbaru. Hitungan kami memang secara global, belum menghitung per kecamatan,'' kata Ketua KPU Purwanto.

Kemenangan Sri Moeljanto-Seno Samodro tampaknya sudah diperkirakan sebelumnya. Pasangan ini paling awal memperkenalkan kepada massa pendukungnya melalui spanduk atau stiker.

''Berdasarkan perkembangan yang kami pantau tampaknya jumlah suara terus melesat. Kami berharap pasangan yang kami usung akan meraih kemenangan,'' kata Wakil Ketua Tim Sukses Partai Golkar Irnawan Darori.

Pasangan Djaka Srijanta-Adha Nurmujtahid yang berada pada urutan kedua tampaknya di luar dugaan. Sebelumnya diperkirakan akan meraih kemenangan. Hal ini mengingat Djaka Srijanta adalah mantan bupati yang masih mempunyai sisa-sisa kekuasaan. Namun ternyata pasangan yang diusung oleh PAN itu harus mengakui keunggulan pasangan yang dicalonkan Partai Golkar.

Purbalingga

Hingga pukul 20.36 semalam, perolehan suara pasangan calon Bupati Purbalingga Triyono Budi Sasongko-Heru Sudjatmoko jauh meninggalkan perolehan Munir-Soetarto Rachmat. Menurut data sementara, mantan Bupati Purbalingga itu memperoleh 85,6 persen suara, sedangkan mantan Bupati Pemalang hanya 14,4 persen.

''Kami perkirakan hasil akhir penghitungan sementara ini tidak akan berubah jauh. Triyono-Heru kemungkinan akan memperoleh 84 persen suara, sedangkan Munir-Soetarto 16 suara,'' kata Ketua KPUD Purbalingga Sudarman didampingi anggota Imam Yulianto, semalam.

Di semua kecamatan Triyono-Heru unggul mutlak. Di Kecamatan Mrebet, pasangan ini memperoleh 30.131 suara, sedangkan Munir-Soetarto hanya 3.591 suara. Sementara di Kecamatan Kota, pasangan nomer 2 ini memperoleh 23.825 suara, sedangkan pasangan nomer 1 memperoleh 4.028 suara.

Dari jumlah pemilih sesuai dengan daftar pemilih tetap (DPT) 618.208 orang, suara yang masuk baru 315.054 orang. Perinciannya, suara sah 304.861 suara, yang tidak sah 10.193 suara. Beberapa kecamatan yang datanya belum masuk adalah Kemangkon, Kejobong, Karangreja, Rembang, Karangjambu, dan Kertanegara.

Di Blora Unggul

Nasib mantan Bupati Blora Ir H Basuki Widodo dan mantan Bupati Rembang H Hendarsono dalam pilkada rupanya tak sama baiknya. Basuki Widodo yang duet dengan Drs RM Yudhi Sancoyo MM unggul dalam perolehan suara sementara.

Sedangkan di Rembang, Hendarsono yang berpasangan dengan KH Abdullah Ubab Maimoen hanya menempati urutan kedua.

Bahkan, pasangan Basuki Widodo dan Yudhi Sancoyo (Bayu) yang diusung Partai Golkar dipastikan terpilih menjadi bupati dan wakil bupati Blora. Sebab, perolehan suara sementara duet ini mengungguli tiga pasangan calon lainnya. Berdasarkan penghitungan cepat yang dilakukan KPUD Blora, hingga pukul 21.00 Basuki-Yudhi memperoleh suara 53,47 % (220.078).

Posisi kedua diduduki pasangan calon yang diusung PDI-P, HM Hartomy Wibowo-Ir Bambang Susilo (Toba), yakni 37,30% (153.504). Sedangkan dua cabup-cawabup lainnya, Rubiyanto-Bambang Wijanarko SH, dan pasangan Drs Didik Lukardono-HM Mahmudi Ibrahim, masing-masing berada di posisi tiga dan empat. Mereka memperoleh suara dukungan 5,25% (21.620) dan 3,98% (16.362).

Hingga pukul 21.00, dari 1.436 TPS, 1.340 TPS sudah melaporkan hasil penghitungan suara. Dengan demikian, jumlah suara yang masuk sudah mencapai lebih dari 90%. Dari 16 kecamatan di Blora, hanya dua kecamatan, yakni Kecamatan Blora dan Kecamatan Banjarejo yang belum menuntaskan laporan perolehan suara sementara.

Data penghitungan sementara yang dikeluarkan KPUD tersebut, Basuki-Yudhi menang mutlak di beberapa kecamatan. Kemenangan terbanyak diperoleh di Kecamatan Cepu. Di Kecamatan perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur ini, Bayu memperoleh suara 32.910.

Di Rembang

Di Rembang, Hendarsono - KH Abdullah Ubab Maimoen (Gus Ubab) yang diusung PPP sampai pukul 18.00 mengumpulkan 40.666 suara. Dia kalah atas pasangan H Moch Salim dan H Yaqut Cholil Qoumas (Tutut) yang dicalonkan PKB dan gabungan partai dengan 61.315 suara. Total pemegang hak pilih di Rembang 425.562 suara.

Pasangan Drs H Wiratmoko MM - HA Djoemali SSos yang diusung Partai Golkar berada di tempat ketiga dengan perolehan 22.328 suara. Dan terakhir pasangan Drs H Nasirul Mahasin - Ir Alwin Basri MM yang merupakan calon dari PDI-P mendapatkan 4.418 suara.

Kemenangan Salim-Tutut membuat ratusan warga yang memantau penghitungan suara di KPUD berdecak kagum. Sebab pasangan itu untuk sementara berhasil unggul di 12 Kecamatan dari 14 kecamatan yang ada.

Bahkan, di Kecamatan Sale, Sedan, Pancur, dan Lasem yang selama ini dianggap sebagai ''kandang'' bagi Hendarsono-Ubab, ternyata Salim-Tutut juga berhasil unggul secara meyakinkan. Salim saat dikonfirmasi menyatakan, penghitungan suara tersebut belum merupakan hasil yang tetap.

Dia menyatakan, jalan untuk menuju kemenangan masih panjang. ''Apa pun hasilnya nanti, saya tetap berpegang pada prinsip kemenangan yang sebenarnya ada di tangan masyarakat Rembang secara keseluruhan. Tanpa ada peran serta masyarakat dalam pilkada ini, saya yakin hasilnya tidak akan seperti ini,'' katanya.

Menurutnya, pilkada secara keseluruhan berjalan dengan cukup bagus. Dia menilai, belum ada hal-hal yang bisa dianggap kurang dalam pilkada yang pertama ini.

''Jelasnya ini semua tidak akan berjalan sesuai dengan harapan, jika masyarakat tidak turut berpartisipasi. Sebenarnya yang layak diberi penghargaan adalah masyarakat ,'' ucapnya. (Tim SM-14t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA