| Senin, 27 Juni 2005 | WACANA |
Surat PembacaYang Tersisa dari Jambore VespaJambore Vespa Nusantara II tahun 2005 yang dilangsungkan di Taman Wisata Curugsewu Paatean Kendal 22-23 Mei lalu telah berakhir sukses. Kesuksesan itu ditandai dengan dikukuhkannya replika vespa terbesar di dunia oleh Muri dan vespa seberat 1 ton tersebut kini dipajang di obyek wisata tersebut. Sayangnya, sukses tersebut tidak diikuti kerja panitia secara profesional. Akibatnya meski kegiatan telah lama berlalu, panitia masih meninggalkan utang sebesar Rp 1 juta lebih kepada warga setempat. Ketika hal ini saya tanyakan jawabnya selalu tidak ada kepastian, bahkan terkesan menghindar. Saya tidak menyangka jika kegiatan yang diselenggarakan oleh Ikatan Vespa Indonesia (IVI) Pengda Jateng bekerja sama dengan perusahaan rokok terkemuka tersebut harus berakhir dengan penderitaan kaum kecil yang bukan termasuk panitia. Masihkah ada niat panitia untuk menyelesaikan, saya tunggu. Sekretaris Paguyuban Pedagang Mukti Kencono Katmini *** Hentikan Tayangan Kekerasan Saya heran, sebenarnya apa pertimbangan para pengelola TV untuk terus menayangkan tayangan berbau kriminal dalam adegan yang sangat detail. Rekonstruksi gantung diri, perkosaan, ditayangkan sangat rinci. Apakah pihak TV tidak menyadari efek visual sangat dahsyat, sehingga bisa menginspirasi orang untuk meniru? Jika hendak mewartakan kejahatan sembari menceritakan modus operandi dengan tujuan agar masyarakat berhati-hati dan waspada, saya kira bukan demikian caranya. Acara kriminal di TV seolah disajikan untuk para calon penjahat. Saya sering membaca tindak kejahatan yang terjadi lantaran terilhami tayangan kriminal di TV. Saya juga pernah membaca berita tentang seorang gadis kecil yang tiba-tiba ditelentangkan oleh teman mainnya sekelompok anak laki-laki yang juga masih kecil. Rupanya, mereka sedang mempraktikkan adegan rekonstruksi perkosaan yang mereka tonton di TV. Yang terbaru, kita semua pasti masih ingat seorang anak TK yang bunuh diri dengan cara menjerat lehernya dengan tali. TV, mengapa tak jera menayangkan adegan yang membahayakan kondisi masyarakat yang sudah carut-marut ini. Para pengusaha, mengapa tak punya kekuatan untuk menghentikan tayangan yang mencemaskan hati para orang tua tersebut. Saya punya teman yang berasal dari keluarga broken home. Dia sangat stres saat kecil dan pernah mencoba bunuh diri. Tahukah Anda apa yang dia lakukan. Dia mengurung dirinya di kamar mandi selama berjam-jam. Dengan pikiran lugunya, dia menganggap jika di kamar mandi lama dia akan kedinginan dan lama-kelamaan akan mati. Sekarang, seorang anak yang bermasalah punya guru-guru canggih yang bisa mengajarkan pada mereka cara bunuh diri yang 'efektif'. Guru itu adalah TV. Kapankah TV bisa menjadi sahabat yang baik sekaligus menenteramkan bagi masyarakat. Siti Jazimah (Ibu Rumah Tangga) Jagang Lor Rt 3/Rw 2 Salam, Magelang *** Pantai Jomblom yang Memprihatinkan Mengunjungi pantai Carita di Banten, Sanur di Bali atau tak usah jauh-jauh pantai di Pemalang dengan pemandangan bersih asri, penjual ikan bakar, es kelapa muda bahkan dihibur banana boat lengkap dengan penjaga pantai ala Baywatch membuat iri saya sebagai pemandu wisata Kabupaten Kendal. Pemandangan umum di pantai Jomblom Cepiring sangat mengenaskan. Sampah berserakan di sekitar objek wisata ini, WC umum reyot hampir ambruk, gentingnya mirip gigi manula, ompong. Dinas Pariwisata tahu kondisi ini. Namun alasannya tidak ada dana serta tidak ada koordinasi dengan kelurahan dan pemuda karang taruna desa terkait yaitu Desa Pidodo, Korowelang dan Margorejo akhirnya imbasnya pantai ini tak terurus. Solusi sementara, Dinas Pariwisata membina dan memberi penyuluhan kepada para pemuda dan kelurahan yang mengelola tempat ini tentang manajemen sederhana ke pariwisataan dan administrasinya. Tanpa pengaturnya yang baik pendapatan dari sektor ini jangan berharap bisa meningkat. Kemampuan Pemkab melalui Kepala Diparta diuji dalam kasus pantai Jomblom ini apakah mampu menjadikan potensi wisata pantai layak untuk dikunjungi dan dinikmati masyarakat. Atau ucapan pimpinan birokrat Kendal untuk memajukan pariwisata hanya retorika belaka. Aryo Widiyanto Amd Jl Sri Agung 234 Cepiring, Kendal *** Parade Band Unnes Awal bulan ini di auditorium Unnes Semarang diadakan pertunjukan musik berlabel "Parade Band & Pentas Musik Amal Bulan Pendidikan 2005". Selebaran yang ditempel di berbagai tempat menyebut tersedia trofi untuk 3 band terbaik, trofi untuk best player, gift menarik dari sponsor, serta cash money (diartikan peserta sebagai uang kontan). Tetapi yang membuat kecewa para pemenang (di antaranya grup band adik saya) adalah, tanggung jawab penyelenggara yang kurang siap dan terkesan mencari untung. Contoh, tidak tersedia trofi saat pengumuman. Saat ditanyakan, panitia menjawab: sudah dipesan tapi belum jadi. Juga ditiadakannya pemilihan best player tanpa pemberitahuan menyeluruh pada para peserta. Terbukti ada peserta yang tidak tahu. Kemudian tidak ada gift dari sponsor dan hadiah cash money seperti yang dijanjikan.Yang ada hanya secuil kertas di dalam amplop bertuliskan: "Selamat, Anda mendapatkan voucher Perdana Rp 15.000 dari Mentari". Bisa dibayangkan betapa kecewanya hati para pemenang yang sebagian besar para pelajar.Uang kontan yang jadi pengharapan terakhir ternyata hanya voucher senilai Rp 15.000. Itu pun bukan voucher yang sebenarnya karena hanya secuil kertas kecil. Nilainya lebih kecil dari uang pendaftaran yang sebesar Rp 30.000/peserta/band. Ketika hal ini ditanyakan ke panitia, jawabannya memang sebesar itulah hadiahnya. Tentu adik saya jadi bingung ketika akan membagi hadiah berama temannya yang 3 orang karena hadiah voucher. Hadiah ini belum pemah terjadi dalam sebuah festival musik yang melibatkan beberapa sponsor besar. Mereka telah mengeluarkan dana yang tidak sedikit. Ini belum kecurangan lain selama pentas berlangsung seperti dilanggarnya aturan batas waktu tiap band tampil yang dibuat dan dilanggar sendiri oleh panitia. Tanpa berprasangka buruk, kiranya Bpk pimpinan Unnes bisa lebih proaktif melakukan kontrol kegiatan mahasiswanya. Ahmad S Jl Tampomas Dlm VII/21, Semarang *** Mengetuk Hati Saya mahasiswa semester akhir dengan nilai IPK sementara 3,48 sedang menulis tugas skripsi. Saya dari keluarga kurang mampu dan yatim, kondisi fisik cacat mata minus sepuluh (untuk mata kanan dan kiri). Sejak studi di bangku SMA kelas dua sampai sekarang studi di perguruan tinggi ini, saya mandiri. Namun dalam tugas menulis skripsi, saya mengalami hambatan berat yaitu masalah biaya. Di satu sisi saya harus mengejar target Agustus 2005 wisuda, di sisi lain tanggal 9 Juli 2005 adalah batas akhir pendaftaran pendadaran. Saya ingin mengetuk hati pembaca berkenan membantu meringankan beban yaitu masalah biaya kelancaran proses tugas skripsi, agar dapat mengejar bulan Agustus 2005 wisuda. Bantuan dapat disalurkan melalui Bank Mandiri Cabang Yogyakarta Adisucipto No Rekening: 137-0003058613 atas nama pribadi saya. B Waluyo Mhs UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta |