logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 27 Juni 2005 WACANA
Line

tajuk rencana

Rakyat Iran Telah Memilih Sikap

- Rakyat Iran telah menentukan sikap lewat putaran kedua pemilu presiden, pekan lalu. Kalau kemudian sosok Mahmoud Ahmadinejad yang dipilih sebagai presiden, dan bukan Ali Akbar Hashemi Rafsanjani, tentulah menarik untuk melihatnya bagi masa depan Iran, setidak-tidaknya dalam masa kepemimpinan presiden baru itu. Juga menarik untuk melihat faktor-faktor yang mendeterminasi keputusan mayoritas rakyat, mengapa Ahmadinejad - kandidat dari garis konservatif mampu memikat hati para pemilih. Bagaimanapun, hasil akhir pemilu presiden kali ini memang bakal memberi gambaran tentang proyeksi posisi Iran di pentas internasional, terutama hubungan negeri para mullah itu dengan Barat, dan lebih khusus lagi dengan Amerika Serikat.

- Setelah era kepemimpinan presiden reformis Mohammad Khatami, keterpilihan Mahmoud Ahmadinejad akan membawa Iran ke sebuah pilihan sebagai sikap baru negeri itu. Kalau selama era Rafsanjani yang dilanjutkan Khatami, Iran telah memulai proses demokratisasi walaupun masih dalam kontrol para ulama konservatif, maka apakah dengan presiden baru dari kubu konservatif - Barat malah menuding Ahmadinejad ultrakonservatif - pemerintahan Iran akan kembali dinuansai oleh nilai-nilai revolusioner dengan kontrol penuh otoritas religius? Ketika Khatami terpilih pada 1997, angin segar reformasi di bidang sosial-politik bertiup. Tetapi faktanya, otoritas religius lewat para mullah tetap mengontrol penuh kepolisian, lembaga peradilan, dan intelijen.

- Kita melihat, representasi pilihan rakyat pada Ahmadinejad tidak serta merta merupakan sikap ''balik kucing'' dari dambaan mengenai demokrasi dan kebebasan hak-hak sipil. Mayoritas pemilih diperkirakan dari kelompok miskin, yang sukses dimobilisasi melalui jaringan masjid. Secara internal, daya tarik yang ditawarkan mantan wali kota Teheran itu adalah tekad memerangi korupsi dan melawan dekadensi moral yang ditularkan Barat. Dia juga menawarkan redistribusi penghasilan dan nasionalisasi aset-aset negara. Tren konsumerisme kelompok elite di Teheran ketika mayoritas rakyat tidak merasakan keuntungan apa pun dari meningkatnya pendapatan minyak, menunjukkan mayoritas rakyat Iran akhirnya memilih berdasarkan pandangan ideologis.

- Secara eksternal, kita melihat isu-isu internasional sangat mendeterminasi pilihan rakyat. Yang aktual adalah ketegangan dengan Barat, khususnya AS tentang pengembangan energi nuklir Iran. Faktor inilah yang tampaknya menjawab, pilihan terhadap Ahmadinejad - dan kekalahan Hashemi Rafsanjani - bukan merupakan kesimpulan rakyat Iran tidak menghendaki reformasi sosial-politik, dan demokratisasi. Tekanan-tekanan AS, juga Barat bagaimanapun mengusik harga diri dan kedaulatan rakyat Iran. Ahmadinejad sendiri menegaskan, Republik Islam Iran tidak takut untuk memperbaiki hubungan, tetapi bagaimana melakukannya harus dipelajari terlebih dahulu sehingga kemerdekaan, harga diri dan kepercayaan diri bangsa tidak terganggu.

- Agenda reformasi yang diperkenalkan oleh Rafsanjani dan Khatami mendapat sambutan, khususnya oleh kalangan kelas menengah. Pada satu sisi, reformasi yang dikehendaki rakyat Iran memiliki keunikan tersendiri, karena mereka jelas tidak mau berada dalam dikte program ekspor demokratisasi yang ditiupkan Amerika ke negara-negara Timur Tengah lainnya. Pada sisi lain, apakah kecenderungan Rafsanjani untuk bersikap lebih lunak dan terbuka terhadap Barat dan AS justru dianggap sebagai kelemahan di hadapan sikap tegas Ahmadinejad mengenai program nuklir? Faktor ini pun sebenarnya punya andil besar. Kandidat yang pernah menjadi gubernur jenderal Provinsi Ardebil itu dinilai lebih menjanjikan untuk mengangkat lagi martabat bangsa Iran.

- Lalu sejauh mana pergerakan pemerintahan di Iran pasca-pemilu presiden? Konstelasinya tentu akan memberi pengaruh besar dalam peta politik Timur Tengah dalam hubungan dengan Barat dan Amerika. Kita percaya, ide reformasi dan kebebasan hak-hak sipil di Iran tidak akan mati karena terpilihnya presiden dari kalangan konsevatif, karena rakyat Iran tampaknya memang mempunyai gagasan tersendiri tentang demokratisasi. Puluhan tahun bangsa ini mengalami trauma dalam hubungan dengan AS, dan sejauh itu Iran tidak pernah bisa didikte dengan cara apa pun. Reformasi pilihan rakyat, tampaknya adalah kebebasan yang tidak berafiliasi pada kemauan Barat dan AS, dan pada sosok Ahmadinejadlah harapan representasi harga diri itu disandangkan.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA