logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 27 Juni 2005 NASIONAL
Line

Sudah Berlabuh Berkali-kali


BERTULISKAN NEGARA SINGAPURA: Kapal Motor Yoto yang dipakai untuk menyelundupkan solar melalui Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap ternyata bertuliskan negara Singapura. Kapal itu bernama Ultra Guide Singapore. Kapal tersebut hingga Minggu (26/6) ditambatkan di dermaga ujung selatan Pelabuhan Tanjung Intan. (30t)

KAPAL pengangkut solar sekitar 528.000 ton dari CV Teddy Jaya Putra Bandung yang akan diselundupkan ke perairan utara Jawa melalui Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap, ternyata bertuliskan nama negara Singapura. Kapal tersebut aslinya bernama Ultra Guide Singaporae.

Namun juga tertulis "KM Yoto''. Tulisan ini terlihat di lambung kapal (samping) dan bagian belakang. Di bagian belakang tertulis ''Yoto Bitung''. Tulisannya warna kuning yang sebagian telah rusak. Tulisan ini menutup tulisan Ultra Guide Singaporae. Sedangkan tulisan di lambung bagian samping berwarna putih. Huruf Y-nya telah dihapus sehingga sepintas terbaca ''Oto''.

Dari pemantauan Suara Merdeka, kapal tersebut ditambatkan di dermaga ujung selatan atau belakang pengantongan Pupuk Sriwijaya atau sebelah kiri dermaga bongkar muat barang (tengah).

Kapal sejenis kapal tangki ini juga sudah tidak ada yang menunggui. Namun mesin kapal masih berbunyi, terutama generator untuk mengatur sirkulasi air yang keluar-masuk kapal. Bagian bawah berwarna gelap (kusam) dengan kombinasi warna putih bagian atas. Kapal itu diikat dengan sekitar enam tali.

Sementara truk-truk tangki yang dipakai untuk mengangkut solar dari Bandung menuju pelabuhan juga tidak kelihatan. Informasinya, truk-truk itu telah diamankan sebagai barang bukti. Pengamanan juga tidak terlihat baik itu dari aparat kepolisian maupun petugas keamanan pelabuhan.

Anehnya, pihak kepolisian juga tidak melakukan penyegelan dengan membuat tulisan atau memberi garis polisi. Dengan demikian, sejumlah warga bebas mancing dan lalu-lalang di sekitar kapal. Saat ditanya Suara Merdeka, mereka sebagian mengaku tidak tahu bahwa kapal tersebut bermasalah.

Kemarin suasana pelabuhan juga tampak sepi. Aktivitas bongkar muat barang juga jarang. Hanya ada satu kapal tongkang Chrisniche 1 yang akan mengangkut pasir besi. Ini berada di dermaga bagian utara atau sebelah kanan areal bongkar muat barang. Di belakang kapal tersebut ada satu kapal lagi untuk pemandu lalu lintas keluar- masuk kapal, milik pelabuhan. Untuk masuk ke palabuhan juga relatif mudah. Meskipun di pintu utama juga ada petugas. Ini berbeda dari hari-hari biasa yang relatif terkendali. Termasuk saat ada penggerebekan dari polisi, Sabtu (25/6).

Keterangan yang dihimpun dari sejumlah saksi mata mengatakan, penggerebekan terjadi Sabtu (25/6) siang hingga malam hari. Ada 24 anak buah kapal (ABK) yang diamankan petugas. Namun yang dibawa ke Mapolda Jateng sekitar 18 orang. Sedangkan enam orang dilepas karena hanya sebagai buruh harian lepas.

Sunyoto (45), warga Donan Cilacap yang melihat kejadian, menceritakan, dari ABK yang ditangkap polisi di antaranya kelihatan warga keturunan China. ''Saya melihat sekitar 10 orang seperti orang China,'' ujar lelaki yang biasa mancing di sekitar pelabuhan ini.

Menurutnya, kapal tersebut sebenarnya sudah bertambat beberapa hari sebelum ada penggerebekan dari tim Polda. Bahkan, sebelum rencana penyelundupan solar terbongkar, dia sudah melihat beberapa kali kapal itu bertambat di Pelabuhan Tanjung Intan.

''Dalam beberapa bulan ini saya melihat tiga kali kapal itu melabuh di sini. Awalnya kami tidak menduga kapal itu dipakai untuk mengangkut solar yang akan diselundupkan,'' ujarnya, yang dibenarkan Agus, sesama rekan mancing.

Warso (34), pekerja kasar pelabuhan, menambahkan, dirinya dan rekan-rekannya baru tahu bahwa pengangkutan solar yang beberapa kali dilihatnya ternyata tidak resmi. ''Saya saja baru mengerti setelah Anda bertanya,'' akunya. (G22-14t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA