| Senin, 27 Juni 2005 | SEMARANG |
Maraknya Pilkada, Meriahnya Hajatan WargaADA banyak cara untuk membuat pesta demokrasi berlangsung meriah. Mulai dari mendandani Tempat Pemungutan Suara (TPS) hingga mengemas proses pencoblosan dengan cara unik. Oleh warga RW 1 Kelurahan Purwosari Kecamatan Ngaliyan, misalnya, perhelatan demokrasi itu dikemas laiknya pesta sebenar-benarnya, Minggu (26/6). Lihatlah, TPS 01 yang bertempat di depan Balai RT/RW Jl Sriwidodo Utara ditata bak rumah orang hajatan. Begitu tiba, para tetamu disambut oleh lengkungan serupa gapura berhias janur dan bunga-bunga artifisial. Di dalam TPS, suasana hajatan semakin kuat terasa. Ada hiasan dari janur serta balon dan kertas karet (krep) warna warni yang lazim di tempat orang mantu. TPS itu juga dilengkapi dengan taman buatan, dengan tanaman hias dan air mancur artifisial. Suasana perhelatan semakin terasa, dengan iringan klenengan dari sound system yang terletak di sebelah TPS itu. ''Yang kurang, cuma uang sumbangannya,'' seloroh salah seorang anggota KPPS. Tak cuma itu, para petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) mengenakan busana tradisional Jawa. Ya, para petugas KPPS di tempat itu mengenakan kain, surjan, lengkap dengan blangkon mondolan khas Yogya. Dari sembilan petugas KPPS, cuma dua orang Linmas yang tidak mengenakan busana itu. ''Wah, manglingi tenan. Jebule RT-ne to,'' celetuk Ny Handoyo, saat bertemu dengan Ketua RT 03/I Jupri yang menjadi petugas KPPS. Suasana semakin gayeng, karena pelaksanaan pemungutan suara itu dilakukan dengan bahasa Jawa. Secara berkala, Ketua KPPS Dirin DT mengajak para warga untuk segera menggunakan hak pilihnya. ''Ngaturaken pariwara, bilih ngantos tabuh 10 sakmenika, warga ingkang sampun ngginakaken hak pilihipun wonten ing TPS 01 nembe 179. Ing kamangka, warga ingkang anggadhahi hak pilih 346,'' ujar Dirin DT. Kemasan Berbeda Kepada Suara Merdeka, dia menjelaskan, gagasan Pilkada bernuansa Jawa datang dari KPPS, yang memperoleh dukungan seluruh warga RT I. Mereka ingin mengemas pelaksanaan Pilkada dalam bentuk yang berbeda dengan sebelumnya. Kebetulan, ke-9 orang petugas KPPS itu telah bertugas sejak Pemilu 2004 serta Pilpres putaran I dan II. ''Ya, idep-idep perpisahan. Sebab, belum tentu pada Pemilu yang akan datang, petugas di TPS 01 tetap kami ini,'' papar Dirin. Soal biaya, Dirin menjelaskan, para warga beriur untuk menyewa dekorasi dan busana adat Jawa. Diperkirakan, penyelenggaraan TPS model hajatan itu menghabiskan tak kurang dari Rp 2,5 juta. ''Tentu tak cukup, kalau hanya mengandalkan Rp 250.000 bantuan dari KPU.'' Di TPS yang dipergunakan para calon mencoblos, para KPPS juga berdandan istimewa. Di Wonotingal Di TPS 3 Wonotingal Candisari yang dipakai Sukawi Sutarip mencoblos, para anggota KPPS mengenakan pakaian adat Jawa, dengan surjan warna krem, kain batik, dan beskap. Pemandangan serupa juga terlihat di TPS 18 Pedalangan Banyumanik, tempat Mahfudz Ali nyoblos. Bangunan tenda untuk kegiatan TPS 3 Wonotingal dibuat agak mewah, seperti tempat pesta perkawinan. Kursi yang dijadikan tempat tunggu pemilih juga dibalut kain putih sehingga terkesan eksklusif. Pilkada bernuansa Jawa juga terjadi di TPS 14, juga di Kelurahan Purwoyoso, Ngaliyan. Pada TPS yang terletak di pertigaan Jl Srikaton Timur III itu, para petugas mengenakan busana khas Semarangan, yakni busana model priayi yang acap digunakan pada pemilihan Denok-Kenang. Selama pencoblosan berlangsung, hadirin bisa menikmati gending-gending karya maestro asal Semarang Ki Nartosabdo yang diputarkan dari tape recorder. ''Karena Pilkada ini untuk memilih pemimpin Semarang, maka kami sepakat untuk mengenakan busana khas Semarangan,'' cerita Sutisnawa, Ketua KPPS 14. Sebelum pemungutan suara, para petugas yang berbusana Semarangan itu mengadakan kirab keliling kampung. Kirab itu dimaksudkan untuk memberitahu warga agar mendatangi TPS. ''Dengan begitu, partisipasi warga dalam Pilkada bisa meningkat.'' Ya, kemeriahan hajatan Pilkada memang amat bergantung pada keterlibatan warga. Ketika gairah masyarakat dalam Pilkada begitu tinggi, seperti yang terlihat pada sejumlah TPS kreatif itu, saat itulah pesta demokrasi menemukan kemeriahannya. Yang terjadi, sungguh, sebuah pesta dalam pengertian sebenar-benarnya. (Achiar M Permana, Jamal Al Ashari-50 ) |