| Senin, 27 Juni 2005 | KEDU & DIY |
Temanggung Mulai Kekurangan ObatTEMANGGUNG - Beberapa puskesmas di Kabupaten Temanggung kini mulai mengalami kekosongan obat. Demikian diungkapkan Drs Nuryasin Apt, Kepala Bidang Instalasi Farmasi dan Alat Kesehatan DKK Temanggung. Menurut penuturannya, dengan kurangnya persediaan obat tersebut banyak puskesmas yang melakukan pengobatan secara tidak rasional. Artinya, obat yang diberikan kepada penderita bukan obat pilihan pertama, melainkan obat pilihan kedua atau ketiga. Misalnya penderita sakit gigi tidak diberikan antalgin tetapi diberi parasetamol. Sebab selain obat pilihan pertama telah habis, untuk membelinya lagi harganya mahal. Dengan belum cairnya APBD, beberapa bulan ini DKK membeli obat dengan mengandalkan dana Askes Gakin dan Askes PNS. Meskipun kedua askes tersebut untuk pembelian obat terpadu dengan dana APBD, jumlahnya terlampau kecil. ''Askes besarnya hanya Rp 36 juta untuk 3 bulan, sedangkan APBD yang belum cair itu mencapai Rp 1 miliar per tahun. Namun perlu diketahui pula, saat ini selain harga obat naik, jumlah orang sakit juga bertambah,'' ucap Nuryasin. Pada Juni ini, sambungnya, seharusnya gudang farmasi sudah menerima kiriman obat dari rekanan yang ditunjuk. Namun karena APBD terlambat cair, tender untuk pengadaan obat itu saja sekarang belum terlaksana. Belum Dibagikan Sementara itu sebanyak 520 pak atau 12.000 sak susu (200 gram/sak) belum bisa dibagikan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Temanggung. Susu untuk ibu hamil dan untuk tambahan gizi balita itu seharusnya telah didistribusikan ke 23 puskesmas yang ada di Temanggung dua minggu yang lalu. ''Pendistribusian ke puskesmas belum dapat dilaksanakan karena biaya pendistribusian yang berasal dari Dana Alokasi Umum (DAU) APBD 2005 hingga saat ini belum juga turun,'' kata dokter Artiono, Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan (Yankes) DKK Temanggung, Jum'at (24/6) lalu. Menurutnya, hingga minggu ini baru ada empat puskesmas terdekat yang berinisiatif mengambil sendiri susu tersebut ke kantor DKK. Dia juga merasa khawatir apabila terlalu lama disimpan di DKK, puskesmas akan kekurangan susu. Dengan demikian, dimungkinkan beberapa saat mendatang akan terjadi gizi buruk pada balita di desa-desa di Temanggung, meski hingga saat ini belum ada laporan tentang adanya gizi buruk. Jalan keluar yang akan dilakukan berkaitan dengan permasalahan itu, kata Artiono, pihaknya berupaya meminjam dana untuk pendistribusian. Dana tersebut akan dipinjam dari anggaran yang seharusnya dipakai untuk operasional asuransi kesehatan keluarga miskin (Askes Gakin). Dana DAU APBD 2005 untuk kesehatan yang belum turun itu berdampak pula pada penipisan persediaan obat di DKK. Tim yang akan membentuk Panitia Pengadaan Barang/Jasa dan Pemeriksa telah diusulkan kepada Bupati Temanggung. Selanjutnya setelah disahkan Bupati, SK Bupati tentang tim itu akan turun bersamaan dengan daftar anggaran satuan kerja (DASK). Panitia yang dibentuk oleh tim itulah yang bertugas menyelenggarakan lelang (tender) pengadaan obat. (hsf-39n) |