| Senin, 27 Juni 2005 | INTERNASIONAL |
Wakil Pentagon Temui Militan IrakLONDON - Pejabat Amerika Serikat melakukan perundingan rahasia dengan para komandan gerilyawan Irak, sebagai upaya membuka dialog dengan kelompok gerilyawan. Demikian diberitakan harian Inggris The Sunday Times, Minggu kemarin. Pertemuan itu sendiri berlangsung pada 3 Juni dan 13 Juni di sebuah vila musim panas dekat Balad, sekitar 60 km sebelah utara Bagdad. The Sunday Times melaporkan, baik pemerintah Irak maupun pejabat AS di Bagdad belum bersedia memberikan konfirmasi soal perundingan itu. Para pejabat militer di Bagdad juga tidak bersedia menanggapi berita tentang perundingan rahasia itu. Berita itu bersumber dari keterangan warga Irak yang kelompoknya ikut dalam perundingan itu. Menurut sumber, pertemuan itu dihadiri antara lain Tentara Ansar al-Sunnah, yang mengklaim bertanggung jawab atas pengeboman di Irak dan serangan di markas AS di Mosul pada Desember lalu yang menewaskan 22 orang. Dua kelompok lainnya adalah Jaish Mohammad (Angkatan Bersenjata Mohammad) dan Tentara Islam. Kelompok ini pada Agustus lalu diberitakan telah membunuh wartawan Italia Enzo Baldoni. Salah seorang pejabat AS yang hadir dalam perundingan itu memperkenalkan diri sebagai wakil Pentagon. Dia menyatakan siap menemukan cara-cara untuk menghentikan pertumpahan darah dan mendengarkan tuntutan serta keluhan. Disebutkan pula, pejabat itu mengisyaratkan bahwa hasil-hasil pembicaraan itu akan disampaikan kepada para petinggi di Washington. Para pejabat AS mencoba mengumpulkan informasi tentang struktur, kepemimpinan dan operasi-operasi kelompok-kelompok gerilyawan. Hal itu membuat berang pihak gerilyawan karena undangan pertemuan itu disebutkan bertujuan membahas tuntutan gerilyawan dan jadwal penarikan tentara AS dari Irak. Seorang pejabat tinggi AS mengatakan awal bulan ini, pemerintah AS sudah bernegosiasi dengan para pemimpin Suni, yang kemudian berunding dengan gerilyawan untuk membujuk mereka meletakkan senjata. Pejabat itu, yang tidak bersedia disebut namanya, tidak menyebutkan nama-nama para pemimpin Suni yang ikut dalam dialog itu. Para anggota kelompok minoritas Suni diyakini sebagai kelompok penggerak di balik operasi-operasi gerilyawan Irak. Suni kini kehilangan kekuasaan setelah semasa pemerintahan Saddam Hussein mendominasi kekuasaan. Ledakan Bom Di Mosul, seorang gerilyawan meledakkan bom jibaku di markas besar polisi distrik Minggu kemarin. Ledakan keras itu menghancurkan sebagian areal gedung dan menewaskan sedikitnya enam orang, sebagian besar di antaranya adalah polisi. Sebagian gedung bertingkat dua itu hancur dan ambruk akibat ledakan itu, Lima orang polisi dan seorang warga sipil tewas, sementara 14 orang terluka. Al Qaedah sayap Irak mengklaim sebagai pelaku peledakan itu. Ledakan itu terjadi pada pukul 07.00 pagi waktu setempat di Markas Polisi Bab al-Toob, Mosul tengah, bertepatan saat orang-orang sedang sibuk memulai pekerjaan. Markas tersebut terletak di kompleks pasar yang juga ikut terkena ledakan. Seorang juru bicara polisi mengatakan, pengebom itu menabrakkan sebuah mobil pikap bermuatan bom ke markas tersebut. Truk tersebut sebelumnya melaju melalui pasar dan akhirnya menabrak dinding markas polisi. Bush Bersikeras Di Washington, Presiden AS George W Bush bersikeras bahwa perlawanan ''yang bengis dan keji'' di Irak akan ditumpaskan. Setelah mengadakan pertemuan di Washington dengan Perdana Menteri Irak Ibrahim Jaafari, Bush mengatakan kemajuan politik yang sedang dilakukan di negara itu akan mengarah pada kemenangan. Bush mengatakan pasukan Amerika pada akhirnya nanti akan ditarik dengan terhormat, tetapi menolak memberikan tanggal pasti bagi penarikan itu. Gedung Putih mengumumkan Bush akan menyampaikan pidato televisi tentang Irak Selasa besok, di tengah-tengah kekhawatiran mengenai banyaknya korban jatuh di pihak Amerika. ''Tujuan musuh adalah mengusir kita dari Irak. Mereka tidak akan berhasil,'' kata Presiden. ''Ini merupakan tugas berat dan sulit. Namun demikian, kemajuan dicapai, dan kemajuan ini akan mengarah pada kekalahan musuh.'' Kemajuan itu meliputi pemilihan bulan Januari lalu, pembentukan pemerintahan, dan pengangkatan Jaafari sebagai perdana menteri. Jaafari mengatakan pemerintah baru Irak mengalami ''kemajuan yang terus menerus dan besar'' berkat bantuan Amerika. Di tempat terpisah, mantan Wakil Perdana Menteri Tariq Aziz, yang tengah menunggu persidangan di penjara Irak, mengatakan tidak akan memberikan kesaksian dalam kasus mantan pemimpin Irak, Saddam Hussein. Ketika berbicara melalui pengacaranya, Aziz juga mengatakan ia menghendaki persidangan di ''negara yang independen''. ''Klien saya mengatakan kepada saya, dia dalam kondisi sehat dan bersemangat, dan perawatan medis yang ditawarkan kepadanya membuat kesehatannya membaik, meski dia sudah ditahan selama lebih dari dua tahun,' kata Badi Arif Izzat. (rtr-gn-25) |