| Senin, 27 Juni 2005 | EKONOMI |
Perilaku Pasar dan Kinerja BursaKETIKA minyak dunia harganya mendekati 60 dolar AS per barel, maka terlihat adanya kegerahan pada sebagian besar bursa efek di tingkat global. Pengaruh yang paling terasa terutama pada bursa yang tergolong sebagai bursa developing market atau bursa yang sudah maju. Misalnya, bursa Dow Jones di Amerika pada hari terakhir bursa pekan lalu kinerja bursa ditutup melemah turun 1,2%. Sedangkan di Bursa Efek Jakarta (BEJ) hanya sedikit melemah turun 0,15%. Berdasar telaah teori, harga minyak dunia sebagai salah satu indikator faktor ekonomi makro, dianggap sebagai faktor fundamental yang besar pengaruhnya terhadap kinerja perusahaan. Semakin tinggi harga minyak cenderung akan memacu laju inflasi. Pengaruhnya pada peningkatan cost of production perusahaan dan juga daya beli masyarakat. Dampak selanjutnya akan berpengaruh terhadap harga saham perusahaan di bursa efek. Beberapa penelitian empiris diantaranya (Evgeny Dorofeev, 2000) menyatakan bahwa perubahan dari faktor ekonomi makro, tidak akan berlangsung seketika tetapi ada time lag atau waktu antara dalam perubahan. Artinya, bukan berarti saat ini harga minyak dunia naik dan saat ini pula kinerja bursa akan turun. Sebenarnya kinerja bursa saat ini lebih dipengaruhi oleh adanya perubahan faktor tersebut pada waktu yang lalu. Sedangkan kinerja saat ini lebih dipengaruhi oleh prediksi perubahan di masa yang akan datang. Menjadi suatu pertanyaan, mengapa pada bursa Dow Jones begitu harga minyak dunia mendekati harga tinggi sebesar 60 dolar AS per barel, kemudian kinerja bursanya langsung bereaksi turun 1,2%? Penurunan kinerja bursa tersebut sebenarnya lebih merupakan pencerminan perilaku pasar yang khawatir bahwa kenaikan harga minyak dunia tersebut merupakan indikasi bahwa di masa mendatang harga minyak diperkirakan akan dapat lebih tinggi lagi. Kekhawatiran tersebut cenderung akan meningkatkan prediksi angka inflasi yang kemudian mendapat respon negatif dari pelaku pasar. Karakteristik investor di Bursa Efek Jakarta yang tergolong pada bursa emerging market atau bursa yang sedang berkembang, berbeda dengan karakteristik investor pada bursa Dow Jones yang tergolong bursa developing market. Investor di bursa Dow Jones takut bahwa prediksi harga minyak dunia akan semakin naik dan takut inflasi akan semakin meningkat. Sedangkan investor di Bursa Efek Jakarta, bila ditanyakan hal itu, sebagian dari mereka akan cenderung memberikan jawaban ''siapa takut''. Meskipun demikian dapat terjadi beberapa jenis saham akan terkena imbas dari kenaikan yang tinggi dari harga minyak dunia yaitu saham dual listing atau terdaftar di dua bursa seperti saham Telkom, Indosat, Timah maupun saham Aneka Tambang. Kelangkaan persediaan BBM dalam negeri dapat memicu adanya sentimen pasar yang negatif bila pasar memprediksi kelangkaan tersebut akan tetap terjadi di masa yang akan datang. Namun demikian bila kelangkaan tersebut segera teratasi dengan baik maka sentimen negatif tidak semestinya terjadi. Sebagian besar investor di BEJ sebagaimana para investor pada emerging market, cenderung lebih berorientasi investasi jangka pendek. Sejalan dengan hal tersebut Evgeny Dorofeev (2000) telah meneliti tentag model perilaku jangka pendek. Dikemukakan bahwa dalam jangka pendek, model bid-ask spread dapat digunakan sebagai pengukur indikator kecenderungan dari market. Bid-asket spread atau kisaran semangat beli dengan semangat jual dari para investor dapat mencerminkan sentimen pasar. Bila semangat beli lebih baik dari semangat jual, maka berarti sentimen pasar dalam keadaan positif. Sebaliknya bila semangat beli lebih rendah dari semangat jual maka berarti sentimen pasar dalam keadaan kurang baik. Dilihat dari semangat dalam bertransaksi semangat investor di BEJ dapat dikatakan masih tinggi. Hal tersebut diindikasikan oleh volume transaksi perdagangan yang tinggi dan nilai perdagangan rata-rata di atas 1 triliun rupiah per hari. Pada akhir pekan lalu sentimen pasar sedikit menurun dengan nilai transaksi perdagangan kurang dari 1 triliun rupiah atau sebesar 756,5 miliar rupiah. Sedikit penurunan semangat tersebut bukan disebabkan oleh kekhawatiran akan terjadi inflasi yang lebih tinggi karena kenaikan harga minyak dunia, tetapi lebih takut adanya kecenderungan melemahnya kurs rupiah terhadap dolar AS yang sementara ini pada posisi kurs Rp 9.650 per dolar AS. Investor asing dan investor institusi sebagai pemimpin pasar berkontribusi tinggi dalam menentukan arah sentimen pasar. Pada pekan lalu semangatnya dalam bid-ask spread nampak masih tinggi. Artinya semangat belinya masih lebih besar dibanding jualnya. Seorang ahli manajemen perilaku (Stephen Robbins) mengemukakan bahwa antara perilaku individu, perilaku kelompok dan perilaku sistem organisasi berhubungan dan saling berkaitan. Keadaan di BEJ, sejalan dengan hal tersebut dapat dikemukakan bahwa perilaku investor individual masih erat dipengaruhi oleh perilaku pemimpin pasar yang sementara ini masih dimotori oleh investor asing dan investor institusi. Meskipun demikian pada pekan lalu masih terjadi perilaku yang tidak positif korelasional antara sebagian investor pemimpin pasar dengan sebagian investor domestik. Artinya dalam keadaan investor pemimpin pasar semangat belinya lebih besar dari semangat jualnya justru perilaku investor domestik sebaliknya yaitu semangat belinya lebih kecil dari semangat jualnya. Dilihat dari kepentingan investor, dalam keadaan kinerja bursa sedang menurun seperti pekan lalu maka semangat beli yang lebih besar dari semangat jualnya berarti optimal karena mendapatkan saham pada harga beli yang rendah. Sentimen pasar yang positif yang timbul dari perilaku bid-ask spread merupakan sentimen pasar jangka pendek. Memperhatikan perkembangan kurs rupiah terhadap mata uang asing maupun kenaikan harga minyak dunia atau inflasi, merupakan data dasar untuk prediksi dan melihat perilaku pasar dalam jangka panjang ke depan. Bila kelangkaan BBM dapat segera teratasi dan kurs rupiah terhadap mata uang asing khususnya dolar AS dapat terkendali, maka akan meneguhkan keyakinan pasar. Keteguhan keyakinan pasar akan terbentuk melalui inner behavior yang tumbuh dari dalam diri pelaku pasar itu sendiri maupun keyakinan yang timbul dari insentif faktor luar terutama kebijakan pemerintah yang positif terhadap perkembangan bursa efek. (Sugeng Wahyudi, dosen pada Program Doktor Ekonomi Undip Semarang 59) |