| Senin, 27 Juni 2005 | EKONOMI |
BI Keluarkan Aturan soal Suku BungaBANDUNG- Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas kebijakan moneter akan mengeluarkan aturan baru berkaitan dengan suku bunga sebagai sasaran operasional. Aturan yang diberi nama BI rate dan berjangka waktu satu bulan itu akan diterbitkan pada Juli mendatang. '' Dengan BI rate, arah kebijakan suku bunga akan diumumkan secara jelas dan transparan. Selain itu, dimaksudkan untuk mencapai sasaran inflasi jangka menengah yang rendah dan stabil,'' kata Deputi Gubernur BI Bidang Moneter Hartadi A. Sarwono seusai pelatihan wartawan Bidang Ekonomi dan Moneter bertemakan " Inflation Targeting Framework " yang digelar BI di Bandung, Sabtu-Minggu, kemarin. Menurut dia, dengan aturan tersebut maka penetapan hasil lelang SBI dan pengumuman rate SBI hasil lelang pada setiap kali lelang, tidak lagi diinterpretasikan oleh stakeholders lain sebagai sinyal dari kebijakan BI. ''Untuk mendukung kerangka kerja kebijakan moneter baru inflation targeting framwork, mulai Juli 2005 BI akan menggunakan suku bunga sebagai sasaran kebijakan moneter, menggantikan base money,'' jelas Hartadi. BI rate, lanjut dia, merupakan indikasi level suku bunga jangka pendek yang diinginkan level bank sentral yang dianggap sesuai dengan target inflasi yang ingin dicapai. Karena itu, prosedur dan mekanisme pelaksanaan lelang SBI, termasuk besarnya incremental base rate lelang, tidak berbeda dengan praktik yang berjalan selama ini. ''Jadi, dengan BI rate tidak ada perubahan yang signifikan di sisi operasional, sebab lelang SBI 1 bulan tetap dilakukan secara mingguan. Demikian pula dengan SBI 3 bulan tetap akan dilaksanakan secara bulanan,'' papar Hartadi. Ia menambahkan, BI rate hanya menggeser perhatian stakeholders dari yang selama ini terfokus pada penetapan hasil lelang dan pengumumam rate (RRT) SBI hasil lelang menjadi ke sinyal suku bunga yang diumumkan dalam Rapat Dewan Gubernur/RDG bulanan (BI Rate). Kebijakan Moneter Hartadi juga menjelaskan tekanan inflasi ke depan masih relatif tinggi. Hal itu tercermin pada ekspektasi inflasi baik di pedagang, konsumen maupun produsen. Selain itu, melemahnya nilai tukar rupiah juga memberi tekanan pada meningkatnya inflasi. ''Tekanan inflasi menjadi 7,40 persen pada Mei 2005 bersifat persisten, tercermin pada tingginya inflasi inti yang mencapai 7,0 persen,'' tutur dia. Pada kesempatan tersebut, Hartadi juga mengungkapkan, indikator utama yang digunakan dalam menentukan respon kebijakan moneter adalah inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Sedangkan penentuan respon kebijakan moneter mempertimbangkan perilaku keterkaitan antar variabel ekonomi dan transmisi kebijakan moneter. ''Selain itu, perumusan kebijakan moneter memperhatikan pula kebijakan umum Pemerintah di bidang perekonomian. Untuk mendukung analis perkiraan inflasi dan pertumbuhan ekonomi ke depan, serta keterkaitan antar variabel ekonomi moneter dipergunakan model dan information variabel,'' jelasnya. Prinsip kebijakan moneter, tambah dia, memiliki satu sasaran utama, yaitu sasaran inflasi, yang dijadikan sebagai prioritas pencapaian dan acuan kebijakan moneter, bersifat antisipatif, mengikatkan diri kepada suatu aturan, tetapi cukup fleksibel dan operasionalnya. (bn-59) |