| Senin, 27 Juni 2005 | BUDAYA |
Nggak Ada MatinyeMENJADI salah seorang ketua panitia Betawi Manggung dalam rangka memeriahkan HUT Ke-478 Kota Jakarta memang tidak mudah. Demikianlah pengakuan H Mandra, salah seorang ikon Betawi yang namanya telah menasional. ''Emang enak, jadi panitia acara segede ini,'' katanya di Museum Nasional, Jakarta, baru-baru ini. Mandra yang bertugas merancang acara, menghubungi tokoh Betawi, dan mengkoordinasikan sedemikian rupa perhelatan tersebut sehingga menjadi sebuah kesatuan yang utuh, mempunyai rumusan yang sederhana tentang formulasinya. ''Nggak ada matinye saya mencintai sama itu yang namanya kebudayaan Betawi,'' akunya dengan logat Betawi kental. Dengan melibatkan artis papan atas seperti Peggy Melati Sukma, Dewi Sandra, hingga Inul Daratista, Mandra yang namanya bersinar setelah bermain dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan ini, bahkan mengusulkan beberapa tokoh penting Betawi untuk menerima hadiah kebudayaan. Dan hasilnya, tiga seniman Betawi yaitu H Nasir yang telah melestarikan
Lenong Betawi, H Dali yang telah melestarikan Seni Topeng, dan almarhum
Nyaat yang telah melestarikan Tanjidor Betawi, mendapatkan penghargaan
dari Pemprov DKI Jakarta. ''Mereka-mereka ini lebih tidak ada matinye,
daripada ane,'' ujar Mandra. (G20-45)
|