| Jumat, 17 Juni 2005 | PANTURA |
Menderita Gizi BurukSiti Maghfiroh Jarang Diberi ASISIANG itu, suasana rumah di lingkungan RT 1 RW 2 Desa/ Kecamatan Ketanggungan tampak sepi dan pemandangannya remang-remang saat dilihat dari luar. Namun begitu masuk, ternyata suasana sangat lain. Suara dari mulut beberapa anak kecil yang sedang bermain dan bergurau terdengar keras di rumah yang ukurannya tidak begitu luas. Tampak pula di antara mereka anak kecil berusia 2 tahun 6 bulan sedang dipangku ibunya. Kerasnya suara beberapa anak kecil itu seketika berhenti saat beberapa wartawan datang ke tempat itu. Bahkan pada saat para wartawan tersebut mengeluarkan kamera, anak-anak ini bertingkah seperti bintang film terkenal, meskipun dari raut wajah mereka menampakkan keheranan. Namun, di antara mereka ada yang tidak merespons seperti anak-anak lain. Dia hanya melihat saja ketika beberapa wartawan mendekatinya. Anak kecil yang selalu terdiam itu bernama Siti Maghfiroh, putri Mafidah dan Fahrurozi. Menurut keterangan ibunya, anak bungsunya ini sedang sakit dan puskesmas di desanya menyebutkan anaknya sedang menderita gizi buruk. "Petugas Puskesmas Kecamatan Ketanggungan mengatakan, anak saya ini kekurangan gizi," ucap dia sambil mengelus rambut Maghfiroh. Sering Ditinggal Bagaimana Siti bisa terkena penyakit kekurangan gizi? Ibu tujuh anak itu (sekarang tinggal lima anak, dua meninggal-Red) mengakui, anaknya itu jarang mendapatkan gizi. Sejak bayi, dia sering ditinggal pergi mencari nafkah dengan menjajakan dagangannya keliling kampung sehingga jarang sekali diberi air susu ibu (ASI). Lebih parah lagi, akibat tidak terpenuhi gizinya dengan baik, hingga umurnya sekarang dia belum bisa berjalan. "Saya harus bekerja, Pak. Masalahnya, suami saya hanya bekerja sebagai calo sepeda," ucap dia sembari menuturkan, penghasilan suaminya tidak dapat mencukupi kebutuhan rumah tangga mereka. Selanjutnya dia mengemukakan, akibat kemiskinannya itu dia harus rela kehilangan dua anaknya untuk selama-lamanya. Menurut penuturan dia, kedua anaknya meninggal juga karena tidak mendapat makanan yang mengandung vitamin dan protein. Karena telah mengalami hal tersebut, ketika melihat Siti menderita gejala gizi buruk, dia segera memeriksakannya ke puskesmas. Petugas gizi Puskesmas Ketanggungan Mustafiyah yang mendampingi ibu tujuh anak itu mengatakan, memang benar Siti menderita gizi buruk. Namun penyakit yang dialami anak itu belum terlalu parah, masih dalam kategori sedang. Dia mengemukakan, anak tersebut dikatakan terkena gizi buruk setelah melihat hasil perbandingan antara berat badan dan umur Siti yang tidak seimbang. Dia mengungkapkan, melihat kondisi demikian perlu adanya perhatian khusus terhadap anak tersebut. Sementara itu, puskesmas terus mengupayakan penyembuhan, antara lain dengan memeriksa satu minggu sekali dan memberi makanan pendamping bayi secara gratis. Dia mengharapkan, dengan adanya perhatian seperti itu kondisi tubuh Siti akan semakin baik dan cepat sembuh. (Moch Achid Nugroho-17j) |