| Jumat, 17 Juni 2005 | PANTURA |
Tumor Ganas Bersarang di Lutut"Kalau Kumat Rasanya Senut-senut..."SUDAH empat bulan ini Muhamad Helmi Farhan (15), tergeletak tak berdaya di pembaringan ruang depan rumahnya, RT 2 RW 8 Dukuh Bandung, Desa/Kecamatan Bumiayu, Brebes. Tubuhnya terlihat kurus tidak terawat dan wajahnya pucat seperti menyembunyikan beban berat. Siswa SMP Negeri 2 Bumiayu itu kini hanya pasrah menerima keadaan. Segumpal daging sebesar bola bersarang di lutut kanan sehingga Farhan tak bisa bergerak bebas. "Kalau lagi kumat rasanya senut-senut ," keluh dia sambil menunjukkan daging keras di lutut kanannya. Bagaimana penyakit ini bisa muncul? Dengan kalimat sepotong-sepotong, Farhan mengisahkan musibah kecil yang menimpanya saat berolahraga sepak bola di lapangan sekolah. Ketika itu kakinya terkena sambaran bola yang ditendang rekannya. Awalnya dia tidak mengindahkan rasa nyeri di persendian kakinya itu. Entah karena musibah itu atau sebab lain, selang beberapa minggu di titik nyeri itu muncul benjolan sebesar kelereng. "Karena terasa senut-senut, saya pijat pakai balsem," imbuhnya. Namun benjolan tidak juga mengempis, bahkan benjolan di kakinya itu kian membesar. Tanpa terasa, benjolan tersebut kini sudah sebesar bola. Upaya pengobatan pun dilakukan kedua orang tuanya, Waryono (45) dan Wartiyah (40). Anak ketiga dari tujuh bersaudara itu kemudian dibawa ke RSU Prof Dr Margono Soekardjo Purwokerto. Menurut keterangan dokter, Farhan menderita penyakit kanker tulang. Satu-satunya penyembuhan adalah diamputasi. Namun saran dokter ditolak Farhan. "Saya mau dioperasi, tapi jangan dipotong," kilahnya. Alasannya dia merasa kakinya masih bisa digerakkan normal. Akhirnya dokter menyatakan angkat tangan dan menyilakan orang tua Farhan mencari pengobatan lain. Makin Menderita Kian lama, benjolan di lutut Farhan kian membesar. Yang membuat dia makin menderita, benjolan belakangan juga muncul di bagian tubuh lain, seperti dada, kepala, dan punggung. Ketika sedang kumat, benjolan itu berdenyut panas. Pada malam hari, dia tidak bisa tidur karena menahan rasa nyeri. Karena gumpalan daging itu semakin menyakitkan, empat bulan terakhir Farhan sudah tidak mampu berangkat sekolah. Setiap hari dia hanya terbaring di tempat tidur. Sementara itu untuk keperluan di tempat mandi, Farhan dibantu kruk untuk menopang tubuhnya saat berjalan. Waryono, ayahnya mengemukakan, pihaknya telah mengobatkan Farhan dengan pengobatan alternatif di Dukuh Talok, Desa Dukuhturi, Bumiayu. Di tempat itu, gumpalan daging di kaki Farhan dipijat untuk mencegah pembesaran daging. Dia juga menambahkan, sebenarnya dia ingin membawa anaknya ke tempat pengobatan yang terjamin. Namun buruh pasar hewan Bumiayu itu tidak mampu menanggung biayanya. Penghasilannya dari membawa kambing di pasar hewan itu masih serba kurang untuk menghidupi ketujuh anaknya, apalagi mengobatkan Farhan ke rumah sakit besar. Harapan dia satu-satunya adalah ada dermawan yang berkenan membantu biaya operasi Farhan sehingga penderitaan anaknya itu berakhir. (Suwandono-17m) |