| Jumat, 17 Juni 2005 | OLAHRAGA |
Festival Tinju Anak Kuda Sakti Cup IIPamer Kebolehan di Depan Pencetak Juara DuniaHUJAN deras yang mengguyur Kota Semarang, Minggu (12/6) lalu, sejak pukul 16.00 - 18.00 WIB tak menyurutkan semangat anak-anak SD dan SMP untuk mengikuti pertandingan Festival Tinju Anak Kuda Sakti Cup II yang digelar di aula sasana Bank Buana Indonesia di Kampung Lasipin 31 (Jl dr Cipto) Semarang. Memperlihatkan kebolehan ditonton HM Sutan Rambing, sang pencetak Chrisjon juara dunia kelas bulu WBA, merupakan suatu kebanggaan. Namun tak sedikit yang tampil grogi. Peristiwa lucu terjadi kala Maulana (Wijayakusuma) tiba-tiba emoh bertanding, padahal ia sudah datang. Pelatihnya, Suryawan (mantan juara Jateng) mencoba membujuknya, namun gagal. Yah harap maklum, namanya juga anak-anak. Sebelum beraksi para petinju cilik divisi mini yr (11-14 tahun) mendapatkan suntikan motivasi dari Sutan Rambing (manajer sasana BBI) yang telah mencetak banyak juara nasional dan internasional. ''Tinju merupakan pilihan tepat kalian, namun kalian harus tetap menomorsatukan sekolah. Kalau kalian pendidikannya tinggi, kalian akan gampang mencari pekerjaan," tandas Sutan Rambing yang disambut tepuk tangan bergemuruh peserta. Mantan juara nasional kelas bantam dan super bantam ini menambahkan, tinju bisa membuat seseorang menjadi kaya. ''Lihat petinju Chrisjon, juara dunia kelas bulu WBA yang sekali naik ring bisa mendapatkan bayaran Rp 400 juta-Rp 900 juta. Kemudian petinju-petinju dari BBI seperti Monte Negro, M Kholili, Roy Muklish dan lain-lainnya, tarifnya Rp 3 juta untuk tampil 10 ronde di TVRI.'' Ibnu Petinju Berbakat Festival yang berlangsung dua jam penuh, mempertandingkan delapan partai, dibuka duel seru dua petinju cilik berusia 9 tahun di kelas 28 kg antara Danny (Kuda Sakti A Semarang) melawan Lukman (Kuda Sakti B Semarang). Pertarungan yang berlangsung tiga ronde masing-masing 1,5 menit yang dipimpin wasit Mediono berlangsung cukup seru. Kedua bocah cilik ini secara silih berganti melontarkan pukulan jab-straight secara bersih. Partai tak kalah menarik lainnya di kelas 30 kg, Sofian (Kuda Sakti) melawan Nanang (Damri), kelas 32 kg Eric (Kuda Sakti) melawan Udin (Damri), Zamroni (Wijayakusuma) melawan Imam (Damri), kelas 36 kg Riyan (Kuda Sakti) vs Dita (Damri), kelas 38 kg Ibnu (Kuda Sakti) vs Adi Saputro (Wijayakusuma), kelas 42 kg M Hasan (BBI) vs Nurhasmi Wijaya (Damri) dan M Solikin (Kuda Sakti) vs Ari Nugroho (Damri). ''Ayo tangan jangan turun, tetap di atas," teriak Wuryanto (pelatih Damri) memberikan semangat anak didiknya yang berjibaku di atas ring. Untuk festival kali ini penilaian berdasarkan teknis bertinju, terpilihlah tiga petinju berbakat terbaik Ibnu (12 tahun) siswa kelas V SD Karangayu Semarang, kemudian Sofian (I1 tahun) siswa kelas IV AI-Hikmah Krobokan Semarang dan Adi Saputro (12 tahun) siswa kelas V SD AI-Hikmah Semarang. Masing-masing mendapatkan piala dari panitia yang diserahkan Sutan Rambing dan Wuryanto (mantan juara nasional amatir). Menurut Sutan Rambing, mereka semuanya sudah tampil cukup bagus. Mereka semua ini baru bahan, sekarang bagaimana menggarap mereka dengan teknis dan metode latihan yang benar, jangan sampai keliru. Mereka harus benar-benar memiliki dasar bertinju, memukul dan menghindar secara mahir. ''Tinju bulanan ini sengaja diadakan, agar anak-anak mau terus berlatih tinju sampai berprestasi maksimal,'' tandas Didik Hartanto (mantan juara PON XII 1989) manajer Kuda Sakti. Dan mudah-mudahan Festival Tinju Anak ini bisa digelar secara rutin setiap bulan, sebab suatu keberhasilan akan terwujud bila dilakukan secara rutin. (Paulus Noor Mulia) |