| Jumat, 17 Juni 2005 | MURIA |
Tiga Bersaudara Menderita LumpuhMakan Disuapi, Buang Air DigendongKECERIAAN masa kanak-kanak harus dilupakan tiga bersaudara, Rudiyanto (16), Supriyadi (8), dan Hari (5). Tiga putra pasangan suami istri Ngadi (45) dan Yatmi (40) warga Dusun Ngampon Wetan, Kelurahan Beran, Kecamatan Blora itu harus rela menikmati masa kanak-kanaknya dengan hanya tidur-tiduran di atas kasur. Ketiga bersaudara ini divonis menderita kelumpuhan dan keterbelakangan mental. Meski demikian, tidak tampak kesedihan di wajah ketiga anak tersebut. Mereka berupaya tetap menikmati masa kanak-kanaknya. Untuk menghibur ketiganya, orang tua mereka sengaja membelikan sebuah televisi dan memutarkan film-film anak-anak. Dengan beralaskan tikar di lantai, ketiganya tetap menikmati hiburan dari sebuah televisi meski derita penyakit lumpuh dan keterbelakangan mental menghinggapi mereka. ''Beginilah kehidupan kami sehari-hari. Kami berupaya anak-anak ini tetap ceria, meski mereka tidak bisa berjalan dan mengalami gangguan jiwa,'' ujar Yatmi, ibu dari ketiga anak ini kepada Suara Merdeka di rumahnya, kemarin. Memang, di saat kasus penyakit lumpuh layu mencuat secara nasional, ternyata di Blora ada tiga orang anak yang mengalami kelumpuhan. Tragisnya lagi, ketiga anak itu masih ada hubungan keluarga. Selain mengalami kelumpuhan, ketiga anak ini ternyata juga menderita keterbelakangan mental. Praktis, di saat teman sebaya mereka asyik bermain, ketiga bocah ini harus rela terbaring di tempat tidur tanpa bisa beraktivitas apa-apa. Menurut Yatmi, kelumpuhan tiga dari empat orang anaknya tersebut sudah dialami semenjak lahir. Padahal menurut Yatmi, dirinya tidak pernah lupa memberikan beberapa imunisasi serta memeriksakan kesehatan ketiga anaknya tersebut. Mereka hingga sekarang tidak bisa berkomunikasi dengan orang lain. Semua kebutuhan sehari-hari, seperti makan ataupun buang air harus dibantu kedua orang tuanya. ''Kami tetap bersabar. Kami berupaya membahagiakan mereka. Makan kami suapi, kalau ingin buang air kami gendong ke kamar mandi,'' tandas Yatmi. Yatmi berharap anak bungsunya, Slamet (8 bulan), tidak akan mengalami nasib seperti ketiga kakaknya itu. Menurutnya, saat ini Slamet masih dalam kondisi normal seperti bayi pada umumnya. Saat ini pasangan Ngadi dan Yatmi hanya bisa pasrah dengan nasib yang menimpa keluarganya tersebut. Untuk mengobati penyakit anaknya itu, Yatmi mengaku tidak mampu. Pasalnya, penghasilan yang didapat suami, Ngadi, sebagai buruh serabutan hanya cukup untuk kebutuhan makan sehari-hari. Dengan kondisi ekonomi keluarga yang seperti itu, Yatmi hanya bisa berharap bantuan dari pemerintah ataupun dermawan lain sehingga ketiga anaknya itu bisa sembuh. (Abdul Muiz-15h) |