logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 17 Juni 2005 MURIA
Line

''Jangan Sia-siakan Sebutir Nasi''

DI RUMAH, restoran, atau di sebuah jamuan pesta, seonggok nasi dan lauk pauk lengkap pastilah memiliki daya pikat tinggi, apalagi disandingkan dengan menu pelengkap seperti minuman segar dan buah pencuci mulut yang ranum. Selera makan pasti tergoda. Tapi lihatlah, tak banyak orang memperhatikan butiran-butiran nasi (upo: Jawa) sisa santapannya di piring, meja makan, atau yang masih menempel di sekitar mulut.

Banyak yang tak menghiraukan, satu butir upo dibuat melalui proses yang panjang, melibatkan sekian macam alat, sekian banyak tenaga manusia, menyita ruang dan waktu, hingga proses itu menjadi bagian dari perjalanan peradaban dari masa ke masa. Orang pun karena kelalaiannya, tak mau ambil pusing dengan upo-upo itu.

Demikian disampaikan Habib Muhammad Lutfi bin Yahya asal Pekalongan saat menyampaikan mutiara hikmah di hadapan ribuan umat muslim dari Jepara dan daerah sekitar pada acara Haul Akbar Syeikh Abu Bakar bin Yahya Ba'alawi di makam Pulau Panjang, sekitar 1,5 mil arah barat Pantai Kartini Jepara, Kamis (15/6). Hadir juga Bupati Jepara Drs H Hendro Martojo MM, Ketua DPRD H Ahmad Marzuqi SE, dan segenap unsur muspida.

Syeikh Abu Bakar merupakan ulama besar abad IV, sebagai penyebar nilai-nilai Islam yang menjadi cikal bakal di Jepara serta memiliki keterkaitan misi dengan sejumlah ulama-ulama besar daerah lain di masanya. Makamnya ada di Pulau Panjang dan sering diziarahi umat muslim dari berbagai daerah.

Digambarkan Habib Lutfi, rasanya tak ada satu orang yang bisa membuat upo, mulai awal hingga akhir proses.

Bahkan untuk mengenal upo pun butuh orang lain, yaitu orang-orang yang telah mewarnai sejarah masa lampau. ''Cik kemakine nemen menungso iku kalian sing namine upo. Wong piyambake mboten saget ndamel. (Sombong betul manusia dengan sebutir nasi, yang ia sendiri tak bisa menciptanya),'' tuturnya.

Habib Lutfi mengingatkan, proses perjalanan sejarah (walau sekecil proses terbentuknya sebutir nasi) bisa menjadi pengingat, betapa ada keterkaitan antara manusia satu dengan manusia lain di masa yang berbeda. ''Mulane aja congkrah, yen ora pingin wong-wong dhisik lan anak putu padha nangis. Hormati proses kersane rahmat rupa katentreman bisa kagayuh. (Makanya jangan serakah, kalau tidak ingin para pendahulu dan anak cucu menangis. Hormati proses agar rahmat berupa kedamaian bisa terengkuh),'' tambahnya.

Habib Lutfi menuturkan hal itu karena seringkali keserakahan manusia menjadi biang terjadinya ketidaktentraman di tengah-tengah kehidupan. Sementara keserakahan biasanya disulut dari tipisnya rasa syukur manusia kepada Sang Pencipta, termasuk mensyukuri hal-hal kecil, sekecil upo. (Muhammadun Sanomae, Sukardi-15h)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA