| Jumat, 17 Juni 2005 | SEMARANG |
Hendy Boedoro Memberdayakan Masyarakat Desa
MEMBERDAYAKAN masyarakat pedesaan menjadi bagian yang telah dilakukan H Hendy Boedoro SH MSi. Selama lima tahun memimpin Kabupaten Kendal (2000-2005), perhatian pada masyarakat kecil menjadi hal yang utama. Sebagai contoh, ketika memberdayakan masyarakat pedesaan yang sebenarnya memiliki keterampilan, namun mengalami keterbatasan modal. Padahal, wilayah yang ditempati warganya tersebut juga memiliki potensi untuk sebuah pengembangan bidang peternakan. Dari potensi dan keterbatasan yang ada, diberikan pada para peternak yang tergabung dalam kelompok tani berupa sapi kereman (sapi potong jantan) maupun bibit (sapi potong betina). Pendanaan untuk pemberian bantuan itu dari dana alokasi umum (DAU) yang ada di APBD Kabupaten Kendal (sebagian besar) maupun instruksi gubernur (ingub). Dalam program pemberdayaan itu, Pemerintah Kabupaten Kendal menyalurkan sapi ke peternak yang memiliki kelompok tani. Sapi tersebut kemudian dipelihara hingga pada saatnya nanti bisa dijual. Keuntungan dari hasil penjualan tersebut 60%-nya menjadi hak dari peternak, sedangkan yang 40% ditambah dengan modal kembali ke Pemkab. Modal yang telah kembali lagi ke Pemkab, selanjutnya digulirkan lagi melalui program yang sama. Menurut Hendy, penyebaran ternak sapi kereman tersebut bertujuan meningkatkan kesuburan tanah dengan pemanfaatan pupuk kandang untuk kegiatan pertanian tanaman pangan. Selain itu, membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat pedesaan, serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan para peternak. ''Harapannya, ke depan Kendal bisa menjadi sumber bibit sapi potong yang potensial,'' kata Hendy yang juga calon bupati Kendal 2005-2010, berpasangan dengan cawabup Dra Hj Siti Nurmarkesi tersebut. Harapan itu tentu disertai dengan daya dukung yang ada selama ini. Di antaranya, ada pos-pos khusus untuk cek kesehatan hewan di Kecamatan Weleri, Boja, dan Sukorejo. Selain itu, juga didukung adanya sembilan pos inseminasi buatan (kawin suntik) yang berada di Kecamatan Plantungan sebanyak 1 pos, Sukorejo (3 pos), Patean (2 pos), Singorojo (1 pos), Limbangan (1 pos), dan Pegeruyung (1 pos). Keberadaan pasar hewan di tiap-tiap eks kawedanan yakni Sukorejo, Boja, Weleri, dan Kendal juga merupakan salah satu daya dukung. Di samping itu, dukungan juga muncul dari antusiasme peternak, ketersediaan pakan ternak, dan kondisi alam yang memadai. Semasa kepemimpinan Hendy Boedoro, sudah ada 986 ekor sapi kereman yang disalurkan, baik yang pendanaannya bersumber dari DAU Kabupaten Kendal maupun ingub. Pada 2001, dari DAU disalurkan Rp 200 juta untuk 80 ekor sapi. Kontribusi yang didapatkan dari situ yakni Rp 13.135.000 untuk penggaduh, sedangkan pemerintah Rp 144.485.000. Di tahun 2002, dikucurkan Rp 300 juta dari DAU untuk 100 ekor sapi. Kontribusi yang diperoleh mencapai Rp 26.410.00 untuk penggaduh dan Rp 236.790.000 untuk pemerintah. Masih di tahun yang sama, dari dana ingub sebesar Rp 225 juta telah disalurkan 75 ekor sapi, dan memberikan kontribusi bagi penggaduh sebesar Rp 19.387.500, sedangkan pemerintah Rp 187.537.500. Pada 2003, bersumber dari DAU, disalurkan Rp 375 juta untuk 100 ekor sapi. Kontribusi yang didapatkan yakni Rp 38.619.120 untuk penggaduh, sedangkan pemerintah Rp 371.971.080. Adapun pada 2004, dikucurkan Rp 1.133.810.000 dari DAU untuk pengembangan 291 ekor sapi kereman. Kontribusi yang diperoleh penggaduh sebesar Rp 117.292.980, sedangkan pemerintah 1.204.488.640. Sementara di 2005, dari DAU dikucurkan Rp 1.334.500.000 untuk pengembangan 340 ekor sapi kereman. Sampai saat ini, total kontribusi yang telah diperoleh penggaduh mencapai Rp 214.844.580, sedangkan pemerintah Rp 2.145.272.220. Khusus pada 2005, 340 ekor ternak sapi kereman disebar ke sepuluh desa dengan jumlah peternak mencapai 182 orang. Kesepuluh desa itu yakni Ngabean Kecamatan Boja dengan 70 ekor sapi pada 33 orang peternak, Kartikajaya, Patebon (26 sapi, 13 peternak), Wonosari, Patebon (24 sapi, 10 peternak), Peron, Sukorejo (40 sapi, 20 peternak), Damarjati, Sukorejo (30 sapi, 15 peternak), Pesaren, Sukorejo (24 sapi, 12 peternak), Krikil, Pageruyung (30 sapi, 15 peternak), Getas, Singorojo (40 sapi, 24 peternak), Sukodadi, Singorojo (24 sapi, 24 peternak), dan Gondang, Limbangan (32 sapi, 16 peternak). Pola penyebaran sapi kereman berpedoman pada SK Bupati Kendal No 28 Tahun 2001 tentang Tata Cara Pengelolaan Penggemukan Ternak Milik Pemkab. Penentuan lokasi penyebaran didasarkan pada potensi tersedianya hijauan pakan ternak, kemampuan peternak dalam budi daya, dan kesanggupan menaati surat perjanjian gaduhan sapi kereman. (*) |