| Jumat, 17 Juni 2005 | SEMARANG |
Deklarasi Kota MaritimKOTA Semarang sangat tepat dijadikan Kota Maritim. Selain memiliki Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang juga memiliki daerah pendukung seperti Kendal, Ungaran, Demak, dan Grobogan. Daerah pendukung itu memiliki potensi perkebunan, industri, pertambakan, pertanian, dan agrobisnis. ''Dibutuhkan dukungan penuh dari warga Kota ATLAS untuk bersama-sama mendeklarasikan Kota Semarang sebagai Kota Maritim,'' tegas R Teguh Raharjo SPel, Sekretaris Forum Masyarakat Maritim Indonesia (Formmi) Jateng, saat ditemui di kantornya di Kampus AMNI Jl Soekarno-Hatta 180, kemarin. Selain Pelabuhan Tanjung Emas, Kota Semarang juga memiliki Sungai Banjirkanal Timur dan Barat. Kedua sungai itu jika dikeruk, bisa menjadi aset wisata yang representatif. Kapal-kapal kecil bisa bersandar di dekat Jembatan Mberok, atau bisa juga berlayar hingga Tugu Suharto di Sampangan. ''Semarang juga sudah memiliki aset yang cukup banyak dalam dunia lembaga pendidikan tinggi kemaritiman. Seperti Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP), AMNI, Akpelni, Akademi Teknik Perkapalan (ATP), dan Growth Centre, di lingkungan Kopertis, Bendan Dhuwur, Sampangan. Bahkan, di Growth Centre itu ada laboratorium bahari bantuan Pemerintah Jerman.'' Namun untuk menjadikan Kota Semarang sebagai Kota Maritim, perlu sinergi antara para berbagai elemen masyarakat, stakeholder, Pemkot, dan Pemprov Jateng. Tujuannya, agar visi dan misi Semarang sebagai Kota Maritim itu jelas. ''Baru-baru ini kami sudah bertemu dengan Wagub Ali Mufiz mengenai hal itu. Dalam bulan Juli, Formmi akan melakukan pertemuan di Hotel Santika Semarang.'' Dosen Amni yang juga Sekretaris Yayasan Pembina Kemaritiman Indonesia (Yasbinmar) Semarang, itu juga menyatakan prihatin dengan kebijakan pemerintah pusat yang mengarahkan Indonesia sebagai negara agraris. Padahal, Indonesia itu negara maritim. ''Sebagai negara maritim, sebenarnya Indonesia bisa mengeksplorasi secara besar-besaran potensi kemaritiman. Baik itu perikanan dan pelayaran. Namun yang terjadi saat ini banyak nelayan asing yang mencuri ikan di perairan Indonesia,'' katanya. Tak hanya itu, banyak kapal besar yang lebih senang bersandar di pelabuhan Malaysia. Setelah itu, dengan kapal-kapal yang lebih kecil, barang-barang itu diangkut ke pelabuhan-pelabuhan di Indonesia. Alasan para awak kapal asing itu beragam. Antara lain peralatan yang ada di pelabuhan Indonesia kalah maju di banding Malaysia. (Ali Arifin Muhlish-36) |