logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 17 Juni 2005 KEDU & DIY
Line

Nasib Empat Anak Bergizi Buruk

Anita Hanya Bisa Tergolek Lemah di RSU

MATANYA yang sayu tetap terbuka namun sudah tak begitu merespons. Jangankan untuk menangis, merintih pun seolah tak mampu. Begitulah nasib Anita Prasetya (4), bocah perempuan yang tergolek lemah di RSU Kebumen.

Balita dari Desa Pasarsenen, Kecamaan Ambal, Kabupaten Kebumen itu sudah termasuk kategori penderita busung lapar. Lihatlah kulitnya yang mengeriput, perutnya mulai membesar, dan kedua telapak kakinya membengkak.

Di lengan kirinya dimasukkan ke selang. ''Itu bukan oksigen melainkan selang untuk memasukkan zat makanan,'' ungkap Direkur RSUD Kebumen dokter HA Budi Satrio MKes, Rabu.

Menurut penuturan ibu Anita, Ny Jeminah (40), bocah tersebut anak nomor kesembilan. Sementara itu, suaminya yang hanya buruh tani. Sebelum dibawa ke RSU Kebumen, anak itu dirawat di Balai Kesehatan Siti Khodijah. Namun setelah beberapa hari dirawat, balai kesehatan tersebut merasa tak mampu dan dirujuk ke RSU.

Kini, berat badan Anita hanya 8,7 kg. Jeminah pun hanya bisa pasrah menerima cobaan yang menimpa anaknya karena memang dia keluarga tak mampu. Sementara itu dokter Budi Satrio mengungkapkan, karena telah telanjur menjadi penderita, pihaknya harus bisa mengobati semampunya.

Saat ini, Anita ditangani dokter spesialis anak di Bangsal Melati yang khusus merawat anak. Akan tetapi Budi berharap, Dinkes dan Pemkab segera turun tangan memberikan bantuan dalam bentuk makanan tambahan untuk gizi. ''Selama ini, di bangsal bocah itu hanya kami beri makanan jatah karena dana yang terbatas,'' ujarnya.

Lain lagi derita Rinara Sugiarti (8). Nasib bocah itu tak seindah namanya. Pasalnya, bocah perempuan asal Desa Pekuwon Selatan, Karanganyar yang dirawat di Bangsal Melati RSU itu tak hanya menderita gizi buruk. Dia juga mengalami kegagalan tumbuh kembang.

Kurang Gizi

Kondisinya pun mengenaskan. Berat badan Rinara hanya 12 kg. Rinara yang juga kena tifus itu ditunggui ibunya, Ny Sutiyah (44). Dia anak kedelapan dari pasangan Sutiyah dan Moh Rofingi yang juga hanya buruh tani.

Menurut keterangan perawat Bangsa Melati Ny Sri Purwaningsih, kasus Rinara termasuk gagal tumbuh kembang segalanya. Sebab, saat dilahirkan berat badannya hanya 9 ons dan pertumbuhannya tergolong susah. ''Faktor gizi dan orang tua agaknya menjadi penyebab penderitaan anak ini,'' katanya.

Nasib memelas dialami Turgiyati. Bayi delapan bulan yang berkulit putih itu sebenarnya terlihat lincah. Namun, lagi-lagi faktor kemiskinan orang tua menyebabkan Turgiyati juga menderita gizi buruk alias kekurangan gizi.

Berat badan bayi dari Desa Jlegiwinangun, Kecamatan Kutowinangun ini hanya 3,6 kg. Kedua orang tuanya, Tarmini dan Wahid, hanya buruh tani. Sementara itu, semua anaknya ada enam. Maklumlah, bila si bungsu Turgiyati itu tergolong kekurangan gizi.

Turgiyati selama dirawat di RSU mendapat menu bubur halus tinggi kalori dan susu. Sudah tiga hari ini dia dirawat di rumah sakit. Menurut keterangan ibunya, kondisinya mulai membaik dan wajahnya agak cerah.

Anak keempat yang ikut dirawat di Bangsal Melati bernama Mustikaning Ana Nur Hidayah dari Desa Bumiharjo, Kecamatan Klirong. Berat bayi tiga bulan itu hanya 2,2 kg dan didiagnosis menderita cacat bawaan sejenis idiot.

Menurut keterangan seorang perawat, besar kemungkinan karena saat di kandungan sudah tidak sehat. Sebab ibunya, Maisaroh, mengandung anak pertamanya dalam usia 40 tahun. Penyakitnya tergolong down syndrome, kemungkinan besar juga karena faktor kemiskinan.

Dokter Budi Satrio mengungkapkan, sejak Januari hingga Juni ini memang ada lima anak yang menderita gizi buruk dirawat di RSU dan dua anak telah pulang. Namun dia meyayangkan, semestinya sejak dini anak tersebut bisa dideteksi di posyandu atau puskesmas. Hal itu mengingat, tiap tiga bulan anak-anak balita itu selalu dimonitor. (Komper Wardopo-55j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA