| Jumat, 17 Juni 2005 | KEDU & DIY |
Keterbatasan SDM Menjadi Peluang PTMMAGELANG - Keterbatasan daerah terutama pada kesiapan sumber daya manusia (SDM) memberikan peluang dan tantangan perguruan tinggi (PT). ''Perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM) harus proaktif menyongsong peluang emas tersebut. Peningkatan kualitas dan akuntabilitas yang berkesinambungan adalah roh PTM,'' ungkap Dr Chairil Anwar, kemarin. Rektor Universitas Muhammadiyah Magelang itu mengemukakan, enam perguruan tinggi negeri (PTN), yaitu UI, IPB, ITB, UGM, USU, dan UPI, disiapkan menyongsong otonomi PT terutama dalam bidang keuangan sehingga mampu membiayai sendiri operasionalnya. ''Memang belum diperoleh formula yang tepat. Namun, beberapa program studi terutama yang laku sudah membuat tarif untuk tiap-tiap pengajar yang akan ngobyek di luar,'' katanya. Dalam seminar menyongsong Muktamar Muhamamdiyah Ke-45, dia mengemukakan, hanya beberapa program studi yang bisa mandiri. Sebagian besar masih memerlukan subsidi yang relatif besar. Padahal tidak mungkin suatu PT dapat bertahan dengan hanya mengandalkan SPP mahasiswa tanpa ada upaya tambahan dana dari sumber lain. ''Umumnya bila SPP mahasiswa tinggi, sebuah PT dapat tumbuh berkembang dengan baik dan berkualitas. Namun, tak mungkin menarik SPP setinggi-tingginya karena penetapan besarnya SPP untuk PTN adalah wewenang Pemerintah Pusat dengan memperhatikan kondisi daerah,'' paparnya. Empat Konsep Direktur Program Pascasarjana Universitas Achmad Dahlan Yogyakarta yang juga Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta Prof Dr H Noeng Muhadjir menyebutkan empat konsep dasar kebijakan pengembangan program PTM, yaitu reaktif, prediktif, proaktif, dan antisipatif. Reaktif sekadar menjawab aksi dan prediktif membuat pengembangan linier masa lampau. Proaktif membuka peluang masuknya pemikiran baru untuk pengembangan masa depan. Antisipatif, yaitu secara aktif mengonstruksi masa depan, meminimalkan hambatan, mengoptimalkan pendukung, dan memasukkan faktor-faktor baru yang inventif dan inovatif. Sementara itu, ujar Noeng, pengembangan program difokuskan pada tiga bidang keahlian. Pertama, memilih program yang menghasilkan percepatan eksponensial. Kedua, mengadakan program prioritas yang dapat mengukuhkan karakter bangsa dan memberi value added yang tinggi. Ketiga, mengembangkan program yang memberi multiplier effects. (pr-55j) |