| Jumat, 17 Juni 2005 | BUDAYA |
Ki Djoko Bentuk Orkes KeroncongBERAWAL dari keprihatinan akan keterpurukan musik keroncong akhir-akhir ini, dalang Ki HM Djoko ''Edan'' Hadiwidjaja bangkit membidani kelahiran Orkes Keroncong (OK) Paradox. ''Paradox artinya kelihatannya salah tetapi tidak salah. Dan musisi muda yang bergabung bertekat membuat warna baru bagi kebangkitan keroncong modern,'' kata Ki Djoko, di sela-sela acara latihan di Pudakpayung, Semarang, baru-baru ini. Dalam latihan itu, warna musik yang ditampilkan enerjik dan dinamis. Birama musiknya meski tidak meninggalkan aliran aslinya, tetap berhasil ditampilkan secara menyatu dalam dinamika jiwa anak muda. Gagasan tampil beda tentunya tidak lepas dari keinginan dalang yang dikenal spektakuler dalam setiap pergelaran ringgit purwo. Maka jangan kaget jika musik yang monoton, diaransemen bagai sebuah orkestra mini. Itulah OK Paradox yang ditetapkan kelahirannya pada 14 Juni 2005 dengan personel musisi muda. Penyegaran Menurut Ki Djoko, orkes yang didirikan itu nantinya akan dilengkapi dengan saksofon, trombon, dan flute. Instrumen musik tersebut, diharapkan bisa menyegarkan kehidupan orkes keroncong yang hampir dilupakan para kawula muda. Kelompok musik yang bermarkas di Jalan Argo Mukti II/607, Graha Mukti, Tlogosari Kulon dan dikomandani Wuryanto SH ini memiliki jadwal latihan setiap Senin di Lamper Tengah. Sekretaris dan bendahara Paradox dipercayakan kepada Aries Suryono dan Bambang Supriyadi. Personelnya terdiri atas Bambang Supriyadi (flute), Sinang (biola), Kecuk (gitar), Bambang Wisnu (celo), Titis (cuk), Siswanto (banjo), dan Coki (bas). Sedangkan penyanyi diemban Hj Nurhana, Safitri, Nike Tejawati, Aries Suryono, dan Wuryanto. Dengan hadirnya orkes keroncong ini, Ki Djoko yang selalu tampil beda dan menggelitik ini memiliki dua grup musik, Wijayalaras (campursari) dan Paradox(keroncong). (Priyonggo-45) |