logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 17 Juni 2005 BUDAYA
Line

''Mister Mendem'' Bawa Mega Laras Juara

''I started a joke/which started the whole world crying/but I didn't see/that the joke was on me...''

BUKAN H Mardiyanto namanya kalau cuma duduk-duduk dan berdiam diri saat menghadiri acara pementasan. Hampir dapat dipastikan, dalam acara-acara semacam itu, ia turut unjuk kebolehan.

Demikian halnya dengan yang terjadi Rabu (15/6) malam. Dalam Festival Campursari Tingkat Jawa Tengah yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Jateng di Audirorium RRI Semarang itu, ia menyumbangkan dua tembang.

Dan hampir dapat dipastikan pula, performa Gubernur Jawa Tengah tersebut mendapat sambutan hangat dari penonton. Bukan lantaran ewuh-pakewuh melainkan karena aksi panggungnya betul-betul memesona.

Mardiyanto memulakan penampilannya dengan ''I Started a Joke''. Tembang tersebut dibawakan dalam gaya pelantun aslinya: The Bee Gees. Pada awalnya cuma biasa-biasa saja. Namun begitu memasuki refrain, irama lagu tersebut berubah menjadi campursari. Tak cuma itu, lima perempuan yang menjadi penyanyi latar tiba-tiba memasukkan tembang berbahasa jawa ''Bocah Ndesa''.

Sebuah kejutan kecil memang, tapi cukup membuat ruangan kedap suara itu riuh rendah oleh gemuruh tepuk-tangan. Penghargaan serupa juga ia terima seusai menuntaskan tembang kedua ''Cinta tak Terpisahkan'' (Cak Dikin).

Selingan

Tentu saja aksi panggung Mardiyanto hanyalah selingan. Sebab menu utama acara yang digelar dalam rangka Hari Jadi Ke-55 Provinsi Jateng tersebut adalah penampilan enam orkes campursari peserta festival.

Mereka masing-masing mewakili wilayah Badan Koordinasi Pembangunan Lintas Kabupaten/Kota. Yakni Mega Laras (Kabupaten Banyumas), Argo Laras (Kabupaten Semarang), Cokro Kembang (Kabupaten Klaten), Manunggal Tanpa Beban (Kabupaten Magelang), Sasono Daeng Budaya (Kabupaten Pemalang), dan Seheing Krido Murti (Kabupaten Pati).

Setiap orkes mendapat kesempatan membawakan tiga tembang. Satu tembang dinyanyikan biduan laki-laki, satu lainnya perempuan, sedangkan tembang ketiga dibawakan berbarengan.

Di antara peserta, penampilan orkes Mega Laras cukup menyita perhatian. Biduan mereka, Mulyono dan Meny, tak sekadar bermodal suara emas tapi juga dengan gaya panggung yang atraktif. Sehinga tiga tembang yang mereka bawakan, yakni ''Setya Tuhu'', ''Lintang Panjer'' dan ''Mister Mendem'' menjadi hidup.

Bagai bersepakat dengan penonton, dewan juri yang beranggotakan Widodo SKar (dosen Sendratasik Unnes), Kelly Puspito (komposer), dan Y Sugiarto (seniman) menahbiskan Mega Laras sebagai penyaji terbaik, alias juara pertama.

Tak cuma itu saja, Mulyono juga mendapat predikat vokalis putra terbaik, mendampingi Tutik Utami (Manunggal Tanpa Beban) sebagai penyanyi terbaik puteri.

Atas prestasi tersebut, Mega Laras berhak mendapat Trofi Gubernur, piagam penghargaan dan uang tunai Rp 6 juta. Argo Laras (juara II) memperoleh Rp 5 juta, dan Cokro Kembang (juara III) Rp 4 juta. Penyanyi terbaik masing-masing Rp 1,5 juta, sedangkan aransemen terbaik mendapat Rp 1 juta. (Rukardi,Widodo Prasetyo-45)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA