| Jumat, 17 Juni 2005 | BANYUMAS |
Pasar Induk Tak Akan DipindahPURBALINGGA- Calon bupati Triyono Budi Sasongko berjanji tak akan memindah Pasar Induk. Dia menyampaikan hal itu saat menjawab pertanyaan Ali, warga Kelurahan Purbalingga Lor, Kecamatan Kota. Tanya-jawab itu terjadi dalam "Dialog Udara Bersama Calon Bupati dan Wakil Bupati" yang diudarakan Radio Suara Perwira, kemarin. Dialog lewat telepon, kerja sama Pemerintah Kabupaten Purbalingga dan wartawan itu disiarkan dua hari (16-17/6) pukul 06.00-08.00. Didampingi calon wakil bupati Heru Sudjatmoko, Bupati Purbalingga periode 2000-2005 itu mengakui dalam rencana umum tata ruang wilayah jangka panjang 25 tahun ke depan ada rencana menggeser pasar itu ke wilayah utara. Namun untuk jangka lima tahun ke depan pasar itu tak akan dipindah. ''Pelaksanaannya kelak disesuaikan dengan aspirasi pedagang. Selama lima tahun ke depan saya kira Pasar Kota yang sekarang masih bisa kita pertahankan. Tinggal ditaati betul pemanfaatannya atau tidak. Sebab, di dalam pasar masih ada los yang tidak dipakai untuk jualan, malah untuk gudang,'' katanya. Penggunaan gudang itulah yang kelak ditertibkan. Dia juga berharap kegiatan di pasar tak meluap ke luar karena jelas mengganggu kelancaran lalu lintas, keindahan, dan ketertiban. ''Jadi saya minta para pedagang pasar tidak resah dan gelisah.'' Pemulung Asdi, warga Bobotsari, meminta Triyono memikirkan masa depan anak-anak usia sekolah. Sebab, dia prihatin di sekitarnya cukup banyak anak usia sekolah jadi pemulung. Dia juga menanyakan mengapa lapangan kerja di Purbalingga lebih banyak untuk wanita. ''Pendidikan adalah salah satu pilar pembangunan. Saat menjadi bupati saya mencanangkan program wajib belajar sembilan tahun tuntas tahun 2006. Sekarang angka partisipasi 92,17%. Jadi tinggal 8% yang belum tuntas. Dalam APBD 2005 pos pendidikan saya alokasikan 22,5%,'' kata Triyono. Jadi, kata dia, tinggal menjabarkan anggaran itu untuk program pendidikan. Dia menyatakan tahun 2006 tidak akan ada lagi anak-anak usia SD-SMP tidak sekolah. Jika itu sukses akan dilanjutkan wajib belajar 12 tahun dan tuntas tahun 2009. Pada tahun itu anak-anak minimal harus lulus SMA dan sederajat. ''Mengenai lapangan pekerjaan bagi pria, saya kira banyak juga di industri perkayuan, kerajinan, dan pengolah bahan pangan. Jadi pemerintah tak pilih kasih dengan memperluas lapangan untuk wanita. Semua lapangan kerja tersedia baik pria maupun wanita. Tinggal bagaimana kita meningkatkan kualitas kemampuan diri.'' (F10-53) |