| Rabu, 15 Juni 2005 | SALA |
PSK Perlu Periksa DarahSIAPA mengira kalau di kota kecil seperti Sragen ternyata sudah ada warga yang terjangkit AIDS. Sht (42) pengusaha buah melon warga Desa Tenggak, Kecamatan Sidoharjo, kini hanya tergolek lemah di RSUD Sragen. Kapan dan di mana dia terjangkit penyakit mematikan itu, memang tak seorang pun yang tahu. Namun dengan adanya hal itu, masyarakat semakin waspada dan dapat menemukan bukti betapa ganasnya penyakit yang belum ada obatnya tersebut. Berikut petikan wawancara Suara Merdeka dengan dokter H Untung Mardikanto, ketua Dewan Kesehatan Kabupaten Sragen. Kapan Sht terkena AIDS ? Ya saya tak tahu persis. Yang pasti dia memang terjangkit penyakit membahayakan itu, bahkan sekarang masih berada di RSUD Sragen. Memang dia pernah dirawat di RS Kariadi Semarang karena penyakitnya itu. Tapi kapan dan di mana orang itu terkena virus mematikan tersebut, tidak ada yang tahu. Bisa saja terjadi di Jakarta atau di tempat lain. Mungkin juga orang ini juga sudah lupa, kapan dan di mana dia berbuat hingga terkena penyakit itu. Apakah hanya orang itu yang mengidap AIDS? Kemungkinan sudah ada beberapa orang terjangkit AIDS. Saya yakin, mereka tidak terkena di Sragen. Bisa saja terjadi, seseorang terkena AIDS di kota lain kemudian pulang ke daerah lalu berkencan dengan pekerja seks komersial (PSK). Wanita nakal yang terinveksi AIDS itu kemudian menularkan kepada orang lain. Adakah penderita AIDS yang belum terdeteksi? Saya yakin ada, dan mungkin orang yang terkena AIDS tersebut belum merasakan gejala-gejalanya. Sebab, masa inkubasi penyakit itu sangat lama, bisa sampai 5 tahun baru merasakan terkena AIDS setelah melakukan pemeriksaan darahnya di laboratorium. Ibarat fenomena gunung es, hanya sebagian kecil saja yang terlihat, sedangkan calon penderita yang lain tidak kelihatan. Jika PSK dianggap rawan penyebaran AIDS bagaimana upaya memantaunya? Harus ada semacam upaya pencegahan. Misalnya mengambil sampel darah rutin 2-3 bulan sekali dari para PSK liar yang beroperasi. Upaya itu dilakukan untuk mengetahui apakah ada PSK yang terkena AIDS di samping untuk mencegah penularan. Jika ada PSK terkena AIDS, pihak DKK harus waspada dan gencar melakukan penyuluhan. Upaya itu bisa dilakukan jika ada kerja sama lintas sektoral, DKK, Depag, PMI, tokoh agama, dan tokoh masyarakat. Upaya terbaik menangkal AIDS Ya tidak bermain dengan PSK. Mereka yang terlibat seks bebas, berganti-ganti pasangan atau jajan dengan perempuan itu, dan menggunakan alat suntik bekas pakai orang lain, rawan terkena AIDS. Sudahkah sosialisasi pencegahan AIDS dilaksanakan? Sosialisasi itu sudah lama dilakukan, misalnya memberikan penyuluhan lewat Puskesmas, PMI atau rumah sakit dan di tempat umum yang memungkinkan. Saya berharap jangan sampai warga Sragen ada yang dijuluki ODHA (orang dengan HIV/AIDS). (Anindito AN-51h) |