logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 15 Juni 2005 SALA
Line

Derita Pasangan Sadimin-Diyem

Tiga Anaknya Lumpuh Layu

SIANG itu sinar mentari cukup menyengat. Asri Yuniati (13) berjalan tertatih-tatih di teras rumah kakeknya, Parto Dikromo (60), warga Dukuh Bulu, Bakalan, Polokarto. Sesekali tangannya mencengkeram sandaran kursi untuk menjaga posisi berdirinya. "Memang Asri sulit berjalan. Kata orang-orang, dia kena lumpuh layu sehingga jalannya pincang dan sering terjatuh," ujar ibunya, Diyem (32).

Yang mengejutkan, bukan hanya Asri yang menderita penyakit tersebut. Kedua anaknya yang lain, Adi Setyawan (9) dan Arif Tri Pamungkas (6) juga menderita penyakit yang sama. Bahkan Adi setiap hari tergolek di tempat tidur, karena tidak bisa berjalan. Adapun Arif masih lincah bergerak dan bisa naik sepeda, meski jalannya pincang.

Ketiga anak itu kemarin dibawa ke RSUD Sukoharjo oleh dokter Widianto dari Dinas Kesehatan Sukoharjo, setelah ada informasi dari Puskemas II Polokarto untuk diperiksa. Namun dokter Nugroho yang melakukan pemeriksaan, tak bisa berbuat banyak. Pihaknya belum bisa memastikan penyebab penyakit ketiga anak itu, lantaran peralatan medis tidak lengkap. Seusai melakukan pemeriksaan, dia hanya memberikan vitamin.

"Kami belum bisa memastikan penyebab penyakitnya, apakah karena virus polio atau kelainan genetik. Untuk pemeriksaan lebih lengkap, kami rujuk ke RS Dr Moewardi Solo.

Apalagi ketiga pasien pernah menjalani perawatan di sana," paparnya.

Diyem pun hanya pasrah. Wanita yang bekerja sebagai buruh tani tersebut belum tahu apa yang akan dilakukan untuk putra-putrinya. Sebab untuk membawa berobat ke Solo, membutuhkan biaya tidak sedikit.

Penghasilannya bersama sang suami, Sadimin, sebagai buruh tani hanya cukup untuk makan sekeluarga. "Saya belum tahu. Kami ke RSUD kan karena diajak. Jadi atau tidak periksa ke RS Moewardi tergantung Pak Mantri," ujarnya.

Imunisasi Lengkap

Dia tak mengerti ketiga anaknya menderita penyakit yang sama. Padahal seingat dia, ketiga anak mendapatkan imunisasi lengkap, termasuk imunisasi polio. Yang mengherankan, penderitaan Asri justru terjadi saat menginjak usia sembilan tahun.

Ketika sekolah kelas III SD, dia tiba-tiba sering terjatuh ketika berjalan. "Kami kaget, karena tidak ada tanda-tanda penyakit. Badannya juga tidak mengalami panas tinggi. Karena itu, Asri terpaksa berhenti sekolah."

Adi mulai menderita sakit saat berusia enam tahun. Sama seperti kakaknya, penyakit aneh itu juga muncul tanpa disertai tanda-tanda sebelumnya. Kini Adi hanya bisa duduk dan tiduran. Nasib lebih baik dialami si bungsu, Ari. Meskipun jalannya pincang, dia masih bisa naik sepeda.

"Kami tak tahu harus ke mana lagi membawa anak-anak ini. Pernah kami bawa ke RS Dokter Moewardi dan dirontgen, katanya tidak ada kelainan. Karena tak ada tanda-tanda membaik dan kehabisan biaya, terpaksa saya bawa pulang."

Pasrahkah dia? "Tidak, kami tetap berupaya dengan cara tradisional melalui pijat syaraf. Tetapi entahlah, hingga sekarang belum ada tanda-tanda membaik." (Joko Murdowo-18s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA