| Rabu, 15 Juni 2005 | PANTURA |
117 Balita Menderita Gizi Buruk
SLAWI - Sebanyak 117 balita di Kabupaten Tegal menderita gizi buruk. Jumlah itu memang terasa kecil jika dibandingkan dengan total balita daerah tersebut, yaitu 137.032 anak. Akan tetapi jika dibandingkan dengan daerah lain di Jawa Tengah atau di Karesidenan Pekalongan, angka itu sudah sangat besar. Hanya, jika dibandingkan dengan data 2004, jumlahnya turun drastis karena pada tahun itu jumlah balita penderita gizi buruk 487 anak. Data yang dikumpulkan dari posyandu, dasa wisma dan PKK, serta sejumlah rumah sakit juga mencatat hanya 82.692 balita yang rutin diperiksakan di tempat-tempat tersebu, yaitu lewat kegiatan posyandu dan puskesmas. Menurut keterangan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tegal dokter HM Abdul Jalil melalui Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Keluarga dan Gizi dokter Widodo Joko Mulyono MKes, jumlah penderita gizi buruk kini banyak dirawat di sejumlah rumah sakit. Puskesmas juga menyediakan fasilitas rawat inap. "Mungkin 11 anak yang kini dirawat di berbagai fasilitas kesehatan di Kabupaten Tegal," ujar dokter Widodo Joko Mulyono MKes, kemarin. Prihatin Atas temuan itu, pihaknya menyatakan prihatin. Apalagi, bila melihat anggaran yang dikucurkan dalam APBD Tahun Anggaran (TA) 2005, hanya Rp 444 juta. Yakni anggaran untuk Program Makanan Tambahan (PMT) Air Susu Ibu (ASI). Padahal, 2004 anggarannya lebih besar, Rp 690 juta. Karena itu pihaknya sangat berharap, ada tambahan anggaran pada perubahan APBD TA 2005 Agustus mendatang. Dia juga mencontohkan, dalam lima tahun terakhir atau sejak 2001, jumlahnya terus mengalami kenaikan yang sangat signifikan. Misalnya jumlah balita serupa 2001 adalah 226 anak. Dari jumlah itu, yang dapat diperbaiki status gizinya hanya 52 atau 23%. Tahun berikutnya, naik lebih dari tiga kali lipat, yaitu 836 balita dengan jumlah perbaikan status gizi menjadi gizi kurang 404 anak atau 48,32%. Jumlah itu terus membengkak pada tahun berikutnya menjadi 927 anak. Sementara itu, tingkat perbaikan gizi mencapai 451 balita atau 48,65%. Pada 2004, jumlahnya turun menjadi 541 balita dengan status perbaikan gizi 154 anak (28,46%). Hingga Mei tahun ini, tercatat 123 balita dengan tingkat perbaikan status gizi hanya mencapai enam anak balita atau 4,83%. Menurut keterangan dokter yang kerap mengampanyekan program Aksi Stop AIDS dan HIV itu, penyebab gizi buruk salah satunya akibat pola makan yang tidak berimbang, kurang memperhatikan makanan yang mengandung protein dan bergizi. "Faktor kemiskinan juga menjadi salah satu penyebab, meski gizi buruk juga dapat dialami keluarga mampu," tandas dia. (D12-37j) |