| Rabu, 15 Juni 2005 | OLAHRAGA |
Henin-Hardenne Lirik Gelar WimbledonLONDON - Diterpa dengan penyakit dan cedera, Justine Henin-Hardenne mengakhiri tahun lalu dengan putus asa, membayangkan dapatkah ia kembali mengalami posisi puncak dunia tenis. Retak tulang lututnya pada November menyebabkan penurunan prestasinya tahun itu yang dimulai dengan kemenangan di Australia terbuka termasuk medali emas Olimpiade Athena. Namun sebagian besar waktunya tahun itu dihabiskan dengan menyembuhkan infeksi virus yang dideritanya. Ketika kembali ke lapangan pada April di Miami, rankingnya turun menjadi 40-an, Serena Williams mengambil alih gelar juara Australia Terbuka dan banyak petenis Russia yang mengubah peta pertandingan besar-besaran. Sejak kekalahannya dari Maria Sharapova di babak perempat final di Miami, bagaimanapun, petenis kecil dari Belgia itu memang terlihat tak tertahankan dan tak terkalahkan. Di Roland Garros, awal bulan ini, ia bertarung melawan mantan juara AS Terbuka, Svetlana Kuznetsova setelang menabung dua match point di putaran keempat, menyingkirkan juara Wimbledon, Maria Sharapova di babak perempat final dan mempermalukan petenis favorit tuan rumah Mary Pierce dengan memenangkan gelar juara untuk keduakalinya. Hambatan Terakhir Sekarang, petenis berusia 23 tahun itu memfokuskan pandangannya untuk melengkapi keempat gelar grand slam dengan memenangkan Wimbledon. Ia pernah gagal memenangkan kejuaraan terakhir empat tahun lalu karena kalah dari Venus Williams. Henin berencana tidak menyisakan apapun kali ini. Setelah kemenangannya di Prancis, ia mengundurkan diri dari event pemanasan di Eastbourne, di pantai selatan Inggris, dan memutuskan untuk istirahat sehingga bisa maksimal di klub All England. ''Anda harus realistis. Apa yang saya lakukan dua tahun lalu, bertanding lagi dua pekan setelah memenangkan Prancis Terbuka adalah gila. Di balik semua euphoria, itu saya harus realistis. Mungkin jika saya mempersiapkan diri untuk Wimbledon tidak seperti waktu itu, semua akan berjalan baik untuk saya,'' Kata Henin-Hardenne menjelaskan mengapa ia tidak bertarung di kompetisi kejuaraan di atas lapangan rumput sebelum kejuaraan dimulai Senin depan. Iri Backhand Meski ia masih mengaku workaholic selama berlatih di bawah bimbingan Carlos Rodriguez, bedanya ia sekarang tahu kapan harus berhenti. ''Saya tidak akan bermain tiga pekan berturut-turut. Saya tidak akan melakukan kesalahan yang sama. Saya ingin mempersiapkan diri untuk Wimbledon,'' katanya. Buktinya, di Paris Henin-Hardenne berencana mengambil waktu istirahat. Serve yang keras dan backhand-nya membuat iri petenis lainnya, termasuk Roger Federer. Ia akan mulai Klub All England sebagai salah satu cara menjatuhkan Sharapova dari singgasananya. ''Saya pikir saya bisa bertarung di lapangan dan saya merasa lebih baik setiap pekan. Saya tidak tahu apa saya bisa menjadi yang terbaik tapi saya sudah membuktikannya beberapa pekan belakangan ini. Saya telah kembali,'' kata Henin-Hardenne yang kini kembali menduduki posisi ketujuh di dunia. Dengan tinggi badan 1,67 meter, Henin-Hardenne sangat kecil dibandingkan lawan-lawannya, namun setelah ia menyingkirkan 24 lawannya hanya sedikit yang berani menghalanginya. (ant-28) |