logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 15 Juni 2005 WACANA
Line

tajuk rencana

Janji Para Calon Bupati dan Wali Kota

- Hampir setiap hari kita mendengar janji. Sejak pemilu legislatif, pemilu presiden dan wakilnya, serta kini kita masuki pemilihan bupati dan wali kota. Tanpa disadari, bangsa ini telah membuat rekor baru dalam pembuatan janji. Ada janji yang asal membual, seolah-olah serius, naif, dan ada juga yang asal bunyi. Hebatnya, sejak ada pemilu, rakyat tetap sabar dan tak pernah menagih realisasi janji itu. Semua dibiarkan berlalu, mungkin terbang bersama angin. Tak pernah ada dalam sejarah bangsa ini, rakyat dengan serius mencatat semua janji yang pernah dilontarkan oleh para politikus dengan baik. Ini keadaan yang menguntungkan, tetapi sekaligus mengkhawatirkan. Menguntungkan karena dengan tidak ada risiko jika membual, tetapi memperlama tingkat kematangan bangsa ini dalam berdemokrasi.

- Memang, setiap politikus termasuk juga para calon presiden, gubernur, dan juga bupati/wali kota sama sekali tidak dilarang untuk membuat janji. Bahkan, janji adalah sebuah keharusan dan keniscayaan. Jika tidak berjanji apa yang sebenarnya dia jual, masyarakat pemilih tidak akan pernah mengerti visinya. Tetapi janji tersebut seharusnya sudah dihitung dan direncanakan dengan matang, sehingga ketika keluar menjadi sebuah pernyataan akan memuat bobot politik yang tinggi. Dengan kata lain, janji yang kemudian diskenariokan dalam program yang akan benar-benar dikawal secara ketat untuk direalisasi sesaat setelah politikus itu terpilih. Jika ini yang dipegang, maka sebuah janji memuat bobot yang tinggi menyangkut kredibilitas, konsistensi sikap, dan juga idealisme dari politikus yang bersangkutan.

- Sebaliknya, jika janji tidak direalisasi secara baik, seharusnya mereka yang terpilih itu harus merasa dirinya gagal. Maka, jika masih ada tersisa sedikit bagian jiwa yang disebut malu, maka dengan rela hati mundur dari jabatan yang dipertaruhkan itu. Kebesaran jiwalah yang sebenarnya diuji. Seberapa kukuh derajat kejiwaan seseorang, sebenarnya bisa diukur seberapa kuat pemimpin itu mengatakan bahwa dirinya telah gagal. Dalam kultur kita, tak pernah diajari bagaimana meraih dan bersikap ketika menang dan juga ketika kalah. Cobalah kita lihat di lingkungan ini, apakah pernah ada pejabat yang mundur ketika tragedi busung lapar ada di depannya. Hebatnya, masyarakat kita masih dengan bahasa guyonan mengatakan, "Lha ketika kampanye tidak pernah menjanjikan memberantas busung lapar..."

- Lalu kenapa mudah janji itu menjadi perilaku politikus kita? Ini soal kultur yang dilatarbelakangi oleh banyak penyebab. Rakyat tidak pernah secara serius mencatat, kemudian menagih janji. Rakyat tidak pernah mengukur derajat akurasi dari semua janji. Belum ada mekanisme yang bisa mengukur apakah janji dari politikus ataupun pemimpin itu rasional, atau membual. Bagaimana rakyat menagih, kalau baru beberapa hari saja mereka telah lupa dengan semua janji itu. Apa yang hari kemarin dicaci-maki, mungkin hari ini malah dipuji. Sebaliknya, apa yang kemarin dipuji, sekarang dicaci. Hari kemarin ada pemimpin dicaci-maki setengah mati, tetapi hari ini diusulkan diampuni sebelum diadili. Adakah yang salah dalam pembentukan karakter, sehingga bangsa ini tumbuh dalam ironi satu ke ironi yang lain.

- Tumbuh dalam kultur bangsa yang demikian itu, maka tidak mengherankan jika hari ini berjanji, besok mungkin sudah lupa dengan apa yang pernah dijanjikan. Karena banyak janji, sementara memorinya terbatas, dan sistem pelacak janji juga amat lemah, maka masyarakat juga dalam kondisi serupa. Pertemuan besar inilah yang kini sedang dihadapi oleh bangsa ini. Janji-janji dibuat dengan tanpa tolok ukur, misalnya janji "Coblos Si A, menjadikan hidup lebih bahagia...." Juga menjanjikan pendidikan, kesehatan, dan lain-lain yang serba gratis. Memangnya negara ini begitu kaya, sehingga semua harus digratiskan. Apakah janji itu telah diukur dengan kalkulasi yang matang, misalnya bagaimana derajat pendidikan dan kesehatan warga sekarang, berapa indeks per individu, kekuatan APBD, kok tiba-tiba semua menjadi gratis?

- Dengan keadaan seperti ini, rasanya bangsa ini perlu latihan mengolah rasa. Para pemimpin dan rakyat harus selalu mengukur dan mematut diri agar tidak terus-menerus dijebak oleh keadaan yang sudah telanjur parah. Politikus, juga pemimpin, perlu mengajarkan kepribadian dan karakter kepada yang dipimpin. Sedangkan rakyat perlu belajar untuk tidak selalu bilang "pokoke..." Setiap janji yang dibuat, seharusnya telah dihitung dengan matang, sebelum dijual. Jika tidak, janji itu lebih hanya berfungsi sebagai isi spanduk dan isu dalam kampanye. Selebihnya tidak! Ketika kita merasa mempunyai Tuhan, maka setiap janji yang kita buat akan selalu berisiko, bukan hanya kepada rakyat, melainkan juga kepada Tuhan. Rasanya kita perlu mengukur baju sebelum memakainya.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA