| Rabu, 15 Juni 2005 | NASIONAL |
Penyelidikan Masih Dangkal
SEMARANG-Penyelidikan dugaan penyelewengan dana pelatihan kepribadian di lingkungan Bank BPD Jateng (sekarang Bank Jateng) masih dangkal. Hal itu karena para saksi yang hendak dimintai keterangan masih banyak yang belum mau hadir, termasuk Direktur Natasa Personal Image Development (NIPD), Upi Thalib. "Kami masih dalam tahap pengumpulan data dan bahan keterangan. Saya belum memperoleh laporan hasil pemeriksaan hari ini (kemarin)," kata Asintel Kejaksaan Tinggi Jateng, Zulkarnain SH, kemarin. Dia juga enggan menjelaskan identitas para saksi yang sudah diperiksa kejaksaan. ''Mungkin saya akan memberikan penjelasan atas kasus itu, jika sudah siap dipraekspos,'' ujar dia. Terkait dengan dugaan penyelewengan tersebut, sehari sebelumnya, yaitu Senin (13/6), sejumlah mahasiswa yang menamakan diri Komite Aksi Mahasiswa Semarang (Kamas) berdemo di Kejaksaan Tinggi Jateng. Mereka memberikan dukungan kepada kejaksaan dalam pengusutan dugaan penyelewengan dana pelatihan kepribadian yang dilakukan Bank Jateng dan Natasa Personal Image Development (NPID) pada tahun 2003-2004. Kejanggalan Menurut Koordinator Kamas, Hamid Alfarizi, pihaknya menemukan banyak kejanggalan pada pelaksanaan pelatihan itu, antara lain adanya indikasi mark up hingga 200%. Rencana biaya pelatihan pada tahun 2004, yang seharusnya Rp 616 juta, realisasi hingga Juni 2004 Rp 1,739 miliar. Hamid juga menambahkan, pelatihan yang melibatkan seluruh karyawan tersebut tanpa melalui proses training for trainee sehingga biaya jadi membengkak. Kamas juga menduga bank melakukan rekayasa pembuatan surat perjanjian kerja sama (SPK) yang ditandatangani Waluyo (mantan Dirut BPD Jateng), Ispriyanto (Direktur Umum dan Kepatutan Bank Jateng) , Dirut NPID, dan diparaf Wirawan (mantan Kabiro SDM), serta Djoko Purnomo (Kepala Pendidikan dan Pelatihan Biro SDM). Dari sepuluh SPK itu, sambung Hamid, 4 di antaranya dibuat tahun 2003 dan sisanya tahun 2004. Namun kenyataannya semua diberi tanggal 20 Agustus 2004. ''Proses rekayasa itu telah dikonformasikan dan diakui kepala bagian kesekretariatan dan bagian pendidikan/latihan,'' imbuhnya. Sementara itu, saat mencoba mengonfirmasikan hal tersebut kepada mantan Dirut BPD Jateng Waluyo, kemarin, ternyata yang bersangkutan tidak di kediamannya. Menurut penerima telepon, Waluyo sedang di Boyolali. Sedangkan ponsel Wirawan tidak aktif seharian, sehingga tidak dapat dihubungi. Ketika dihubungi melalui telepon genggamnya, Ispriyanto mengatakan, sedang bermain golf dan minta untuk dihubungi kembali pukul 18.00. Namun pada waktu yang telah disepakati, ponselnya tidak aktif. (yas,H11-34t) |