logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 15 Juni 2005 NASIONAL
Line

Ditemukan 88 Kasus Lumpuh Layu

  • Pencarian di Daerah-daerah Jateng

SEMARANG-Selama Januari-Juni 2005 telah ditemukan 88 kasus lumpuh layu mendadak atau acute flaccid paralysis(AFP) di Jateng, dengan rasio 1,78 per 100.000 anak usia di bawah 15 tahun yang disertai spesimen adekuat 69,5% . Hal itu disampaikan Kasubdin Pemberantasan Penularan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng, dr Lily Herawati MKes. ''Kami menargetkan 92 kasus lumpuh layu di 35 kabupaten/kota di Jateng. Namun baru mendapatkan 88 kasus lumpuh layu," katanya dalam diskusi di BIKK Pemprov, Selasa (14/6).

Dia mengatakan, dari 88 kasus lumpuh layu, 38 (48,78%) di antaranya masih dalam pemeriksaan laboratorium Bio Farma Bandung. Adapun 50 kasus lainnya (51,22%) telah dibuktikan secara virologis, dan klinis kelumpuhannya bukan karena virus polio liar.

Penemuan 88 kasus lumpuh layuh tersebut, lanjutnya, merupakan hasil kerja keras jajaran kesehatan yang melakukan pencarian di daerah-daerah, menyusul adanya kasus penderita polio di Sukabumi, Jabar.

"Sebelumnya kami mencari penderita lumpuh layu di Jateng sangat sulit, namun setelah merebaknya kasus polio di Sukabumi, beramai-ramai bermunculan keluarga yang membawa sanak saudaranya dengan indikasi lumpuh layu ke rumah sakit maupun puskesmas," katanya.

Bahkan, katanya, ada penduduk yang membawa penderita lumpuh yang sudah lama dengan penderita sudah cukup dewasa dan tua ke RS dan puskemas. "Kami melakukan pencarian penderita lumpuh layu bukan yang sudah lama dan berumur dewasa atau tua, namun difokuskan pada anak di bawah usia 15 tahun," katanya.

Kesadaran

Meskipun demikian, katanya, hal itu disambut baik jajaran kesehatan. Sebab, pertanda kesadaran masyarakat untuk mengantisipasi penyebaran penyakit polio makin tinggi. Padahal, sebelumnya langkah itu tak pernah dilakukan penduduk.

Dia mengatakan, Jateng telah menerapkan kebijakan eradikasi polio, meliputi imunisasi rutin, imunisasi suplemen tambahan (PIN/pekan imunisasi nasional dan moping up), surveilans AFP, dan pengamanan virus polio di laboratorium.

Dengan demikian, katanya, ada dua kegiatan mendasar dalam rangka erdikasi polio di Jateng, yakni imunisasi dan surveilans AFP. Pengamanan virus polio di laboratorium dilakukan laboratorium virology yang sudah diakreditasi WHO, sedangkan untuk Jateng dilakukan di laboratorium Bio Farma Bandung.

Dia menambahkan, surveilans AFP adalah kegiatan mengamati, mencari, dan menemukan semua penderita kelumpuhan yang mirip polio, yakni kelumpuhan yang terjadi mendadak, lemas tapi tidak kaku, dan bukan karena trauma benturan pada anak berusia di bawah 15 tahun.

Sebenarnya, kata dia, secara klinis ada beberapa penyakit yang memiliki manifestasi kelumpuhan mirip polio, di antaranya guillan barre syndrome (GBS), myelitis transversa, myopati, dan polineuropathy.

Semua kelumpuhan mirip polio (AFP) tersebut harus dijaring dan dibuktikan melalui laboratorium bahwa kelumpuhannya bukan disebabkan oleh virus polio liar. Cara pembuktiannya dengan mengambil spesimen tinja penderita. (G7,G1-34t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA