| Rabu, 15 Juni 2005 | NASIONAL |
Bantuan Aceh Baru KomitmenBANDA ACEH - Hampir semua bantuan kemanusiaan korban tsunami Aceh yang dijanjikan sejumlah negara donor melalui pemerintah RI, hingga kini masih sekadar bentuk komitmen. Padahal pemerintah pusat, apalagi Pemprov NAD jelas tidak mungkin mampu memulihkan kondisi kehidupan seperti sebelum terjadi bencana. "Kami sampai saat ini hanya dalam penantian untuk melihat apa yang telah dijanjikan negara-negara donor. Artinya, berbagai bentuk bantuan yang pernah dijanjikan melalui pemerintah RI itu hampir semuanya hanya dalam bentuk komitmen. Tetapi sekarang, Pemerintah Austria sudah membuktikannya meski baru peletakan batu pertama," kata Sekda Pemprov NAD, Thanthawi Ishak SH MM, baru-baru ini. Seusai memberi sambutan, Thanthawi bersama para pejabat Pemprov, Pemkab Aceh Besar, Kecamatan Sukamakmur, dan Konsul Kehormatan RI di Carinhtia, Christian Gerhard Bradach, bersama istri menyaksikan denah calon asrama panti asuhan Karnten Dorf. Peletakan batu pertama pembangunan asrama itu juga disaksikan sejumlah anak yatim piatu, 12 kepala desa, dan warga Desa Aneuk Batee. Thanthawi mengatakan, dirinya sudah sering mendengar banyak komitmen negara-negara yang akan membantu NAD. Rakyat kini sudah menunggu-nunggu dan bertanya kapan realisasinya, sebab pemerintah (pemprov) tidak punya cukup dana untuk memperbaiki kerusakan, apalagi memulihkan kondisi seperti sebelum terjadi bencana 26 Desember 2004 itu. Menurutnya, pemerintah Austria juga mempunyai komitmen untuk membantu meringankan beban penderitaan rakyat NAD. Peletakan batu pertama pembangunan asrama di atas tanah seluas dua hektare yang merupakan hibah dari 12 desa itu adalah fakta nyata dan bukan sekadar komitmen. Dimulai "Bantuan itu patut kita syukuri, karena kami sebelumnya tidak pernah memperhitungkan sampai sejauh itu. Oleh sebab itu menjadi kewajiban warga Aceh Besar, terlebih Kecamatan Sukamakmur, untuk ikut membantu kelancarannya dan merawatnya kelak," kata Sekda yang mewakili Plh Gubernur NAD Abdullah Abubakar itu. Sebelumnya, Konsul Kehormatan RI di Carinhtia (Austria) Christian Gerhard Bradach menyatakan bahwa setelah peletakan batu pertama, diharapkan paling lambat minggu terakhir Juni ini, pembangunan asrama sudah dimulai. Bangunan asrama sejumlah 12 buah itu diharapkan bisa menampung 150-200 anak dan seluruh biayanya merupakan hasil sumbangan warga Austria. Sumbangan yang dimaksud, kata suami Hj Baningsih Tedjokartono itu, adalah sumbangan yang dihimpun oleh sejumlah kelompok warga Austria, termasuk Kedubes RI di Viena (Austria). Bantuan yang terkumpul sekitar Rp 100 M itu, selain akan diwujudkan bangunan asrama, juga akan disiapkan untuk biaya operasional panti asuhan Karten Dorf hingga kurang lebih 10 tahun, termasuk biaya pendidikan anak-anak yang ditampung. "Karena saya dipercaya sebagai koordinator untuk penyalurannya, saya mengajak pak Mathias Schrepel (66) untuk membuktikannya. Karena dia adalah salah satu koordinator penghimpun sumbangan di Austria selatan," kata Christian sambil menunjuk kawan yang dimaksud yang berdiri di sampingnya. Bila akhir Juni sudah bisa dimulai pembangunannya, bulan Februari diharapkan sudah bisa diresmikan. Ketua BPD Gapensi Banda Aceh Drs H Lukman CM yang akan bertanggung jawab dalam pembangunan fisik asrama itu menyatakan bahwa waktu yang disediakan termasuk segala kebutuhan material yang diperlukan, sudah cukup. (won-46h) |