| Rabu, 15 Juni 2005 | MURIA |
Gribig, Melupakan Sejarah "Kelam"MENYEBUT sebuah desa bernama Gribig-yang terletak di Kecamatan Gebog, Kudus, pada dasawarsa 70-an hingga akhir 90-an, terbayang sebuah kawasan yang marak dengan kehidupan malam, lengkap dengan lampu remang-remang dan sederet kriminalitas. Namun, mulai 27 April 1998-seiring dengan bergulirnya reformasi dan tuntutan dari warga untuk menutup lokalisasi-yang justru ''dikelola'' oleh warga dari luar desa tersebut, perlahan namun pasti, citra Gribig pun mulai berubah. Kini, orang tidak lagi menghubungkan wilayah seluas 243.458 hektar tersebut dengan pelacur yang dahulu menghuni di salah satu sudut desa. Dukuh Mojodadi, yang terletak di RW VI-menjadi tempat lokalisasi, telah berubah seratus delapan puluh derajat. Lima puluh lima kaveling rumah, yang dahulu dipenuhi ''pengunjung'', kini terlihat lengang dan sepi. Area seluas 3,5 hektare tersebut, sekitar tiga atau empat bahu di antaranya telah menjadi sawah yang sebentar lagi siap dipanen. Sisanya, merupakan lahan kosong milik desa yang akan disulap menjadi area pertanian. ''Kami telah mengajukan permohonan kepada Pemkab untuk membantu merealisasikan hal itu,'' ujar Didik Marsudi, Kades setempat. Lebih lanjut ia menambahkan, warganya yang kini berjumlah 1.825 kepala keluarga (KK) dan 7.389 jiwa itu, seakan telah melupakan sejarah ''kelam'' yang dahulu sempat membuat orang mengernyitkan dahinya bila nama desanya disebut. Sejumlah usaha seperti konveksi, kerupuk, industri sandal dan sepatu, serta sebuah usaha pembuatan pengeras suara, yang cukup terkenal di kota Kretek, membuat orang di luar Gribig yakin bahwa desa tersebut memang sudah jauh berbeda. Kini, geliat Desa Gribig dapat terlihat jelas dari roman-roman cerah buruh perempuan dari wilayah itu, yang sebagian besar bekerja di sebuah barak (gudang produksi). Terutama pada waktu pagi hari, ketika mereka secara bersama-sama mengayuh sepedanya menuju lokasi kerja. Juga, napas desa tersebut dapat pula dilihat dari langkah-langkah panjang kaki petani, pedagang, dan pegawai-yang meskipun jumlahnya tak sebanyak kaum buruh, namun cukup memberi warna. Dibanding dengan desa tentangganya, Karangmalang (bagian Utara), Bakalan Krapyak dan Peganjaran (Timur), Klumprit dan Karanganyar (Barat), serta Prambatan Lor dan Prambatan Kidul (Selatan), Desa Gribig boleh berbangga hati karena kemajuan yang dicapai juga tak kalah dengan wilayah tersebut. Upaya warga untuk benar-benar melupakan sisi kelam dukuh bernama Mojodadi-yang dulu dikenal sebagai salah satu tempat yang cukup akrab di kalangan lelaki yang suka bertualang di dunia seks, dapat dilihat dengan ''menghilangkan'' RW VI pada Desa Gribig. Kini, warga di 29 RT dan tujuh RW tersebut, tak mau lagi menganggap keberadaan RW VI lagi. ''Yang ada hanya RW 1 sampai lima, serta tujuh,'' tambah Didik. Belum lagi, di delapan masjid dan sembilan surau, setiap hari selalu terdengar desah agamais, yang dilakukan oleh 14 peserta tahlil, serta kelompok pengajian. ''Kini, menyebut nama desa bernama Gribig, jelas tak akan membuat orang untuk menghubungkan dengan tempat yang dianggap negatif,'' tambahnya. (Anton Wahyu Hartono-52d) |