logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 15 Juni 2005 SEMARANG
Line

Berkat Shuttlecock, Raih Medali Emas Fisika

DHINA Pramita Susanti, siswa kelas II IPA 3 SMAN 3 Semarang tak bedanya dengan siswa SMA lain. Saat ini, dia sedang giat belajar mempersiapkan diri dalam menghadapi ulangan kenaikan kelas yang sedang berlangsung sejak Senin (13/6) lalu.

''Saya banyak ketinggalan pelajaran. Besok, ujian mata pelajaran Sejarah dan Kimia,'' ujar gadis kelahiran 21 Juni 1989 itu, saat Suara Merdeka berkunjung ke rumahnya di Jalan Plamongan Permai Utara I No 274 Semarang, kemarin.

Ketertinggalan pelajaran yang dialami Dhina dibanding teman lain disebabkan sejak awal Oktober 2004 lalu telah melakukan serangkaian kegiatan dalam rangka pembuatan karya tulis berbasis riset Fisika untuk diikutsertakan dalam seleksi The Fist to Nobel Prize in Physics 2005 di Polandia. Pembuatan karya tulis ilmiah yang melibatkan ilmuwan Fisika Indonesia itu, akhirnya membuahkan hasil dan berhasil mengirimkan karya tulis menjelang pendaftaran lomba ditutup, yaitu akhir Maret 2005 lalu.

Berkat tulisan itu, Dhina bersama wakil Indonesia berangkat ke Polandia. Selain dia, Chrisanthy Rebecca Surya (SMA Dian Harapan), Anike Bowaire SMA 1 Serui-Papua), Diatra Zulaika(SMP AL Azhar), Kridha Budhi Handaya(SMA Taruna Nusantara), dan Monika Raharti (tim leader dari Unika Parahyangan) berada di Polandia sejak 25 April lalu untuk mengikuti kejuaraan itu dengan karya tulis berbeda.

Dalam kesempatan itu, Dhina bersama Chrisanthy Rebecca Surya menyampaikan tema berjudul The Physics of Badminton memperoleh juara III dalam International Conference of Young Scientists yang berlangsung secara bersamaan.

Karya tulis yang berjudul Curved Motion of A Shuttlecock (gerakan Kurva Shuttlecock dalam Bulutangkis-red) yang mengungkap model paling baik untuk mengatasi hambatan udara dalam permainan bulutangkis itu membawa puteri sulung pasangan Ir H Sahid Yogasari dan Ir Sustanti meraih medali emas dalam kompetisi Fisika Internasional The Fist Step to Nobel 2005.

Kenapa dia meneliti gerakan shuttlecock? Menurut gadis kelahiran Yogyakarta itu, idenya berawal dari kenyataan, gerakan parabola yang sempurna hanya terjadi dalam ruang hampa udara. Sebaliknya, dalam ruang terbuka gerakan itu melengkung alias tidak sempurna.

''Apa yang menyebabkan hal itu ?'' Pertanyaan itulah mendorong dia untuk mengungkap lebih lanjut.

Penelitian yang menggunakan kamera video untuk mengambil gambar gerakan shuttlecock dalam permainan bulutangkis dilakukan di PB Garuda, PB Sahabat Unnes, dan PB 149 SMAN 3. Gambar gerakan shuttlecock yang membentuk garis parabola itu dianalisis dari segi percepatan, presisi, besaran model, besaran kecepatan mendatar, besaran kecepatan vertikal, besaran percepatan mendatar, besaran percepatan vertikal, dan posisi ordinat dengan menggunakan software yang khusus untuk mengukur gerakan.

Hasilnya, garis lengkung yang membentuk parabola pada shuttlecock tidak sesempurna garis parabola, seperti dalam mata pelajaran Fisika.

''Dhina harus belajar ilmu Fisika tingkat tinggi. Bukan lagi Fisika tingkat SMA. Dari analisis gerakan itu diperoleh bahwa gerakan shuttlecock membentuk model linear. Gesekan udara sebanding dengan laju benda. Hal ini berbeda dengan gerakan bola pada permainan tenis lapangan dan sepakbola yang menghasilkan model kuadratik, yaitu kuadrat percepatan bola,'' ujar guru Fisika SMAN 3 yang juga pembimbing Dhina, Sutardi SPd.

Karya tulis siswa SMAN 3 itu, kata Sutardi bisa dimanfaatkan industri pembuat shuttlecock yang berbahan baku bulu untuk menguji tingkat kelayakan barang produksinya. Selain Sutardi, pembimbing karya tulis itu, antara lain Prof Yohanes Surya PhD dan I Made Agus Wirawan.

Prestasi Dhina secara akademik di sekolah, lanjut dia sebenarnya bukan rangking terbaik saat ini. Dalam mata pelajaran Fisika misalnya, masih berada di urutan 4-5 dibanding teman-teman yang lain. Satu hal positif yang dimiliki gadis itu, menurut pengamatan Sutardi, adalah mampu memadukan mata pelajaran Fisika, Matematika, Komputer, bahasa Inggris, dan sosial skill.

''Hasil penelitian ini merupakan pijakan untuk penelitian lebih lanjut. Saya berharap akan ada pengembangan lebih lanjut dari gerakan parabola linear yang ditunjukkan shuttlecock,'' tambah Dhina yang masih bingung menentukan arah studinya di antara tiga pilihan, yaitu Teknik Sipil, Ilmu Fisika, dan Teknik Nuklir itu. (Widodo Prasetyo-33)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA