logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 15 Juni 2005 KEDU & DIY
Line

Sembilan Kecamatan Rawan Kekeringan

BOROBUDUR - Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Magelang Ir H Gijanto Hadiwitono mengemukakan, wilayah yang rawan kekeringan pada musim kemarau tahun ini seluas 194 ha tersebar di sembilan kecamatan.

Yakni Kecamatan Salaman (60 ha), Mertoyudan (5 ha), Bandongan (7 ha), Grabag (20 ha), Candimulyo (10 ha), Secang (10 ha), Pakis (50 ha), Windusari (27 ha), dan Tegalrejo (5 ha).

''Antisipasi terhadap bencana alam itu adalah dengan melakukan pemantauan dan menginformasikan ketersediaan air irigasi. Menganjurkan pola tanam dengan komiditas yang sesuai dan mengajukan bantuan benih,'' katanya, kemarin.

Yang dimaksud kekeringan adalah kondisi kekurangan air tanah yang menimbulkan kerusakan pada tanaman. Klasifikasi dan gejala yang masih ringan m isalnya ujung daun tanaman mengering. Pada stadium sedang, bagian yang mengering berkembang mencapai seperempat panjang daun. Adapun klasifikasi berat, lebih dari seperempat sampai dua pertiga daun mengering. ''Yang puso, seluruh tanaman mengering atau mati,'' kata Gijanto didampingi Kabid Usaha Tani Ir Soekam.

Sementara itu Kepala Kantor Kesbanglinmas Drs Edy Susanto mengemukakan, krisis air bersih 2005 ini diperkirakan terjadi di 93 dusun di 37 desa yang tersebar di 12 kecamatan. Perkiraan itu atas dasar kemarau sebelumnya yang

mencakup Salaman, Borobudur, Kajoran, Kaliangkrik, Bandongan, Windusari, Secang, Salam, Ngablak, Tegalrejo, Grabag, dan Mertoyudan.

Bahan Pangan

Sementara itu krisis stok bahan pangan terjadi di 11 desa di tiga wilayah kecamatan, yakni Kecamatan Borobudur, Salaman, dan Kajoran. Krisis pengairan lahan pertanian terjadi di 51 desa di 12 kecamatan. Dia juga memperkirakan akan terjadi krisis wabah penyakit demam berdarah di tujuh kecamatan, malaria di lima kecamatan, dan keracunan di tiga kecamatan.

Selain itu, lanjut dia, juga perlu diwaspadai terjadinya kebakaran hutan dan bangunan. Yang sering terjadi adalah di sekitar Gunung Merbabu dan Sumbing.

Menurut Kepala Kantor Kesbanglinmas, di wilayah rawan kekeringan itu juga rentan terhadap kecenderungan meningkatnya gangguan kamtibmas, antara lain pencurian dan rebutan air, baik air minum maupun air irigasi.

''Air meski agak jauh untuk mendapatkannya pada musim kemarau, masih bisa dijangkau dan mencukupi kebutuhan dasar. Bantuan air ke pelosok desa didrop dari PDAM sehingga tak ada kekeringan yang sampai menimbulkan busung lapar. Sebab, di desa termiskin sekalipun warga masih mampu makan jagung,'' ujar Edy Susanto.

Kabid Pembinaan Kesehatan Keluarga Dinkes Kabupaten Magelang dokter Sasongko membenarkan keterangan Edy. ''Di Magelang tak ada busung lapar. Semua warga bisa makan. Minimal yang terjadi, asal kenyang, sehingga kurang keseimbangan gizinya,'' ujarnya.

Direktur Utama PDAM Kabupaten Magelang Ir H Djoni Supardi MT juga mengatakan, setiap musim kemarau wilayah Tegalrejo dipastikan mengalami kekurangan air bersih karena sumber airnya kering. Wilayah Tegalrejo itu mencakup Kintelan, Pakis, Bawang, Banaran, dan Sanggarahan. Di situ ada 167 sambungan rumah.

Wilayah Salaman juga mengalami kekurangan air bersih. Ledeng menuju 278 sambungan rumah macet, tersebar di Krasak, Margoyoso, Nglegok, Bebengan dan Kabukan.

''Sementara itu proyek penambahan debit sedang dalam proses pelaksanaan yang diambilkan dari Tuk Sigandulan, Kajoran,'' katanya. (pr-16n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA