logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 15 Juni 2005 KEDU & DIY
Line

MBS Turunkan Angka Putus Sekolah

WONOSOBO- Kasubdin Pendidikan Dinas Pendidikan Wonosobo, Drs Budi Rochmadi menyebut, dengan diterapkannya manajemen berbasis sekolah (MBS) di sejumlah SD di daerah pegunungan itu, maka angka putus sekolah menurun.

Pelaksanaan MBS di Wonosobo relatif baik. Adapun angka transisi lulusan SD yang melanjutkan, pada tahun ini diperkirakan 75%.

Hal itu disampaikan Budi Rochmadi, dalam pertemuan dengan tim advokasi MBS Jateng, di ruang rapat kantor Bappeda Wonosobo, Selasa kemarin.

Tim advokasi MBS yang dipimpin Satoto Raharjo (Kasubid Sosbud Bappeda Jateng), mengunjungi pelaksanaan MBS di SD 1 Kalikajar, Kecamatan Kalikajar dan SD 2 Kalierang, Kecamatan Selomerto.

Budi Rochmadi mengatakan, pelaksanaan MBS di daerahnya berjalan baik dan berkembang. Pada 2001/2002, MBS di Wonosobo dilaksanakan di 16 SD. Tahun 2002/2003 berkembang menjadi 31 sekolah. Tahun 2003/2004 melonjak mencapai 81 SD dan tahun 2004/2005 bertambah lagi menjadi 97 SD.

Ketua Dewan Pendidikan Wonosobo Slamet Raharjo Budi mengatakan, peran serta masyarakat di dataran tinggi Dieng khususnya di Desa Parikesit, Kecamatan Kejajar, untuk menunjang pelaksanaan MBS cukup tinggi.

Masyarakat setempat menyisihkan 2,5% hasil panen pertanian untuk menunjang pendidikan di daerahnya. Dalam setahun, dana pendidikan yang terkumpul dari masyarakat setempat mencapai Rp 150 juta.

Selain itu, papar Slamet, di Kecamatan Sukoharjo, Wonosobo, sejak beberapa waktu lalu, komite sekolah di kawasan tersebut bersama masyarakat sepakat melaksanakan jam belajar efektif di rumah.

Pada jam tertentu tayangan pesawat televisi dimatikan, untuk kepentingan belajar anak-anak mereka.

Anggota Dewan Pendidikan Wonosobo Ahmad Hafidz SAg menuturkan, di Desa Deroduwur, Kecamatan Mojotengah, sejak tiga tahun lalu sudah diselenggarakan sekolah gratis yaitu di SMP Takhasus Filial. Adapun di MI Maarif Lebak Kecamatan Kaliwiro, para siswa dibebaskan dari Sumbangan Operasional Sekolah (SOP), karena adanya budi daya sarang burung sriti di sekolah tersebut.

Ketua LSM Pelita Garuda Wonosobo Drs Danang mengatakan, peran serta masyarakat dalam menunjang MBS di Desa Parikesit cukup baik.

Meski demikian, di sisi lain hal itu juga menjadi beban tersendiri bagi para guru di sekolah tersebut. Sebab, mereka juga menuntut atau berharap nilai anak-anaknya yang belajar di sekolah tersebut harus baik.

Dalam kunjungan ke lapangan, Kepala SD 1 Kalikajar Y Suratmi dan Kepala SD 2 Kalierang Suwandi menandaskan, setelah diterapkannya MBS di sekolahnya maka sejak itu tidak ada lagi anak yang putus sekolah.

Bahkan lulusan SD setempat yang melanjutkan ke SMP rata-rata 95-97,5%. Prestasi akademik para siswa pun cukup menonjol di tingkat kecamatan.

Keterangan lain menyebutkan, tim advokasi MBS Pemprov Jateng yang terdiri atas tiga tim melakukan pemantauan di Kabupaten Wonosobo, Banjarnegara, Brebes, Magelang, Banyumas, dan Surakarta. (P55-16)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA