logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 15 Juni 2005 INTERNASIONAL
Line

PBB Tuntut Akses ke Fasilitas Militer Iran

WINA - Kepala badan pengawas nuklir PBB Selasa kemarin mendesak Iran untuk mengizinkan sebuah tim pakar kembali ke fasilitas militer Parchin. Tim pakar itu pernah menginspeksi kompleks militer itu, sebelum dilarang Teheran.

''Saya meminta Iran mendukung upaya badan pengawas nuklir ini untuk melanjutkan investigasi di fasilitas-fasilitas Lavizan-Shian dan Parchin,'' kata Mohamed ElBaradei (62). Dia menambahkan, para inspekturnya ingin berkunjung ke beberapa tempat di Parchin.

Parchin dan Lavizan merupakan dua lokasi yang dicurigai AS sebagai tempat riset para ilmuwan Iran untuk mengembangkan senjata nuklir. Namun Teheran mengatakan tak tertarik memiliki senjata seperti itu karena teknologi nuklirnya hanya untuk kepentingan sipil, yakni pembangkit listrik.

Para pakar Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency - IAEA) berkunjung ke Parchin awal tahun ini. Namun, Iran menolak permintaan untuk kunjungan berikutnya.

Amerika yakin, Iran melakukan percobaan bahan peledak berkekuatan besar yang cocok untuk senjata nuklir di Parchin. Tempat itu berada sekitar 30 kilometer sebelah tenggara Teheran.

Seorang pejabat Iran tidak mengatakan, Teheran akan membuka kembali pintu Parchin untuk para inspektur IAEA. Namun dia mengatakan, Iran bersedia membicarakan hal itu.

Riset Militer

''Kami akan membahas soal Parchin dengan mereka. Pintu tidak tertutup,'' kata Sirus Naseri, ketua delegasi Iran dalam pertemuan pekan ini dengan dewan gubernur IAEA.

ElBaradei mengatakan dalam pidato di depan 35 anggota dewan IAEA bahwa dia menginginkan akses ke peralatan berfungsi ganda dan informasi lain berkaitan dengan fasilitas Lavizan-Shian. IAEA mulai mengamati Lavizan tahun lalu setelah fasilitas itu diruntuhkan.

Iran mengakui bahwa Lavizan pernah menjadi tempat riset militer. Namun Republik Islam itu membantah telah melakukan riset senjata nuklir di Lavizan ataupun tempat lain.

ElBaradei mengatakan wakilnya, Pierre Goldschmidt, akan memberikan penjelasan lebih terperinci kepada dewan IAEA tentang investigasi tersebut akhir pekan ini.

Kepala IAEA itu mengatakan, badan pengawas nuklir PBB tersebut telah membuat kemajuan untuk menyelesaikan salah satu dari dua persoalan menonjol dalam program nuklir Iran.

''Bulan lalu, badan pengawas nuklir ini menerima dari sebuah negara anggota sejumlah komponen sentrifugasi. Kami telah melakukan pemeriksaan terhadap komponen itu,'' kata ElBaradei, dalam pidatonya di hadapan dewan gubernur IAEA.

Pasar Gelap

Menurut beberapa pejabat IAEA, negara anggota yang dimaksud adalah Pakistan. Abdul Qadeer Khan, Bapak Bom Atom Pakistan, telah menjual mesin-mesin sentrifugasi ke Iran.

Alat-alat itu bisa digunakan untuk memurnikan uranium guna menghasilkan bahan bakar bagi pembangkit listrik (PLTN) atau senjata nuklir.

Penjualan teknologi sentrifugasi tersebut dilakukan di pasar gelap nuklir internasional. Libia dan Korut diduga telah membeli mesin sentrifugasi tersebut.

Analisis sementara terhadap komponen-komponen mesin sentrifugasi Pakistan itu sangat mirip dengan peranti milik Iran yang dibeli dari Pakistan. Hasil analisis itu tampaknya mendukung pernyataan Teheran bahwa bekas-bekas uranium berkualitas bom adalah akibat kontaminasi.

ElBaradei mengecam Iran karena tidak memberikan dokumentasi lengkap kepada IAEA tentang program sentrifugasinya. Hal itu merupakan persoalan besar kedua yang ingin diselesaikan IAEA. ''Kami terus menekan untuk mendapatkan dokumentasi tambahan menyangkut peralatan yang dibuat untuk Iran,'' kata ElBaradei. Dia menambahkan bahwa apa yang diberikan oleh Teheran ''belum mencukupi''.

ElBaradei terpilih kembali dengan suara bulat untuk masa jabatan ketiga sebagai kepala IAEA, Senin lalu. Mantan diplomat Mesir itu mengatakan, IAEA kini menghadapi tantangan-tantangan besar. (rtr-ant-ben-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA