logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 15 Juni 2005 EKONOMI
Line

Bandara A Yani Balik Modal 2007

SEMARANG-Bandara A Yani diperkirakan mencapai break even point atau balik modal dua tahun mendatang atau 2007.

Pada saat itu manajemen keuangan bandara tersebut sudah mulai mandiri tanpa subsidi. Angka penumpang yang merupakan indikator kunci diharapkan melebihi 1,5 juta orang/tahun.

Selama ini PT Angkasa Pura I Cabang A Yani sebagai pengelola itu masih merugi atau mendekati balik modal sehingga biaya pengelolaannya harus disubsidi oleh bandara lain yang sudah laba, bukan dari APBD.

Dana dari pemerintah tersebut hanya digunakan untuk pengembangan bandara yang meliputi pembangunan sarana dan prasarana.

"Perpanjangan landasan yang sudah diuruk 400 m, serta pembangunan apron dan terminal penumpang dibantu oleh APBD. Kami tinggal memakai dan Dinas Perhubungan yang melaksanakan," kata Purnomo, Kepala PT Angkasa Pura I Cabang A Yani, kemarin.

Pengelolaan Bandara A Yani tahun ini, lanjut dia, diperkirakan menelan biaya Rp 27 miliar, khususnya untuk perbaikan rutin.

Sebelumnya ia menyebutkan biaya yang harus ditanggung setiap tahun mencapai Rp 20 miliar, padahal pendapatannya hanya Rp 16,5 miliar sehingga masih merugi Rp 3,5 miliar.

Kendati angka penumpang yang ditargetkan Pemerintah Provinsi Jateng 4,5 juta/tahun, pihaknya pesimistis potensi Jateng akan mendukung.

Saat ini, kata dia, jumlah penumpang tiap tahun masih kurang dari 1 juta orang.

Berbeda dari Bandara Adisucipto Yogyakarta yang sudah laba dengan penumpang sekitar 2 juta orang.

"Maju atau tidak suatu bandara sebenarnya juga bergantung pada potensi daerahnya. Misalnya pariwisata, perdagangan, dan investasi. Kalau penumpang yang ingin ke Jateng banyak maka pendapatan bandara pun ikut naik. Cara mengatasi kerugian yang kami lakukan saat ini adalah menekan pengeluaran dan meningkatkan pendapatan," jelas Purnomo.

Sejak internasionalisasi bandara, menurut dia, jumlah penumpang internasional cukup bagus dengan tingkat kepadatan pesawat 70-80%.

Kendati status tersebut tidak terlalu berpengaruh pada penumpang domestik, jumlah mereka pun cukup tinggi. Frekuensi penerbangan yang potensial adalah Semarang-Jakarta yang tercatat 20 kali/hari.

Berbeda

Sementara itu menanggapi penilaian DPRD Jateng bahwa ketergantungan Bandara A Yani pada APBD masih tinggi tidak sebagaimana Bandara Polonia Medan yang sudah untung, dia mengatakan hal itu masih perlu dikaji.

Keberhasilan Polonia, tutur dia, lantaran Sumatra Utara hanya memiliki satu bandara. Berbeda dari Jateng yang mempunyai dua bandara internasional, yakni di Semarang dan Solo.

"Ditambah lokasi Bandara A Yani berdekatan dengan Bandara Adisucipto yang merupakan tujuan yang ramai disinggahi," jelasnya.

Kepala Dinas Perhubungan dan Telekomunikasi Jateng Abdul Rochim menambahkan pembangunan sarana dan prasarana, perpanjangan landasan, serta pembebasan tanah adalah kewajiban negara yang dikeluarkan melalui APBD atau APBN.

"Angkasa Pura dibentuk tahun 1989, sedangkan bandara sudah ada sebelum itu. Sebagai BUMN tugasnya hanya mengelola dan keuntungannya diserahkan kepada negara. Selain itu, mengkaji rencana induk dan membangun sarana darat, contohnya lahan parkir dan fasilitas terminal," tandasnya. (H12-27)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA