| Rabu, 15 Juni 2005 | BUDAYA |
Berproses lewat Pameran ''All for One''GAYA surealis terlihat masih mendapat tempat di hati para perupa (muda) Semarang. Paling tidak, pameran seni rupa bertajuk ''All for One'' yang digelar di Museum Ronggowarsito, Jl Abdulrahman Saleh Semarang, 13-15 Juni, menerakan keterpukauan yang kentara pada aliran tersebut. Ya, kegiatan para mahasiswa Jurusan Seni Rupa dan Desain FBS Unnes angkatan 2001-2002 itu (amat) didominasi oleh gaya surealis, selain karya becorak dekoratif, realis, ekspresionis, dan ada juga yang berbau kubis. Meskipun terselip karya yang secara teknis masih kedodoran, secara umum pameran itu memajang karya yang cukup menarik perhatian. Sekadar menyebut contoh, ''Noncomfortable'', lukisan berbahan mix media karya Arief Qurniawan, beberapa lukisan surealis karya Bambang W, ''Pertemuan Tanpa Perjanjian'' karya Candra, atau lukisan dekoratif ''Wayang Ithik-ithik'' karya Aji Jaenudin. Juga digital printing Arief Noviyanto ''Mental Fatique'', karsitektun (gabungan arsitektur dan kartun) karya Beny dan Widiarto, serta patung berbahan logam karya Nasay. Belum Layak Sayangnya, tidak terlihat jejak manajemen kuratorial yang bagus pada pameran gado-gado itu. Lihatlah, dalam pameran itu masih menyelip sejumlah karya yang mestinya tak layak untuk ditampilkan. Dengan seleksi yang lebih terkonsep, beberapa karya lukis atau juga karya lain mungkin akan tereliminasi sebelum pameran dibuka. Begitu juga, memajang foto arsitektur dan foto mejeng tanpa teknik serta pesan yang kuat, merupakan bentuk kekonyolan. Komentar bijak muncul dari pemerhati seni rupa Tubagus P Svarajati yang hadir dalam acara pembukaan. ''Jangan dilihat dari kemampuan teknis atau hasil karya mereka semata. Sebab, pameran ini merupakan bagian dari proses berkesenian yang mereka lakoni. Keberanian perupa-perupa muda Unnes untuk 'keluar kandang' merupakan sesuatu yang patut memperoleh apresiasi,'' katanya. (Achiar M Permana, Rukardi-43) |