logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 15 Juni 2005 BUDAYA
Line

Misteri Cinta di Jalur Busway

  • Film Ungu Violet

SIANG itu di Cilandak Town Square, Jakarta Selatan, kerumunan muda-mudi sibuk membicarakan sesuatu. Mereka datang dengan satu tujuan, hendak menyaksikan pemutaran perdana film terbaru yang dibintangi Dian Sastrowardoyo, Ungu Violet.

''Ungu Violet adalah sebuah identitas yang tercipta dalam perjalanan jiwa yang tidak bisa digambarkan, namun dapat dirasakan. Ini kisah perjalanan saya yang panjang yang menyadari telah merasakan pentingnya suatu hal ketika kita tahu besok kita akan kehilangan hal tersebut. Ungu mewakili rasa romantis, manis, mimpi dan misteri yang bergerak ke titik keindahan dalam keseimbangannya menjadi violet,'' ungkap Rako Prijanto saat peluncuran film perdananya sebagai sutradara di Jakarta, belum lama ini.

Sebelumnya, Rako terlibat sebagai kru dalam pembuatan film Bintang Jatuh dan Tragedy.

Selain Dian Sastro, yang berperan sebagai Kalin, Rako memasang bintang pendatang baru Rizky Hanggono sebagai Lando, Agastya Kando (Rudi), Rima Melati (eyang), Garry Iskak (Riza), model Syarifah Zifa dan Katinka. Film berdurasi 115 menit yang dibuat berdasarkan skenario karya Jujur Prananto itu akan diputar di bioskop mulai 23 Juni 2005.

Drama romantik ini memang sebuah kisah menyentuh yang mampu meninggalkan kesan mendalam di hati penonton. Kisah berawal dari sosok Lando, seorang fotografer muda yang bekerja di sebuah penerbitan majalah.

Lando tidak menyangka jika dalam sebuah foto yang dijepretnya saat seorang pencopet beraksi di sebuah bus terselip seraut wajah cantik. Sebelumnya, dia frustasi karena ditugaskan bosnya untuk mencari seorang gadis sampul untuk majalahnya.

Ia lalu teringat dengan seorang petugas penjualan tiket busway yang wajahnya sangat mirip dengan wajah di foto itu. ''Benar, tidak salah lagi,'' katanya dalam hati.

Halte Bus

Maka, disusunlah rencana untuk berkenalan dengan gadis jelita asal Bandung yang kemudian diketahuinya bernama Kalin. Gadis itu tidak menyangka malam itu akan berkenalan dengan seorang laki-laki. Singkatnya, Lando berkenalan dengan Kalin di sebuah halte, dan dia mengutarakan niatnya untuk menjadikan Kalin sebagai model untuk sampul majalahnya.

Dia memberikan sebuah amplop cokelat yang berisi foto-foto Kalin hasil jepretannya. Kalin tersentak, tidak menyadari bahwa seorang laki-laki telah mengambil gambarnya secara diam-diam.

Kalin lalu mendatangi Lando dan menyatakan bersedia dipotret. Dia sangat berterima kasih karena fotonya muncul di majalah itu. Mereka lalu menjadi dekat. Perasaan mereka berkembang sampai suatu hari saat Lando mencium Kalin, tiba-tiba saja dia meninggalkannya tanpa alasan yang jelas. Kalin marah dan merasa terhina.

Seperti roda berputar, kehidupan Kalin berubah menjadi seorang supermodel. Sedangkan Lando terpuruk dan dipecat dari kantornya. Namun, dia tidak dapat menghapus bayangan Kalin dari benaknya.

Sejumlah pertanyaan menggelayut seusai menonton film ini, antara lain karena terlalu banyak titipan sponsor. Titipan sponsor muncul dalam paling sedikit tujuh shot.

Cindy Christina selaku produser menyatakan pihaknya tidak bermaksud membuat film yang diselipi banyak iklan. ''Karena itu, kami memutuskan memasang iklan yang tidak hard selling seperti yang terpampang pada shot di sebuah halte bus,'' katanya. (Ali Imron Hamid-43)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA