| Rabu, 15 Juni 2005 | BANYUMAS |
Penelitian Harus Berdaya JualPURWOKERTO-Ketua Forum Komunikasi Bioteknologi Purwokerto Rubiyanto Misman menyatakan banyak penelitian oleh akademisi dan pusat penelitian belum menjawab kebutuhan pasar industri. Sebab, kurang terfokus dan sekadar untuk keperluan ilmiah. ''Penelitian bioteknologi sangat banyak. Namun belum terfokus ke keunggulan lokal yang berdaya jual dan berdaya tarik bagi kalangan industri,'' ujarnya, kemarin. Rektor Unsoed itu menyatakan saat ini banyak kalangan industri dan lembaga nonpemerintah membutuhkan penelitian bioteknologi. Hal itu untuk menunjang usaha dan rencana perluasan usaha. ''Banyumas, misalnya, punya produk unggulan gula kelapa dan pertanian kedelai dan padi. Semestinya ada penelitian bagaimana produk itu bisa diterima industri dan dijadikan produk unggulan.'' Karena itu, kata dia, salah satu upaya yang akan dilakukan Forkom Biotek di tingkat nasional adalah audensi dengan Kamar Dagang Indeonesia (Kadin). Acara itu akan difasilitasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan sejumlah perguruan tinggi seperti ITB (koordinator), IPB, UGM, UI, dan Unsoed yang masuk dalam forum tersebut. Forkom Biotek juga akan mendesak pemerintah untuk memproteksi agar berbagai penelitian asing tak masuk ke Indonesia. Juga mengupayakan hasil karya penelitian akademisi dalam negeri memperoleh hak paten berupa hak atas karya intelektual. ''Kami berharap Kadin bisa menjembatani kebutuhan-kebutuhan penelitian yang diharapkan kalangan dunia industri. Itu juga akan ditindaklanjuti ke daerah-daerah.'' Di Purwokerto, kata dia, sebenarnya banyak dosen, mahasiswa, dan peneliti berkemampuan tinggi. Cuma sebagian belum bisa menemukan cara tepat agar hasil penelitiaan mereka tak sekadar untuk kepentingan ilmiah. Namun bisa dikaryakan untuk kepentingan masyarakat secara langsung melalui dunia industri. ''Kalangan industri juga senang jika produk yang dipasarkan atau dibuat itu hasil dari penelitian ilmiah.'' (G22-53) |