| Rabu, 15 Juni 2005 | BANYUMAS |
Reparasi Mesin Tik untuk Kuliahkan Anak''WAH, pasti eskapemennya rusak,'' gumam Tri Bawono. Begitulah, baru semenit mengutak-atik dia segera mengetahui apa penyebab kerusakan mesin tik merek Royal buatan tahun 1990 di hadapannya itu. Lelaki kelahiran 19 September 1944 itu sudah sekitar 20 tahun menjadi tukang reparasi mesin tik. Dia selalu menyandang tas berisi obeng, kunci pas, tang, dan onderdil cadangan berbagai jenis mesin tik. Tak lupa dia membawa jerigen berisi minyak pelumas dan bensin untuk membersihkan onderdil mesin tik yang cukup rumit. Pada masa serbakomputer sekarang ini, bapak tujuh anak itu harus bekerja lebih keras. Sebab, tak banyak orang atau dinas dan kantor pemerintah yang masih menggunakan mesin tik. Tak jarang dia harus berkeliling hingga ke berbagai kecamatan terpencil untuk menawarkan jasa. ''Dulu, saat komputer belum sebanyak sekarang, saya sering ke Purbalingga dan Wonosobo. Namun sekarang harus berpikir dulu. Belum tentu setelah sampai di sana ada yang bisa saya kerjakan. Padahal, saya sudah mengeluarkan ongkos,'' tuturnya. Dia menuturkan memperoleh keahlian mereparasi mesin tik saat bekerja di PT Asaba. Itu perusahaan perakitan mesin tik di bilangan Jalan Juanda, Jakarta Pusat. Dia bekerja di perusahaan itu pada 1972 sampai 1980. Semula bekerja sebagai pesuruh. Karena rasa ingin tahu yang besar dia berpindah-pindah bagian hingga akhirnya menguasai semua bagian perakitan mesin tik. Karena bereputasi bagus, dia menjadi langganan berbagai dinas dan isntansi di Banjarnegara. Beberapa bank perkreditan di berbagai kecamatan pun masih selalu membutuhkan jasanya. Dia mematok ongkos memperbaiki satu unit mesin tik Rp 40.000. Itu belum termasuk ganti onderdil. Saat ini sebulan dia bisa mereparasi antara 10 dan 15 unit. Namun itu pun, kata dia, sangat sedikit jika dibandingkan dengan empat-lima tahun lalu. ''Alhamdulillah, melalui pekerjaan ini saya bisa menyekolahkan anak hingga selesai kuliah D3 ekonomi dan S1 Unpad. Saat ini mereka bekerja di Surabaya dan Abu Dhabi. Yang lain bekerja di Bandung. Namun ada pula yang masih sekolah di SD,'' tutur dia. Senang Hati Dia menuturkan sehari tidak selalu memperoleh panggilan memperbaiki mesin tik. Saat seperti itu biasanya dia berkeliling menjual pakaian. Hasilnya lumayan untuk menutupi kekurangan kala sepi panggilan. Pekerjaan itu bukan tanpa saingan. Setidaknya ada delapan pesaing dari Banjarnegara. Bahkan terkadang ada pula yang datang dari Semarang dan Purwokerto. Namun dia menyatakan memakai kiat jitu, yakni memiliki nomor pokok wajib pajak (NPWP). Jadi para pelanggan gampang percaya dan tetap memercayainya. Selain itu, warga Kelurahan Parakancanggah, Banjarnegara, tersebut juga memasang telepon sehingga mempermudah panggilan dari pelanggan. ''Saya menganggap pekerjaan ini sebagai hobi, sehingga saya jalani dengan senang hati.'' (M Syarif SW-53) |