| Senin, 13 Juni 2005 | SALA |
Sri Lestari Terancam Busung LaparSRI LESTARI hanya bisa bengong ketika rombongan wartawan dan seorang bidan Puskesmas Boyolali mendatangi rumahnya. Bayi berusia tiga tahun putri bungsu Sarjono (43), warga Dukuh Lodalang, Kelurahan Siswodipuran, Kecamatan Boyolali itu tak bisa berjalan dan bicara. Sehari-harinya putri bungsu dari tiga bersaudara tersebut hanya dalam gendongan orang tuanya. ''Saya hanya pasrah, karena tidak mempunyai biaya untuk pergi dokter. Dalam sehari-hari anak ini harus digendong, karena belum bisa berjalan,'' kata Sarjono, sembari menahan air mata. Sri Lestari merupakan potret atau gambaran seorang bayi yang tidak bisa tumbuh dengan normal. Dalam usia tiga tahun berat badannya hanya 8,9 kg dan belum pernah mempunyai berat bada yang ideal. Sejak lahir hingga usia tiga tahun, berat badannya cenderung menurun. Dia merupakan bayi yang dikategorikan berada di bawah garis merah (BGM). Menurut Sarjono, sejak lahir anak bungsunya itu memang kurang normal. Sebagai buruh bangunan, dia mengaku tidak mampu memberikan makanan layaknya untuk seorang bayi. Bahkan, kadang pulang dari kerja tidak membawa uang atau makanan untuk bayinya. Dalam usia tiga tahun, berat badan Sri kurang dari ideal, sehingga terlihat kurus. Padahal di usia itu berat yang ideal sekitar 10 kg. ''Tetapi bagaimana lagi, itulah kenyataan yang saya hadapi sekarang ini,'' ujarnya. Kurang Mampu Nasib serupa juga dialami Puspita Sari yang berusia sembilan bulan. Putri pasangan Sumarto (30) dan Mujiati (25), warga Dukuh Sri Mulyo, Kelurahan Karanggeneng, Kecamatan Boyolali, itu hanya mempunyai berat badan 6,1 kg. Dalam waktu yang relatif singkat, berat badan bayi tersebut turun dari 7,1 kg menjadi 6,1 kg. Menurut ibunya, Mujiati, sejak beberapa minggu terakhir ini anak bungsunya memang kurang sehat. Badannya agak panas dan terkena flu. Selain itu, bayinya hanya diberi makanan seadanya. Dia mengaku tidak bisa memberi makanan yang ideal untuk bayinya. ''Bagaimana saya bisa memberi makanan yang ideal, kalau suami saya hanya tukang batu,'' keluhnya. Berdasarkan hasil pemeriksaan di Puskesmas Boyolali, kedua bayi itu dinyatakan BGM. Dengan demikian kedua bayi tersebut terancam busung lapar. Dalam jangka waktu tertentu, busung lapar akan menjadi kenyataan. Di Kecamatan Boyolali, bayi yang dinyatakan terancam busung lapar atau berada di bawah garis merah paling tidak 11 kasus. Kepala Puskesmas II Boyolali, dokter Lesmono mengatakan, penurunan berat badan yang cukup drastis atau yang dialami Puspita Sari pasti ada penyebabnya. Dengan kata lain, pasti dia menderita sakit yang memengaruhi berat badannya menurun. Dalam ukuran normal, berat badan bayi itu seharusnya di atas 7,1 kg. Adapun yang dialami Sri Lestari adalah kelainan pada otak, sehingga dalam kondisi yang kurang normal akan memengaruhi pertumbuhannya. Lebih-lebih bila makanan yang diberikan kurang bergizi, akan berdampak besar sekali. Kedua bayi itu memang telah disimpulkan berada di bawah garis merah. Karena itu harus segera ditangani, agar tidak sampai menjadi busung lapar. ''Kami sudah menangani, dan kini dalam pengawasan itensif,'' (Suti Harjoyo-16s) |